Selasa, 10 Desember 2019

Renungan Hari Gunung Internasional

Renungan Hari Gunung Internasional 2019

Gunung traveler, mana suaranya di Hari Gunung ini? Atau jangan-jangan malah tidak tahu ada peringatan Hari Gunung yang jatuh pada setiap tanggal 11 Desember setiap tahunnya?

Sejak tahun 2002, Hari Gunung Internasional ditetapkan pada tanggal 11 Desember oleh PBB. Tujuan diperingatinya Hari Gunung Internasional ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap segala isu yang berpotensi membahayakan keberadaan gunung. Ditambah adanya upaya untuk menciptakan kesadaran masyarakat akan pentingnya pegunungan bagi kehidupan.

Tahun 2019 ini, tema Hari Gunung Internasional  yang diperingati adalah "Pegunungan penting bagi Pemuda". Secara kita tahu lah ya kalau pemuda itu jelas jadi harapan bagi perubahan yang aktif dan pemimpin masa depan di masa depan.

Bisa dibilang pemuda cikal bakal penjaga dan pelestari gunung dan sumber daya alam, yang terancam oleh perubahan iklim yang disebabkan ulah kita, manusia.

Di Hari Gunung ini kebetulan Fahmi, putra saya sedang sakit. Sejak Senin kemarin ia terbaring saja merasakan flu dan badannya demam. Jadi otomatis kami tidak bisa keluar sekadar untuk menghirup udara bersih di pegunungan, atau bermain di alam, mengucapkan selamat hari gunung, kepadanya, sebagaimana selalu kami lakukan beberapa tahun terakhir ini.

[caption id="attachment_8874" align="aligncenter" width="300"] Fahmi jadi peserta upacara bendera merah putih termuda di Puncak Indrapura, Gunung Kerinci, atap Sumatera 17 Agustus 2019[/caption]

Yang bisa saya dan anak lakukan, ialah ngobrol dan merenungkan makna hari gunung 11 Desember ini sambil melihat foto-foto dan video yang masih tersisa. Secara penyimpanan foto dan video secara keseluruhan kan sudah raib dicuri maling, September kemarin.

International Mountain Day. Tidak bosan saya ceritakan ke anak kalau United Nations atau PBB menginisiasi peringatan itu setiap tanggal 11 Desember. Kesepakatan menjadikan 11 Desember menjadi International Mountain Day terjadi pada 2002. Dan peringatan pertamanya dilakukan pada 2003 silam.

Yang selalu saya tekankan kepada Fahmi hari gunung bukanlah perayaan tapi pengingat bahwa ada masalah besar yang sebenarnya sedang mengganggu gunung-gunung di seluruh dunia.

Sebagaimana diterangkan senior pendaki di komunitas gunung,  kalaug gunung adalah rumah pagi 15 persen populasi manusia. Seperempat hewan darat dan tumbuhan juga berada di sana. Pegunungan menyediakan sumber air minum utama untuk kehidupan.

Sayangnya saat ini pegunungan dalam bahaya. Perubahan iklim global dan eksploitasi berlebihan kian hari kian mengancam. Sekitar 7,7 miliar penduduk dunia sudah mulai merasakan imbasnya. Termasuk kita.

"Meski Fahmi masih anak-anak, tetapi tidak ada salahnya Fahmi ikut berpartisipasi dalam Mountains Matter for Youth (Masalah Pegunungan Bagi Pemuda) di International Mountain Day ini..."

Jika anak muda sudah banyak yang tidak mau tinggal di gunung (desa) karena gengsi untuk mengerjakan lahan pertanian dan kehutanan, maka sudah sepantasnya sejak dini anak saya menghilangkan pikiran dangkal itu.

Memang bagus mencari nafkah di kota, tetapi bukan berarti tidak mau lagi bercocok tanam di desa. Jangan sampai karena perpindahan anak muda dari gunung (desa) ke kota menyebabkan lahan pertanian terbengkalai, degradasi lahan, dan hilangnya tradisi dan budaya. Dan sedihnya fenomena seperti itu justru sudah terjadi sejak lama di Indonesia, bukan?

Dan sebagai pegiat alam bebas, tidak hanya kepada anak sendiri, atau kepada anggota komunitas saja, tetapi kepada seluruh manusia yang merasa jadi manusia tidak akan pernah bosan untuk selalu mengingatkan supaya saatnya kita menjaga kelestarian gunung... Mendaki gunung saat ini mungkin sudah jadi lifestyle, gaya hidup dan jadi salah satu cara mengisi konten sosial media yang kekinian. Hehehe... Semua itu sah-sah saja selama tidak meninggalkan kerusakan seminimal mungkin kepada gunung, alam dan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar