Demi menghidupi keluarga, demi mengejar cita-cita, bahkan demi bisa membayar hutang, jadi TKI (yang sekarang pemerintah mengganti istilahnya dengan PMI alias Pekerja Migran Indonesia) di negeri seberang alias jadi kuli di negara orang pun dijalani oleh pribadi-pribadi pemberani dan terpilih.
Kenapa saya bilang mereka yang jadi PMI itu orang terpilih dan pemberani? Karena tidak semua orang berani (baca nekat) mau bekerja ke luar negeri dengan segala resiko. Tahu sendiri risiko jadi PMI seperti apa kan?
Bagi TKW bisa saja mendapatkan pelecehan seksual, jadi objek perdagangan orang (trafficking), gaji tidak dibayar, penyiksaan, dan tidak sedikit yang kena kasus atau pulang tinggal nama.
Bagi para ABK (yang mayoritas laki-laki) pun punya risiko tidak jauh beda, kekerasan, jam kerja di luar batas kemanusiaan, sampai perlakuan tidak layak hingga meninggal jasadnya banyak yang dilarung di lautan lepas. Apa dengan semua risiko itu banyak orang yang sanggup?
Belum saat dihantui perasaan tidak betah, rindu keluarga, kangen kampung halaman, dan perasaan serta ketakutan lainnya.
Hanya orang-orang pemberani yang siap dengan semua risiko tersebut. Disamping banyak pula para PMI yang akhirnya sukses dan berprestasi, ya...
Yang pasti untuk jadi PMI itu diperlukan mental baja dan semangat yang tinggi. Kehidupan keras dan disiplin di luar negeri jelas jauh beda dibanding dengan kehidupan yang santai, mangan ora mangan asal kumpul, di kampung kita. Semua itu diperlukan keberanian dan pengorbanan. Berani alias nekat saja pun belum tentu bisa lolos kerja ke luar negeri, karena selain punya kemauan dan jiwa nekat, harus memenuhi syarat seperti sehat ketika medical check up, punya visa bagi negara tujuan tertentu, bisa bahasa setempat, punya keterampilan dan syarat lainnya. Dan jujur saja, semua itu perlu perjuangan lho untuk mendapatkannya. Para PMI terpaksa jauh dari keluarga, dengan segala risiko hingga bertahun-tahun, bahkan yang sudah finished contract pun nambah lagi, demi bisa bekerja dan mendapatkan penghidupan yang layak. Kerinduan hanya bisa ditahan. Sekarang mending bisa video call meski dengan keluarga di pelosok sekalipun. Jaman saya boro-boro telepon, sinyal saja belum ada. Silaturahmi masih pakai surat dan kalau mau telepon, numpang ke tetangga yang kaya dan punya telepon rumah.Maka tidak heran ketika tiba saatnya pulang kampung, terlepas sukses atau tidak jadi PMI nya, bahagianya tidak terkira bisa jumpa dengan keluarga tercinta.
Dulu saya pikir yang punya rasa rindu terhadap keluarga di kampung hanya kaum perempuan saja. Hehe, soalnya para lelakinya mereka tidak pernah sedikitpun memperlihatkan kerinduan ke keluarga kalau pas liburan dan kami sedang kumpulan. Yakali, para lelaki sebenarnya punya rasa kangen juga, cuma mereka begitu rapi menyimpannya rapat-rapat. Kalau perempuan kan, dikit dikit curhat, nulis surat, nelepon, nangis, etc. Lelaki gak sedemikian itu (pada umumnya).
Tapi perkiraan saya ternyata melenceng. Beberapa hari lalu teman pekerja migran saya di Taiwan pulang ke Bogor, setelah sekian tahun menghabiskan masa kontrak kerjanya di negara Formosa. Teman saya ini laki-laki.
Setelah merantau selama itu, tibalah kesempatan untuk pulang ke kampung halaman, menemui keluarga yang dikasihi. Anak semata wayang yang dulu ditinggalkan masih berusia 2 tahun dan sedang lucu-lucunya, kini sudah makin besar dan lincah bermain.
Tapi saat teman saya sampai rumah, ternyata anaknya malah tidak ada di tempat. Anaknya katanya tengah bermain bola di lapangan kampung.
Tak bisa lama-lama membendung kerinduan, teman saya yang baru tiba setelah sekian lama menahan kangen karena harus karantina covid-19 lebih dulu di kota pun langsung menyusul sang anak ke lapangan bola.
Setengah berlari, teman saya menyeruak ke tengah permainan, ikut beemain bola dan saat ada kesempatan, ia menendang bola ke gawang yang dijaga anaknya.
Sang anak sadar siapa sosok yang menendang bola, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Yang selama ini sering telepon, sering video call. Keduanya pun berlari saling mendekat, saling memeluk melepas rindu, hingga tangis pun pecah di tengah lapangan. Peristiwa menyentuh hati itu auto bikin mata saya mrebes mili.Ah, ternyata para lelaki punya kerinduan yang sama terhadap keluarga, terhadap orang yang dicintainya. Hanya mungkin lelaki lebih bisa menyimpannya.
Sekian tahun berpisah jarak Indonesia-Taiwan karena jadi PMI, akhirnya rindu terlepaskan, bahagia bisa kembali memeluk orang yang disayang.
Kejadian di lapangan bola yang mengharukan antara ayah dan anak itu bikin yang melihat merasa sedih dan terharu melihatnya. Saya kira tidak hanya para perempuan yang kecipratan bawang (ikut menangis, maksudnya) tapi para lelaki juga. Eh, enggak ada ya?
Wajar saja sih genangan hangat tiba-tiba muncul di pelupuk mata kita, saat melihat adegan haru ayah dan anak di lapangan bola kampung itu, saya rasa semua orang bisa memahami bagaimana besarnya kerinduan yang bikin tangis ayah-anak itu pecah seketika.
Jangankan berpisah selama bertahun-tahun beda negara, ngekos semingguan saja di kota, pas pulang kampung langsung auto nangis kan pas masuk rumah. Itu sih kata pengakuan seorang anak mamah... Wekekek...
Semoga teman-teman pekerja migran lainnya yang masih berjuang menyelesaikan kontrak, meraih cita-cita, diberikan kekuatan dan kesehatan. Sehingga saat-saat membahagiakan pulang dan bertemu orang tercinta nanti jadi peristiwa yang sangat dinantikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar