Rahasia Mendaki Gunung: Lebih Seru Disertai Ilmu
Ketika mendaki gunung berapi tertinggi di Indonesia, saat turun kami sempat bicara dan berbagi bekal kepada salah satu pendaki yang katanya sakit. Kami sempat menyarankan untuk ngecamp (lagi) saja dulu, tapi mereka memaksakan diri. Alasannya teman-temannya sudah jalan duluan.Keesokan harinya ketika kami sudah bersih-bersih di basecamp ada kabar kalau pendaki sakit yang kami temui itu meninggal dunia. Team kami hanya saling pandang untuk sesaat. Berasa tidak percaya.
[caption id="attachment_8881" align="aligncenter" width="270"]Beberapa teman berargumen, kalau saja mereka gak memaksakan diri, nunggu team rescue datang sekadar untuk membantu mengobati, mungkin tidak akan berakibat fatal.
Selalu ada pelajaran (hidup) setiap kami turun dari mendaki. Apalagi kami mendaki gunung selalu membawa anak balita. Termasuk berita yang beredar lainnya seputar pendakian meskipun kami tudak ikut serta.
Seperti saat tersiar kabar mengejutkan ketika ada pendaki meninggal di Gunung Merapi, Prau, dan Tampomas beberapa waktu lalu semua adalah pelajaran penting bagi kami. Mendaki gunung memang petualangan yang seru, malah mungkin bagi sebagian orang terkesan ekstrim karena itu butuh ilmu dan pengetahuan mumpuni agar perjalanan pendakian berahir selamat dan menyenangkan.
Yang saya ingat banyak orang berburu puncak setelah tayang film '5 CM'. Selain menggambarkan keindahan Ranu Kumbolo, film itu juga berhasil menularkan tren mendaki gunung untuk anak muda.
[caption id="attachment_9171" align="aligncenter" width="300"]Jadinya main agak jauh ke gunung tidak hanya buat mereka yang aktif di kegiatan pecinta alam, namun juga mereka yang sebelumnya tidak aktif. Ikut-ikutan?
Mungkin juga karena kebiasaan anak muda di kita yang ingin eksis mencari jati diri, maka puncak gunung dianggap sebagai salah satu cara pembuktian di dalam lingkungan sosial mereka. Pasti bangga dong bisa memenuhi akun sosial media dengan gaya bersama carrier segede gaban, atau selfie diantara hamparan edelweiss si bunga abadi. Namanya juga anak muda gituloh...
Tapi masih banyak yang lupa, gunung bukan sebuah ajang pertaruhan. Mau bilang apa kalau sudah kejadian seperti Erri Yunanto yang meninggal karena terjatuh ke kawah Gunung Merapi setelah nekat berfoto di Puncak Garuda, sebuah spot yang berbahaya?
Terus apa mau menyalahkan mereka yang mengkritik perilaku para pendaki yang berniat eksis di social media, namun mengabaikan keamanan dan keselamatan tersebut?
Dari banyaknya kejadian yang tidak mengenakkan selama di gunung itu, saya sendiri merasa perlu untuk terus mengulas dan mengevaluasi mengenai hobi naik gunung. Tujuannya tentu saja agar kita memiliki pemahaman yang tepat bahwa naik gunung adalah kegiatan yang serius dan bertanggung jawab. Bukan cuma untuk gaya-gayaan.
Apalagi bagi pendaki yang nekat bawa anak, memang butuh banyak pengetahuan dan persiapan untuk bisa mendaki gunung.
[caption id="attachment_9172" align="aligncenter" width="300"]Itu kenapa meski sudah emak-emak, saya memaksakan diri tetap belajar bersama komunitas atau para senior. Terus upgrade diri tentang apa saja yang harus dipersiapkan, bagaimana cara packing yang benar, apa yang harus diwaspadai di gunung termasuk bagaimana cara mengurus perizinan.
Hehehe meski piknik atau traveling pribadi kalau naik gunung tetep harus izin lho ke kantor taman nasional atau dinas kehutanan setempat. Dan itu biasanya dianggap ribet lalu banyak yang diskip.
Tidak sedikit yang bertanya ke saya gimana dengan bekal naik gunung kalau bawa anak? Apa melulu dikasih mie instan? Ngikik panjang saya menjawabnya. Makanya saya bilang meski sudah emak-emak saya keukeuh tetep terus ingin belajar. Supaya saya tidak melulu ngasih makan anak di gunung mie rebus terus 🤭🤭🤭. Biar saya tahu, gimana memanage bekal makanan, bawa obat-obatan, cara memasang tenda, sampai teknik mendaki yang benar meski harus ngesot gendong balita.
Apalagi jika seperti sekarang, musim sedang tidak bisa diprediksi, kita para pendaki (meski bukan instruktur atau ranger) tetap harus punya wawasan cara ambil solusi kalau harus menghadapi kondisi alam yang tiba-tiba terjadi di luar dugaan.
Etika saat berada di gunung atau alam terbuka juga penting untuk diperhatikan dan dilakukan. Sebagai orang Indonesia, tahu sama tahulah kalau di beberapa daerah masih banyak aturan tidak tertulis mengenai gunung atau suatu daerah. Sopan santun terhadap alam, bukan sesuatu yang mengada-ada. Lagian apa beratnya sih kalau kita ikuti saja? Ibarat bertamu di rumah orang, mau tidak mau kita selama di sana harus menghargai pemilik rumah, iya toh?
Setidaknya para pendaki punya aturan baku yang berlaku secara internasional. Aturan yang oleh sebagian pendaki (pemula) dijadikan semacam kata mutiara: "Take nothing but pictures, kill nothing but time, leave nothing but footprints,"
Jika etika hidup di alam (meski yang standar) sudah dimengerti, seharusnya gunung atau alam kita ini sudah bebas dari sampah, tidak ada perusakan dan tidak akan ditemukan vandalisme, bukan? Karena sudah jelas tindakan itu tercela, menyalahi etika.
Jangan karena kebelet naik gunung, lalu asal menentukan gunung mana saja yang dikunjungi. Emang sih rata-rata memilih ke gunung yang dekat saja, biar minim biaya. Tapi (kalau bisa) kita harus lebih dulu menentukan alias biasa memilih gunung mana yang sebaiknya kita daki (lebih dahulu). Prioritas karena sesuai dengan teknik dan ilmunya.
Ada beberapa gunung yang menjadi favorit untuk para pemula, misalnya Gunung Papandayan di Garut atau Gunung Api Purba di Nglanggeran daerah Yogyakarta. Hitung-hitung perkenalan, apalagi kalau bawa anak, jadi anak tidak kaget dengan suasana alam. Lanjut kalau sudah mulai terbiasa ke gunung yang lebih tinggi. Yang lebih ekstrim.
Selain naik gunung yang cocok untuk pemula disarankan sebagai pengenalan, juga sebagai ajang belajar mengambil manfaat lain mulai dari melatih kerja sama (tim atau keluarga) dan belajar lebih banyak tentang alam secara bertahap.
Memilih gunung sebagai tujuan untuk mendaki jangan sampai karena melihat orang lain sudah ke sana. Duh foto di sana bagus tuh, atau wah keren nih sudah sampai sana... Tapi tekankan kalau kita ke sana karena memang sudah mampu baik pisik maupun mental.
Perencanaan yang sempurna sebelum melakukan pendakian bagi saya dan keluarga wajib hukumnya. Karena ketika melangkahkan kaki menuju alam rimba, pemahaman yang cukup tentang kegiatan naik gunung sudah tidak bisa ditawar lagi harus dimiliki.
Mungkin belum disadari banyak pendaki, jika kita naik gunung itu sebenarnya tidak menaklukan puncak gunung, melainkan menaklukkan ego dan kesombongan kita sendiri. Perjalanan menuju puncak, adalah pencarian jati diri dengan kesabaran dan membangun ikatan kerja sama yang kuat dengan teman.
Di gunung, sejatinya kita ini bagian yang tidak terpisahkan dengan alam. Kita adalah matahari yang muncul dan tenggelam, kita adalah embun, kita adalah debu yang tertiup angin. Kita hanyalah setitik harapan di hadapan pemandangan alam yang indah ciptaan Tuhan.
Karena itu, yuk jadilah pendaki gunung yang bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Dengan begitu sedikitpun tidak akan mengurangi keseruan petualangan kita di gunung. Yang ada justru kita akan bangga, sudah mampu menjaga sikap, ahlak dan niat.
Dengan sikap yang tepat, insyaallah alam seliar apapun akan menyambut kita dengan tangan terbuka. Miliki ilmunya maka petualanganmu di alam terbuka akan lebih bermakna dan seru.
Akhir kata selamat liburan sekolah dan liburan akhir tahun, selamat menunaikan (ibadah) mendaki gunung.
[caption id="attachment_9174" align="aligncenter" width="300"]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar