Selasa, 01 Maret 2022

Kamu, berani jadi TKI?

Pulang dari merantau selama belasan tahun, semua yang dulu pernah ditinggalkan telah berubah. Kampung halaman, sahabat dan saudara bahkan kekasih hati (Hihi...)  termasuk kondisi kehidupan yang saya dan keluarga jalani.

Sukanagara yang dulu masih kerap diselimuti kabut setiap paginya, hingga saya kadang tidak sanggup mandi kecuali menggunakan air hangat mulai menghangat dan sedikit berpolusi.

Pantas, banyak lahan kosong yang sudah disulap menjadi hamparan beton. Air sungai yang dulu jernih banyak ikan lokal seperti benteur, belut, lele dan bogo sudah berganti menjadi sarang sampah yang tidak mudah terurai.

Perkebunan teh yang dulu dikelola PTPN VIII Nusantara telah berganti kepemimpinan jadi milik swasta, tidak heran banyak kebijakan yang dibuat lebih condong ke kepentingan dan keuntungan pribadi. Sebagian pabrik malah telah hilang tidak berbekas karena bangkrut dan dijual.

Tapi saya senang saat pulang ibu saya sudah sedikit lebih gemuk, sehat dan berpakaian pantas. Tidak sia-sia saya banting tulang menjadikan kaki jadi kepala dan kepala dibuat kaki demi merubah kehidupan sehari-hari di rumah supaya bisa hidup lebih layak.

Adik saya yang dulu sering lembur demi bisa mendapatkan penghasilan lebih kini telah berkeluarga dan hidup berkecukupan dengan counter yang dikelolanya di pasar kecamatan.

Teman sepermainan dan satu angkatan banyak yang sudah menikah, memiliki beberapa anak, dan bahkan ada yang sudah menjanda lagi. Yang telah meninggal dunia pun ada beberapa orang.

Hanya pas ketemu teman lama yang pernah saling curhat tentang kehidupan setelah lulus sekolah dulu, rupanya kondisi kehidupannya tidak begitu lebih baik (tapi bukan berarti tidak bahagia ya, soalnya masalah kebahagiaan kan tidak bisa dinilai orang lain). Padahal dulu itu saya dan dia memiliki komitmen dan perencanaan yang sama.

Kami lulus sekolah saat negara dalam kondisi krisis ekonomi. Lengsernya Presiden Soeharto dibarengi dengan berbagai kerusuhan dan penjarahan. Kacau banget rasanya saat itu.

Mau kerja gak bisa, orang yang pada kerja aja malah di-PHK. Mau lanjut sekolah deuh, biaya dari mana buat makan saja kesulitan. Apalagi saya dan ibu serta adik, sama sekali tidak punya usaha. Yang ada justru kami punya utang yang harus segera dilunasi.

Akhirnya saya memilih mendaftar ke perusahaan pengiriman tenaga kerja. Ya, saya nekat kerja memilih jadi TKW merantau ke negeri orang. Sementara teman saya yang awalnya bilang mau bersama-sama memilih mundur. Ia tidak berani membayangkan hidup di rantau jauh dari keluarga. Belum pemberitaan di media yang selalu menceritakan kalau nasib TKW sangat memprihatinkan. Bahkan tidak sedikit yang meninggal.

Padahal, ibu serta paman saya pun sempat melarang. Mereka bilang ga apa kerja seadanya saja di daerah sendiri sekiranya saya tidak bisa mengambil keputusan.

Tapi saya keukeuh mau kerja ke luar negeri saja. Saya mikirnya untuk jangka panjang. Saya tidak ingin kehidupan saya yang sangat kekurangan tetap di tempat, bahkan tidak ada peningkatan. Tanggung bisa bekerja kalau bisa kenapa tidak sekalian saja.

Apakah saya tidak takut? Oh jelas rasa takut itu ada. Hanya saya mencoba membunuhnya. Menggantikan nya dengan harapan kelak kalau saya bisa kerja ke luar negeri saya bisa mendapat gaji lebih besar dan bisa membantu perekonomian keluarga. Sound seem perfect, right?

Yah mungkin itu sedikit kelebihan keberanian saya yang tak dimiliki teman saya. Upaya yang lebih effort dari pencapaian orang lain yang tak mengalami kesulitan seperti yang saya hadapi. Kalau saya mengikuti kata hati, sepertinya mungkin saya tidak akan jadi saya seperti yang seperti sekarang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar