Saat buibu udah pada resah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, Alhamdulillah saya masih bisa bertahan dengan stok yang ada di rumah.
Berita dimana-mana menyebutkan kalau harga cabai dan minyak goreng, memasuki seminggu tahun baru 2022 ini, terpantau naik naik terus ya. Selama itu setiap ke pasar kebetulan saya belum lagi membeli minyak dan cabai.
Terakhir beli cabai rawit setan (ada juga yang bilang rawit jablay) bulan Desember, saat harga masih sekitar tiga puluh ribu per kg. Saya beli setengah kilo saat itu. Sampai sekarang masih ada. Wong kalau mau nyambal paling banyak ambil lima biji. Malah tahu harganya naik sampai ada yang mencapai 200 ribu per kg, makin ngirit saya pakainya. Haha... Tanaman cabe di pekarangan pun makin disayang-sayang. Lumayan bisa mengganjal stok dapur.Kalau minyak goreng, sejak November lalu saya memang belum beli lagi minyak goreng, bukan gak butuh, tapi kebetulan aja masih ada tiga bungkus lagi alias enam liter stok di rumah.
Bukan menimbun, tapi itu minyak satu bungkus (isi 2 liter) saya beli sendiri saat harga masih sekitar 22 ribu, dan dua bungkus lagi itu sebagai pesangon suami yang di-PHK dari koperasi yang udah belasan tahun ia ikuti.
Jadi ceritanya awal Desember tahun 2021 (ini rutin setiap akhir tahun) semua anggota koperasi di kampung kami selalu mengadakan rapat anggota. Pada saat itu selalu dibagikan sisa hasil usaha alias keuntungan yang didapat koperasi. Namun saya ingat karena saat itu suami lagi ada keperluan sehingga ia absen tidak ikut rapat. Si Akang selaku salah satu petugas juga menyayangkan, sedikit memaksa supaya bisa ikut acara rapat tahunan. Tapi suami juga udah terlanjur menyanggupi dengan urusan pekerjannya.
Sore harinya, Si Akang datang membawa sisa hasil usaha, sekaligus kabar kurang menyenangkan karena ternyata suami mendapatkan pemecatan sepihak alias dikeluarkan dari keanggotaan koperasinya. Alasannya sih karena sudah beberapa kali tidak ikut rapat, juga tidak pernah meminjam ke koperasi. Kalau setoran wajib, setiap bulan tidak pernah absen.
Tanpa banyak basa-basi kami menerima semua konsekuensi itu. Uang simpanan selama empat tahun dibalikin plus sisa hasil usaha tahun 2021 yang dibagikan dalam bentuk barang berupa ikan kaleng, kurma, detergen dan empat liter minyak goreng kemasan.
Alhamdulillah meski merasa tidak masuk akal dengan alasan pemecatan sepihak yang disampaikan, kami bisa menerimanya. Suami yakin pasti ada hikmah yang paling baik buatnya dibalik pemecatan keanggotaan koperasinya sepihak ini.
Pun saat masyarakat diberitakan resah karena kenaikan harga minyak goreng kami masih belum merasakan kecipratan dampaknya. Tiga bungkus berisi enam liter minyak goreng pun makin saya perhemat penggunaannya.
Ada seorang ibu politikus yang ngomong katanya dirinya merasa aneh, di negara kita yang bisa dibilang pabriknya kelapa sawit, kok bisa harga minyak goreng ini melangit?
Haduh kalau ibu pejabat saja heran, apalagi kita ibu rumah tangga yang kerjanya dasteran dan rebahan ya...
Mengutip dari situs resmi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), Jumat (7/1/2022), harga minyak goreng curah per 6 Januari 2022 dibanderol Rp 18.600 per kilogram. Di tempat saya malah udah lebih dari dua puluh ribu per kg nya. Naik banyak pastinya kalau dibandingkan harga sebelumnya.
Penyebab kenaikan harga minyak goreng antara lain karena terjadinya peningkatan harga CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah di pasar internasional.
Informasi Senin, 3 Januari 2022, harga CPO di pasar internasional mencapai 1.305 dolar AS (Rp18 juta 652 ribu) per ton atau naik 27,17 persen dari awal 2021 lalu.
Tidak bisa dipungkiri, kalau pandemi Covid-19 jadi salah satu penyebab utama harga minyak goreng terus merangkak naik.
Meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil terbesar, namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO.
Kabar terbaru yang saya simak itu bapak menteri BUMN Erick, Sabtu, 8 Januari 2022 malah bilang kalau perusahaan plat merah bakal bikin minyak goreng murah dengan harga sekitar 14 ribuan per liternya.
Anak usaha holding perkebunan, PT Industri Nabati Lestari, tengah mengembangkan turunan crude palm oil dengan salah satu produknya adalah minyak goreng kemasan ekonomis. Pemerintah akan berupaya dalam penyediaan 1,2 miliar liter minyak goreng kemasan bersubsidi. Rencana kemasan minyak goreng tersedia dalam 450 ml dan 900 ml.
Meski untuk sementara minyak goreng subsidi itu akan beredar wilayah Medan dan Sumut dulu, tapi semangat saja semoga secepatnya bisa dijangkau oleh masyarakat Indonesia dimanapun berada di wilayah Nusantara ini.
Pemerintah akan menyiapkan anggaran untuk mensubsidi selisih harga minyak goreng kemasan sederhana hingga enam bulan ke depan. Semoga saja pas stok minyak goreng di rumah hasil pesangon PHK suami habis, pas kita di Jawa ini udah bisa beli minyak goreng kemasan sederhana milik pemerintah tersebut. Jadi meski harga minyak goreng mencuat, gak harus gali lobang tutup lobang juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar