Minggu, 15 Desember 2019

Soe Hok Gie: Pahlawan Gunung Pecinta Alam

Mengenang Pahlawan Gunung Pecinta Alam yang Pergi 16 Desember

 

Tidak banyak yang mengenal “Sang Pemberontak” Soe Hok Gie. Apakah kamu juga salah satunya? Hehehe... Gak salah kalau justru baru denger nama itu di artikel ini. Secara Soe Hok Gie emang sudah tiada dan bukan pula pahlawan nasional. Pantas tidak pernah banyak diberitakan, apalagi (mungkin) dikenal.

Hari ini 16 Desember, adalah hari dimana Soe Hok Gie pergi untuk selama-lamanya, sehari sebelum hari ulang tahunnya tiba. Soe Hok Gie lahir di Jakarta 17 Desember 1942. Kalau baca di Wikipedia, Soe Hok Gie yang aktivis Indonesia Tionghoa ini terkenal menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Itu yang membuat “Sang Pemberontak” tersemat pada namanya.

Mungkin, hanya generasi jaman dulu, atau generasi milenial yang punya (mengaku) hobi pecinta alam, yang mengenal Soe Hok Gie meski itu hanya berupa cerita, kisah yang diulas para instruktur, atau artikel sepotong-sepotong. Karena Soe Hok Gie memang identik dengan gunung dan para pendaki.

Lalu kenapa mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969 ini banyak dikenal di kalangan para pendaki?

Hal ini yang saya ceritakan secara garis besar kepada Fahmi, putra saya. Soe Hok Gie meningal hari ini, 16 Desember pada tahun 1969 di Gunung Semeru. Jasadnya kemudian dimakamkan di Museum Taman Prasasti, Jakarta.

Tidak heran kalau sosok Soe Hok Gie meski sudah tiada, namun semangatnya masih tetap terasa di setiap langkah kaki para pendaki, para pecinta alam. Karena mahasiswa yang kerap memberikan kritik pada pemerintahan di masa lalu ini meninggal di Puncak Semeru sehari sebelum ulang tahunnya ke-27 tahun, karena menghirup gas beracun. Saat itu Soe Hoek Gie mencoba mencari jalan untuk melampiaskan semua kegelisahan menghadapi kemunafikan dan hipokrisi pemerintah.

“Bu... jadi kenapa pendaki menjadikan Soe Hok Gie pahlawan?” tanya Fahmi.

Pertanyaan yang percis saya ajukan kepada Kang Ardeshir, beberapa tahun lalu, saat saya masih belajar bersama Imosa Atma Persada (Indonesian Mountain Specialist) di Bandung.

Soe Hok Gie memiliki peranan penting dalam sejarah Pencinta Alam di Indonesia, sebab dialah orang pertama di Indonesia yang menggunakan istilah “Pencinta Alam”. Yaitu frase yang menggambarkan kepada yang suka mendaki gunung dan menyusuri alam bebas. Sejenis dengan istilah Aktifis Lingkungan atau Penggiat Alam Bebas.

Soe Hok Gie orang yang membentuk komunitas kampus bernama Mapala UI, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia hingga akhirnya dikenal dan diterapkan di berbagai kampus dan universitas di Indonesia sampai sekarang.

Soe Hok Gie sosok yang menuntun para mahasiswa mengenal keindahan gunung, karena semasa hidupnya ia dikenal sebagai pemuda yang sangat mencintai Indonesia dengan caranya sendiri yakni dengan cara mengenal alam dan masyarakatnya secara langsung.

Itu yang dijelaskan Kang Ardeshir kepada kami, para pendaki pemula di Ranca Upas Bandung Selatan. Kurang lebih itu pula yang saya kembali sampaikan kepada Fahmi, putra saya.

https://www.instagram.com/p/0028p4nMtf/?igshid=6xc3oppj9iyn

Nama Soe Hok Gie biasanya selalu jadi nama pertama yang akan disebut oleh pendaki jika ditanya soal “Siapa sosok pahlawan pendaki?” kecuali para pendaki nya memang belum mengenal sosok itu. Tapi jika menjadi pendaki “secara benar” dalam arti melalui tahapan tertentu sesuai prosedur seperti masuk pendidikan dasar, pelatihan, tidak mungkin tidak mengenal sosok Soe Hok Gie karena tokoh  “Sang Pemberontak” ini selalu disampaikan sebagai ilmu pengantar alias pengenalan dasar pendidikan pecinta alam.

Dalam buku yang sudah lima tahun saya miliki tetapi tidak bosan untuk selalu membacanya, dituliskan kalau “Bagi Gie gunung bukan sekedar pelepas stres. Tapi, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Di tempat yang jauh dari semua fasilitas dan penuh kesulitan orang yang mengalami ujian, apakah dia selfish (orang yang hanya pikirkan dirinya sendiri) atau orang yang mau memikirkan orang lain,” tulis Stanley dalam penutup buku kumpulan tulisan Soe Hok Gie, Zaman Peralihan.

Soe Hok Gie memang bukan pahlawan nasional. Para pencinta alam pun tidak wajib mengenali nya. Saya ceritakan ini (kepada anak) sebagai bentuk penghormatan pribadi saya saja terhadapnya. Tidak terbayang jika tidak ada kegiatan mendaki gunung, lalu seperti apa tindakan lainnya...

Meski cerita receh antara ibu dan anak, semoga ada manfaat yang bisa kita ambil dari semangat juang Soe Hok Gie di “Hari Pahlawan” nya ini, 16 Desember.

Sebagai orang Indonesia yang terbakar semangatnya oleh pemberontakan Soe Hok Gie, sebagai perempuan, sebagai seorang ibu sekaligus seorang pendaki ala-ala ini, sangat besar harapan saya menginginkan Indonesia dan alamnya tetap berjalan lurus pada kebenaran seperti kata-kata yang sering terucap pada bibir Soe Hok Gie.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar