Kamis, 31 Mei 2018

Tips Mendapatkan Mukena Bagus Berkualitas Harga Pantas

Tips Mendapatkan Mukena Bagus Berkualitas Harga Pantas

Mukena dengan barang dan kulitas yang sama tapi kok harga bisa beda? Saya beli seharga 500 ribu, sementara teman saya membayarnya hanya 270 ribu saja. Kok bisa ya? Gimana caranya? Ramadan identik dengan bulan penuh ibadah. Adanya sholat tarawih berjamaah di masjid mau tidak mau setiap perempuan jadi mikirin terkait mukena baru. Meski ibadah tidak harus memakai mukena baru, tapi masa iya sebulan lamanya mukena tidak juga ganti? Apa kata tetangga yang suka nyinyir? Maka sudah seperti kebiasaan bagi sebagian perempuan, menjelang Ramadhan tambah kesibukan dalam rangka mencari mukena baru. Melihat model apa yang sedang ngetren dan dimana bisa membelinya. Dan yang pasti tentu saja mencari mukena kualitas bagus namun harga sangat terjangkau alias semurah-murahnya.

Bagi yang tinggal di kota besar mungkin mau beli mukena seperti apa dan kapan saja sangatlah mudah. Kedekatan dengan lokasi, ditambah stok barang dari produsen yang melimpah dalam pendistribusian yang mudah membuat belanja mukena semakin praktis dan efisien.

Tapi bagi kami yang tinggal di daerah, yang tidak ada mall, tidak ada supermarket, tidak ada pasar sekomplit di kota kabupaten, jelas ini jadi sebuah kendala.

Okelah di tempat kami memang ada semacam toko serba ada milik warga lokal yang juga menyediakan berbagai kebutuhan termasuk mukena. Ada juga pasar kaget yang hanya buka setiap hari Selasa dan Jumat saja (sekarang nambah hari Minggu juga ada) Tapi dengan jumlah barang yang terbatas sementara peminat sekian banyak maka ini jadi semacam kesempatan bagi penjual untuk menaikan harga. Padahal harga murah yang justru dicari emak, yakan?

Belum lagi karena belanja dari satu penjual yang sama, tidak jarang saat sholat tarawih berjamaah eh, mukena yang dipakai ternyata sama persis dengan yang dipakai tegangga. Satu orang lagi memakai mukena yang sama bisa dapat gelas tuh, hehehe!

Kejadian ini serius saya saksikan sendiri. Dan ini diam-diam jadi pelajaran buat saya. Hati-hati saat akan membeli mukena, khususnya jika beli di daerah tempat saya tinggal supaya tidak kembaran sama tetangga saat sholat berjamaah. Nah gimana caranya? Berikut tips pengalaman yang saya lakukan. Sehingga Ramadhan ini bisa mendapatkan mukena yang berkualitas dengan harga yang sangat pantas. Ekslusif pula alias ga ada yang nyamain di kampung.

1. Belanja Selektif

Tidak mudah tergoda langsung membeli mukena ketika melihat ada mukena dipajang. Saya biasanya nanya dulu ke penjual apakah stok mukena yang sama masih banyak? Atau sudah banyak kah yang membeli mukena serupa? Jika ya, besar kemungkinan sudah ada tetangga yang lebih dahulu membeli. Jika saya tetap memaksakan diri untuk membeli, dengan kata lain saya harus sudah siap dengan resiko bakal ada “kembaran” alias mukena yang sama dipakai juga oleh orang lain. Mau?

2. Beli di luar daerah/kota

Iyalah, saya kan orang kampung. Wong ndeso. Jadi beli di luar kota itu bukan sekedar istilah, lho ya.

Saking banyaknya model mukena di penjual yang berada di kota, saya bisa bebas milih. Khususnya memilih mukena yang diproduksi terbatas.

Saya tidak sengaja berangkat ke luar kota untuk membeli mukena, melainkan ketika kebetulan ada keperluan saja maka sekalian mencari barang-barang yang sekiranya di tempat saya masih susah dicari.

Contohnya saat ke Pulau Bali, maka ketika menemukan penjual mukena saya minta model yang beda. Meski di Cianjur banyak dijual mukena bali, namun saya yakin model yang saya beli akan beda dari yang dimiliki tetangga di kampung.

3. Belanja online

Ketika beli di toko dan atau penjual lokal sudah kehabisan model, maka beli online sudah bisa jadi alternatif. Banyak model ditawarkan dan dipastikan kemungkinannya untuk membeli barang yang sama dengan tetangga sangatlah kecil.

Kalaupun ada barang yang sama, saya pasti kan harganya akan jauh beda. Asalkan membeli online nya langsung ke produsen. Ketika saya memesan mukena sutra dengan harga dibawah 300 ribu rupiah ternyata barang yang sama ada dijual juga di toko serba ada lokal di kecamatan. Tapi harganya berapa? Hampir 500ribu!

Gimana tidak senang punya uang dingin sekitar 200 ribu? Buat emak-emak macam saya itu kan harta karun banget gitu loh..

4. Beli kain dan jahit

Ini kalau mau benar-benar tampil beda. Membeli kain sesuka hati lalu mendatangi penjahit dan memesan ingin dijahitkan mukena. Hasilnya? Pasti ekslusif. Tidak akan ada mukena yang sama. Kecuali menjahitnya memang lebih dari satu.

5. Konsisten warna

Saat saya lebih menyukai warna cokelat (teduh) maka apapun akan cenderung memilih warna yang senada. Lama-lama orang tahu apa warna kesukaan saya. Saat saya beli mukena sesuai dengan warna yang saya sukai itu, maka ketika tidak sengaja “bertemu” orang lain yang memakai mukena yang sama dengan saya maka orang akan berpikir dia yang ikut-ikutan saya. Kenapa? Karena orang sudah tahu dari awal kalau saya memang penyuka warna cokelat (teduh) sejak dulu.

6. Lihat Waktu

Membeli mukena saat bulan Ramadhan jelas harganya akan lebih mahal dibanding membeli mukena di bulan selain Ramadhan.

7. Pilihan yang nyaman.

Akhirnya kembali kepada kebutuhan, bukan keinginan. Saat lagi hits model mukena yang begini, coba pikir lagi. Apakah akan nyaman saya pakai mukena begitu?

Saat mukena warna-warni lagi buming, tapi kalau hati sudah jatuh cinta kepada satu warna mukena putih polos, maka pilihlah mana yang lebih nyaman. Ibadah itu mengharap ridho Allah SWT, bukan mau pamer kalau kita juga punya mukena kekinian.

oo00oo

Punya mukena baru itu bagus. Tapi sekali lagi sesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Jangan sampai gara-gara mengenakan mukanya baru yang kekinian dengan renda-renda yang memberatkan, alih-alih sholatnya lebih khusyu, yang ada malah repot sendiri karena kegerahan dan keberatan. Duh duh duh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar