Jumat, 06 Desember 2019

Menerapkan Konsep Kemarahan kepada Anak

Menerapkan Konsep Kemarahan kepada Anak

Sabtu ini sengaja saya menunggu Fahmi di sekolah sampai jam terakhir usai. Sekolah di kampung ini memang masih berlangsung enam hari selama seminggu. Hari terakhir ulangan semester dilaksanakan dalam kondisi hujan itu sesuatu banget pastinya buat mereka. Anak SD yang masih suka bermain di bawah derasnya air hujan. Biasanya dengan hasutan teman sekaligus kakak kelasnya, mentang-mentang akhir pekan selalu jadi alasan untuk bermain tanpa memikirkan apakah pakaian seragam akan kotor?

Ternyata bukan hanya saya saja yang menunggu anak sampai ulangan selesai. Ada beberapa orang tua dari teman sekelas Fahmi juga yang sama-sama menunggu. Tanggung antar jemput jika jeda waktu hanya satu jam sementara cuaca juga tidak begitu terang. Beberapa alasan mereka sama.

Benar saja, gerimis turun ketika satu per satu anak keluar kelas. Saya bersiap mencegat Fahmi ketika salah satu teman sekelas Fahmi tiba-tiba berlari ke luar menuju lapangan. Hujan rintik-rintik langsung diterjangnya. Dasar anak.

Beberapa anak mengikuti ulah anak pertama yang bermain di bawah gerimis akhir pekan. Saya tahu kalau orang tua mereka ada pasti dicegah atau malah langsung dimarahi. Pemandangan yang sering saya temui di kampung ini: orang tua memarahi anak di tempat umum. Tanpa lebih dulu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan alasan, atau penyebab kenapa si anak melakukan hal yang menurut orang tua nya tidak boleh dilakukan itu.

Baru saja kepikiran hal seperti itu, eh bener saja ada seorang ibu-ibu berteriak memanggil seorang anak yang tengah berlari di tanah lapang sambil menciprat-ciprat air hujan. Saya yakin itu ternyata seorang kemarahan nenek terhadap cucunya. Ya mungkin karena orang tua si anak sibuk, maka urusannya di sekolah dipegang oleh neneknya.

Dan pemandangan seperti saya ilustrasikan pun benar saja diputar ulang. Nenek memarahi cucunya saat itu juga. Teman-teman si cucu yang berada di sekitar mereka memasang berbagai perangai. Ada yang diam, ada yang mencibir dan mengejek kepada si cucu seolah puas mendapatkan temannya dimarahi habis-habisan oleh neneknya, dan ada juga yang tidak peduli.

Fahmi putra saya salah satu yang hanya diam. Tapi ketika kami sampai di pintu gerbang sekolah dekat parkiran, Fahmi bersuara. Kasihan ya, katanya. Kalau Fahmi mau main hujan-hujanan bilang dulu sama ibu. Ganti baju dulu. Jadi tidak dimarahi.

Saya hanya tertawa. Begitu karena ibumu mau mendengarkan alasan kenapa kamu mau bermain (misalkan) hujan-hujanan. Jawab saya dalam hati. Dan apa yang dilakukan setiap orang tua pastinya akan beda. Apakah orang tua anak lain mau mendengarkan apa yang disampaikan anaknya?

Jangan jauh dulu mau mendengarkan deh, apakah mau memberi kesempatan kepada anak untuk bicara, itu saja dulu. Belum tentu. Buktinya itu tadi, banyak yang belum apa-apa sudah langsung memarahi anak. Depan banyak orang lagi. Tidak memikirkan bagaimana dampaknya terhadap anak? Padahal saya lihat sendiri ada anak yang sengaja ikut mengejek juga.

Padahal kalau saya, sudah pasti cukup memanggil anak saja dulu. Tanya mau anak apa? Lalu cari solusi atau beri pilihan yang intinya tetap baik untuk anak, juga untuk kita. Seperti itu mungkin, sehingga Fahmi tadi bisa berani bicara kalau ia jadi anak yang dimarahi neneknya itu tadi, katanya mau bilang minta izin bermain hujan-hujanan saja dulu...

Setiap pola pengasuhan anak masing-masing pasti berbeda ya. Tapi kalau memarahi anak langsung di depan umum, apa dengan begitu bisa membuktikan kalau anak akan menurut? Dengan memarahinya di depan anak-anak lainnya, apa ada jaminan anak kita akan jadi anak yang lebih baik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar