Bagi yang beruntung, kerja di luar negeri itu menyenangkan. Istilahnya makan tidur aja dibayar. Hidup senang, tiap bulan menerima gaji yang dirupiahkan setara (bahkan lebih) dengan gaji PNS golongan 4 di kampung. Tidak heran kalau pulang ke tanah air hanya untuk cuti saja, selanjutnya kembali ke negara orang untuk kembali menjadi TKI.
Padahal, TKI yang sukses ternyata bukan TKI yang lama bekerja di luar negeri, melainkan cukup 1-2 kali kontrak saja, selanjutnya menggunakan tabungan yang ada hasil bekerja selama ini untuk buka usaha. Meski tidak menyerap banyak tenaga kerja, paling tidak usaha untuk dirinya sendiri. Sehingga tidak kembali lagi menjadi TKI.
Sepertinya mudah, padahal realisasinya teramat sulit. Selain kebanyakan karena uang habis untuk kebutuhan konsumtif, juga tidak punya keterampilan dan informasi akurat mengenai wirausaha dan seputar permasalahananya.
Karena itu beruntunglah bagi TKI yang bisa menyelam sambil meminum air, bisa bekerja di negara orang sambil menyerap ilmu dan keterampilan, sehingga saatnya pulang kampung, ilmu dan keterampilan yang didapat itu bisa dipraktekkan. Syukur-syukur bisa menjadi lapangan pekerjaan (usaha).
Beberapa tahun lalu, kondisi TKI sangat sulit untuk berkembang, terlebih di negara penempatan Timur Tengah. Mungkin karena itu moratorium diberlakukan, selain untuk pembenahan, juga untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan. Lain lagi bagi TKI yang bekerja di Asia Fasifik, atau Asia Tenggara. Meski tidak sepenuhnya menjamin tapi hak pekerja seperti libur dan berorganisasi sudah umum diberikan. Kesempatan seperti ini yang seharusnya dipergunakan sebaik-baiknya oleh kita.
Saat anak majikan belajar membaca dan menulis Mandarin atau bahasa Inggris, secara tidak langsung pengasuhnya bisa ikut belajar. Saat majikan mempunyai toko atau usaha dagang, management serta strategi pemasarannya bisa ditiru dan saat pulang kampung bisa diterapkan. Saat orang tua jompo yang dijaga membuat kue tradisional khas leluhur mereka kita bisa ikut belajar dan kebanyakan justru mereka dengan senang hati mengajarkan supaya kita bisa membuatnya untuk mereka. Pendek kata, apapun yang positif dari perilaku orang di luar negeri bisa kita pelajari dan sepulangnya ke kampung bisa kita praktekkan.
Semakin berkembang teknologi, semakin pesat kemajuan jaman. Kini TKI bisa sambil sekolah (kuliah) khususnya di Taiwan, para pengajarnya adalah mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di tanah air yang sedang melanjutkan S2 dan atau S3, tak jarang yang mengejar gelar Doktor atau Profesor. Ini kesempatan besar untuk menggali ilmu dari mereka sedalam-dalamnya. Bayangkan kalau kita di kampung, mana bisa bertatap muka dan belajar dari seorang guru besar dari ITB, IPB, ITS, dan universitas besar di Indonesia lainnya.
Malah baru-baru ini beberapa TKI di Taiwan diajari tata cara bertani tanaman organik di areal perkebunan milik warga setempat di Beitou, Taipei. Diharapkan peserta yang ikut sepulangnya ke kampung nanti bisa mempraktekkan ilmu yang didapat. Produk organik sangat diburu orang Taiwan. Bahkan bisa dibilang warga Taiwan sudah terbiasa mengonsumsi makanan organik. Pertanian di Taiwan memang tidak menggunakan pupuk kimia karena dianggap membahayakan kesehatan.
Kedepannya, tidak menutup kemungkinan orang Indonesia juga tertular gaya hidup sehat dimana mulai berburu makanan organik. Jika kita sudah memiliki ilmu tanaman organiknya, bisa dicoba membuka usaha dan siapa tahu bisa jadi lahan usaha yang menjanjikan karena belajar bertani secara organik ternyata banyak manfaatnya. Selain menghasilkan tanaman sehat dan berkualitas, tanaman organik juga bisa dilakukan di lahan yang sempit.
Seenak-enaknya tinggal di negara orang, tentu tidak akan selamanya TKI hidup di sana. Suatu saat pasti akan pulang kampung juga. Ilmu dan keterampilan lah yang akan menjadi modal kelak jika kita sudah hidup di kampung halaman. Karena itu memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk menyerap ilmu dan strategi usaha orang-orang di luar negeri yang terkenal dengan etos kerja serta disiplinnya yang tinggi menjadi persemaian bibit usaha, untuk dipanen kelak saat TKI pulang ke Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar