Makin panik ketika mendengar suara lelaki ketika suami sudah membukakan pintu. Sementara jilbab belum juga saya temukan. Ah ternyata ada di sandaran kursi makan. Saya pun menyambarnya dan segera memakainya di dapur.
“Boleh saya lihat gas dan kompornya, Pak?” suara si tamu lelaki terdengar dan diiyakan oleh suami. Wah bakalan masuk tuh tamu, segera saya keluar dari dapur. Berharap jilbab terpasang dengan baik.
Benar saja, lelaki asing berbaju kemeja biru datang diiringi suami. Saya hanya mundur, masih bingung ini mau ngapain lihat gas dan kompor. Apa dia petugas yang mau sidak? Tapi gak terdengar ia memperkenalkan diri. Di pakaiannya pun tidak ada semacam identitas.
[caption id="attachment_11648" align="aligncenter" width="300"]“Wah lagi masak ya, Bu? Maaf saya ganggu dulu ya.” Katanya ramah. Melihat di atas kompor masih ada wajan berisi manisan belimbing setengah matang.
“Iya ga apa, Pak” jawab saya sambil melirik ke suami.
“Siapa dan mau apa?” mulut saya berucap tanpa suara. Suami hanya menggeleng. Aneh memang, suka jadi kebiasaan suami tuh kalau apa-apa tidak pernah tanya-tanya dulu siapa dan maksudnya apa, main mempersilahkan masuk saja. Saya mulai gak enak pikiran.
Apa suami melapor kepada pihak penjual gas? Lalu datang orang ini mau memeriksa? Secara kemarin memang gas elpiji yang mau kami pakai bocor. Padahal masih baru. Mau kami pasang eh malah keluar bunyi ceossss... Disertai asap putih. Langsung gas nya kami bawa ke luar. Sampai 24 jam lebih disimpan di luar gas elpiji itu masih mengeluarkan suara mendesis tandanya masih ada gas yang keluar. Tapi kalau mau memeriksa soal itu kenapa tidak di luar saja, kan gas nya juga masih di luar?
“Ini usia kompornya udah berapa tahun Bu?” tanya lelaki itu sambil menyalakan api kompor. Warna biru pun langsung menyembur.
“Ada sepuluh tahun,” seingat saya beli kompor itu pas beberapa bulan setelah menikah. Sekarang tahun 2022. “Ya sepuluh tahun...” yakin saya.
“Masa? Beneran sudah 10 tahun? Tapi bagus ya. Ini kompornya hebat, nih!” katanya. Saya dan suami masih diam. Masih kebingungan tepatnya. Ini orang maksudnya mau apa?
“Yang suka pasang gas siapa? Ibu? Bapak?” tanyanya sambil menghadap saya, lalu beralih ke suami.
“Ya kalau saya bisa saya pasang. Kalau tidak nyala, nunggu suami pulang aja,” jelas saya.
“Kalau setelah masak gasnya suka dicabuti gak?”
Saya menggeleng. Emang gak pernah dibuka. Ribet lah. Iya kalau dicopot terus dipasang langsung bisa nyala lagi, kalau tidak?
Lelaki itu menjelaskan sebaiknya kalau sudah masak gas dilepas dari regulatornya. Kami iya iya saja. Lalu ia memperlihatkan tanda dalam tabung gas, tanggal dan tahun. Katanya jangan mau menerima gas kalau tahun yang tertera kadaluwarsa. Sekarang tahun 2022 jadi minimal angka yang tertera pada gas yang akan kita pakai harus 2022. Saya dan suami kembali mengangguk.
[caption id="attachment_11650" align="aligncenter" width="300"]Masih banyak penjelasan yang disampaikan terkait keamanan gas, regulator, kompor dan keamanan di dapur. Saya dan suami iya-iya aja. Mulai kurang antusias karena saya pikir ini modus penjualan alat-alat.
Saya suruh Fahmi ambilkan ponsel dan merekam lelaki itu. Jaga-jaga untuk hal tidak diinginkan. Lelaki itu pun tahu dirinya difoto dan direkam.
“Silakan lanjutan memasaknya, Bu...” katanya mengagetkan saya yang sedikit malaweung karena pikiran sedang kemana-mana.
“Sana ikuti,” bisik saya ke suami yang lebih banyak diam saja. “Tanya kek maksudnya ini apa?” desak saya. Suami tetap diam saja. Haduh...
Terdengar di depan mereka ngobrol lagi. Tamu itu bertanya siapa lagi yang bekerja sebagai pengajar, adakah yang sudah pensiun di sekitar tempat tinggal kami? Dan obrolan lain.
Suami menjawab sedapatnya. Dan setelah tamu itu pamitan lalu pergi kami hanya saling diam, masih kebingungan. Dia bukan sales promosi yang mau menjual produk? Jadi maksudnya datang ke dapur ngecek gas dan kompor gitu saja, buat apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar