Jumat, 08 September 2023

Beranda Berantakan Hutanku Kebakaran

Terkejut ketika membuka pintu pagi ini, berandaku sangat berantakan. Ini pasti gara-gara ayam nyakar nyari makanan, terus menumpahkan semua isi pot bunga sampai berceceran. Ah, sudahlah. Tak apa saya biarkan sebentar, ntar pasti saya bereskan, setelah saya baca berita terbaru yang sedang saya pantau di beranda.co.id ini selesai...

Betah emang membaca berita di beranda.co.id karena selain lengkap ulasannya, ada berita ekonomi, UMKM, teknologi, tips, olahraga, startup, traveling dan lainnya, juga penyampaian informasinya langsung tanpa harus banyak membuka halaman atau klik dulu ini klik dulu itu ...

Gimana tidak penasaran, geram sekaligus jengkel membaca berita di laman beranda.co.id kalau Bukit Teletubbies di Gunung Bromo terbakar karena aktivitas pre-wedding pakai flare! Oh my God!

Sst! Flare itu adalah alat yang mengeluarkan cahaya terang dan api. Flare juga biasa disebut suar yang dalam KBBI memiliki arti nyala api (suluh, pelita) untuk tanda (isyarat).

Padahal kita tahu kan ya, orang di ibukota sementara ini pada panik dan sibuk bergulat dengan polusi, pemerintah repot menangani kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, eh, itu orang-orang yang mementingkan egonya sendiri malah melakukan hal yang rentan membahayakan hanya untuk kepentingan dan gaya hidup pribadi.

Ini tuh musim kemarau, banyak gunung yang dikhawatirkan rusak karena ulah pencinta alam yang teledor hingga terbakar, misal karena puntung rokok yang dibuang sembarangan, bikin api unggun tanpa pengaman, dan kelalaian lainnya. Karena itu pendakian diatur seketat mungkin.

Lah ini, bikin pre wedding kok malah sengaja di wilayah yang rentan terjadi kebakaran, plus pakai flare pula. Hadeuh... tepuk jidat! Yang dicurigai para pendaki, yang ditatar terus kami para pegiat lingkungan, eh yang bikin onar ternyata lain orang.

Akhirnya bagaimana? Ya sekarang Jawa Timur sedang menghadapi kebakaran gunung. Bukit Teletubbies di Gunung Bromo menyusul Gunung Arjuno yang terbakar akibat aktivitas manusia. Sedih gak sih? Sedih sekaligus geram dan jengkel kalau saya mah...

Informasi yang saya baca dari beranda.co.id kebakaran yang terjadi di Bromo itu diakibatkan oleh aktivitas pemotretan pre-wedding yang menggunakan flare. Gak heran lah secara di musim kemarau ini, percikan api bisa terus menyambar rerumputan kering dan mudahnya terus menyebar.

Berita tentang kebakaran di Gunung Bromo di beranda.co.id

Kalau sudah kejadian api terus menjalar, hingga malam hari masih terus meluas itu, malah membuat blok savana yang mulai menguning di kemarau ini makin terbakar, mau bagaimana lagi?

Katanya sih pihak keamanan udah mengamankan pelaku. Sementara itu, wilayah Bromo ditutup untuk melakukan pemadaman. Humas Balai Besar Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (BBTNBTS) Pak Hendra, membenarkan bahwa penyebab kebakaran adalah aktivitas pemotretan tersebut.

Jujur nih secara pribadi saya mempertanyakan itu para pelaku suka baca berita enggak ya? Tahu informasi kondisi alam dan lingkungan di negaranya ini gak sih? Terus itu mereka pada berpikir gak apa risikonya?

Saat pemerintah gencar mensosialisasikan gerakan penanggulangan kebakaran hutan, saat para blogger giat menulis dan menyebarkan artikel untuk bisa kurangi kebakaran hutan semaksimal mungkin dengan hal kecil apapun yang bisa kita lakukan, eh mereka itu yang melakukan pemotretan pre wedding malah seenaknya main-main dengan flare di daerah rawan kebakaran!

Mereka apa gak tahu kalau akhir Agustus kemarin Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sudah menghadapi kebakaran yang cukup krusial. Padahal baru saja kami para pendaki mendapat kabar gembira bahwa Semeru akan kembali dibuka.

Sekitar akhir Agustus juga Gunung Arjuno lebih dahulu terbakar di area Tamana Hutan Raya R. Soerjo akibat aktivitas manusia juga. Area yang terbakar sangat luas nyaris 4000 hektar menurut informasi dari Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Pak Gatot Soebroto.

Meski segala upaya dikerahkan untuk membantu mengendalikan kebakaran itu, tetap saja dampak kebakaran ini merugikan  hingga menghabiskan sebagian besar lahan alam tersebut. Sedih gak tuh melihat wilayah yang seharusnya hijau royo-royo berubah menjadi hitam dan membara...

Yang gigit jari kan kami para pendaki nih. Rencana naik di akhir tahun ini terancam gagal lagi. Ya sebelumnya kan terhambat pandemi. Kini terkendala bencana. Kalaupun memaksa tetap ke sana, bukannya bahagia, malah prihatin dan nelangsa melihat pepohonan gosong...

Kabar kurang menyenangkan dari beberapa gunung di sekitar Kabupaten Malang dan Lumajang itu tentu saja membuat kami para pendaki, relawan yang membantu menangani karhutla dan warganet termasuk blogger yang gencar menggaungkan gerakan cegah kebakaran hutan dan lahan merasa miris.

Setelah menutup bacaan bergizi dari media online beranda.co.id sambil membereskan berandaku yang berantakan, mengisi lagi pot yang tercerai berai dengan media tanam dan bibit serta bunga yang masih bisa diselamatkan, saya bergumam sendiri, “Semoga mereka yang memicu kebakaran itu, segera mendapatkan hidayah lalu menjadi pencinta lingkungan. Tiap minggu kalau bisa mereka lakukan tanam pohon dan penghijauan!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar