Selasa, 07 Juni 2016

Strategi Harga Sayuran Mahal, Bu? Yuk, Manfaatkan Pekarangan

colorful& healthybrunchbowls Strategi Harga Sayuran Mahal, Bu? Yuk, Manfaatkan Pekarangan. Tidak hanya daging sapi, saat Ramadhan ini sayuran juga harganya melonjak gila-gilaan. Uang selembar seratus ribu hanya mampu membeli setengah kiloan untuk sayuran favorit keluarga. Untuk orang kaya mungkin tidak masalah, tapi bagi ibu rumah tangga kelas menengah ke bawah yang kebutuhan lainnya perlu juga dipenuhi, alahmak, sambil tepuk jidat. Apa tidak pusing menghadapinya? Sudah harga mahal, eh, sayurannya susah didapat pula. Mungkin karena hari ini bulan puasa, jadi setelah makan sahur, dan solat subuh, para pembelanja yang mayoritas kaum ibu-ibu langsung menyerbu Pasar Kecamatan Pagelaran, yang kondisinya tengah darurat. Ya, darurat karena bertepatan dengan pelantikan Bupati baru bulan Mei lalu, Pasar Pagelaran dibongkar, lalu penjual akhirnya  melipir deh ke jalan warga dan perkampungan Tegal Kenanga yang lokasinya hanya beberapa meter saja dari lokasi Pasar Pagelaran yang sudah diobrak-abrik tapi belum juga ada tanda-tanda mau dibangun (lagi). Padahal saya datang ke pasar tidak siang-siang amat. Pukul enam pagi sampai di pasar. Tapi itu sayuran kok sudah pada kosong? Jadi bingung mau belanja apa buat cadangan makanan keluarga hingga tiga hari ke depan? Tiga hari? Banyak amat? Ya, kan di Pagelaran ini hari pasar tidak setiap hari. Pasar hanya ada pada hari Selasa dan Jumat saja. Jadi belanja Selasa ini harus cukup untuk sampai hari Jumat nanti. Kalau kurang atau kehabisan, ya bisa aja belanja lagi, tapi ke pasar tetangga kecamatan yang lokasinya setengah jam kendaraan dari Pagelaran. Kamis ada pasar di Tanggeung, kalau mau setiap hari, ke Sukanagara. Tapi jauh dan kalau hanya belanja sedikit untuk sehari saja kan malah terasa olok di ongkos. Maklum lah ibu-ibu masa kini perhitungan sekali, kalau enggak, mana bisa menutupi kebutuhan lainnya? Dan yang lebih pusing, harga-harga sayuran yang apa adanya itu ternyata melangit semua. Sempat bimbang dan galau (tapi gak pake nyanyi dan gaya slow motion kaya di tv, ya) jadi beli enggak nih? Ini kalau beli uangnya cukup gak?

Akhirnya, setelah menerjang kerumunan dan rapatnya barisan para ibu pembeli dan penjual, saya bisa menemukan beberapa sayuran yang kondisinya cukup mendekati target serta harapan. Setengah berebut sama pembeli lain akhirnya saya berhasil mengumpulkan wortel, buncis, kentang, dan tomat yang semuanya mampu membeli setengah kiloan saja. Hanya daging ayam, mentimun dan jagung yang mampu membeli 1 Kg.

Melihat dompet isinya hampir habis, saya pun memberhentikan diri untuk shoping di pasar tradisional ini. Teringat tanaman di pekarangan rumah, biarlah untuk kebutuhan lain seperti bumbu dan sayuran lain disiasati pemenuhannya dari sana saja. Cabe, kencur, kunyit, serai, daun salam dan bumbu lainnya kebetulan saya ada menanam di pekarangan. Lumayan, bisa mengurangi beban mahalnya harga bumbu dan sayuran. Eh, berasa jadi nambah ide, saat harga-harga sayuran melambung mahal, strategi menyiasatinya kenapa tidak menanam sendiri ya? Pekarangan kosong kan bisa dimanfaatkan tuh. Kalau tidak punya pekarangan, hem... kan bisa nanam di pot, atau sistem hidroponik (maksa banget ini mah) yang lagi in itu. Jadi, hasil hunting di pasar tradisional Pagelaran hari Selasa tadi saya hanya dapat: [caption id="attachment_2802" align="aligncenter" width="917"]Wortel, Rp. 20.000 per Kg Wortel, Rp. 20.000 per Kg[/caption] [caption id="attachment_2803" align="aligncenter" width="888"]Buncis, Rp. 12.000 per Kg Buncis, Rp. 12.000 per Kg[/caption] [caption id="attachment_2804" align="aligncenter" width="882"]Kentang, Rp. 20.000 per Kg Kentang, Rp. 20.000 per Kg[/caption] [caption id="attachment_2805" align="aligncenter" width="835"]Tomat, Rp. 18.000 per Kg Tomat, Rp. 18.000 per Kg[/caption] [caption id="attachment_2806" align="aligncenter" width="711"]Mentimun, Rp. 6.000 per Kg Mentimun, Rp. 6.000 per Kg[/caption] [caption id="attachment_2807" align="aligncenter" width="1024"]Jagung, Rp. 7000 per Kg. Jagung, Rp. 7000 per Kg.[/caption]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar