Blogger Cianjur bercerita terkait gempa...
Kejadiannya hari Senin (21/11) sekitar setengah dua siang. Seminggu kemudian Sabtu (26/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 318 orang lebih meninggal dunia. Sebanyak 12 korban gempa dilaporkan masih hilang.
Korban yang mengalami luka lebih dari 7.300 orang, terdiri dari hampir 600 mengalami luka berat dan sisanya mengalami luka ringan. Sementara korban luka berat yang dirawat di rumah sakit sebanyak 108 orang. Rumah sakit umum daerah Cianjur tidak bisa menampung semua itu, karenanya sebagian dirujuk ke Cimacan Cipanas, Sukabumi dan atau Bandung.
Sama sekali tidak menyangka gempa yang “hanya” berskala lima itu telah memporak-porandakan Cianjur bagian Utara khususnya sebagai titik pusat gempa. Saya sendiri saat kejadian sudah berada di Pagelaran, Cianjur Selatan.
Sehari sebelumnya, kami memang di Cianjur Utara juga, sebagaimana kalau hari libur kami menempati rumah peninggalan mertua sekaligus silaturahmi dengan keluarga besar yang kebanyakan memang tinggal di Cianjur Kota.
Senin itu seperti biasa pulang sekolah SD sebelum berangkat Sekolah Agama saya dan anak bersantai depan tv. Suami berangkat sekolah ngajar di Madrasah Aliyah Ponpes Citiis jam satu lewat. Tiba-tiba perabotan dekat tv berbunyi karena bergoyang. Lampu juga menimbulkan bayangan seolah diayunkan. Gelas di meja makan berdenting keras, bergetar. Bumi bergoyang!
“Ya Allah, Fahmi lini. Ieuh, lini, Fahmi!” saya berteriak sambil membaca kalimat tahlil dan kalimat istirja’. Bergegas menubruk Fahmi, yang terkaget-kaget dan hampir menangis karena ketakutan.
“Ibu, sieun... Hikz!” katanya ketakutan dan memeluk saya erat.
Tiba-tiba listrik mati. Tv yang sedang menyala langsung padam. Lini dalam bahasa Sunda yang artinya gempa sudah berhenti.
“Coba Ami lihat dimana ada gempanya,” katanya sambil search di kolom pencarian setelah dirinya merasa lebih tenang. Namun tidak bisa karena ternyata internet mati, secara di rumah kami menggunakan IndiHome yang akan mati kalau listriknya mati.
“Ya udah nanti saja. Sekarang sekolah agama dulu,” saya pikir listrik mati tidak akan lama. Fahmi pun mandi dan berangkat sekolah agama.
Saat sendiri saya tidak berminat ngecek pusat gempa di hape sendiri yang terkoneksi dengan kuota, saya pikir listrik mati sayang hape bisa cepat abis baterei nya. Tapi sempat lihat di Twitter nya BMKG dikatakan kalau pusat gempa sekitar barat daya dari Cianjur. Saya pikir gempa biasa saja...

Tapi tidak lama kok banyak notifikasi di hape saya. Saya buka ternyata banyak yang memention saya terkait bencana gempa baru saja. Sempat bingung kenapa teman-teman seakan serentak bertanya terkait kondisi kami di Cianjur? Sambil membalas semampunya satu persatu jika saya aman selamat. Alhamdulillah.
Niat saya mau bereskan jemuran dan masak nasi tertunda karena jadi sibuk membalas pertanyaan, termasuk mengangkat telepon yang tiba-tiba juga datang dari berbagai teman dan daerah.
Ya Allah, saya bingung kenapa begitu banyak orang yang sangat memperhatikan saya sebagai Blogger Cianjur? Terharu sekaligus bingung.
Ya, secara saya selama ini memang selalu membranding diri dengan istilah blogger Cianjur dalam berbagai acara blogger atau kegiatan online lainnya. Lalu saat ada gempa barusan apakah orang-orang lalu otomatis mengingat saya?
Bu Alida Rachmawati, Bu Nanik Nara, Kang Dede Diaz, Teh Nchie Hani, Pak Darpan, Mas Eko, Mak Dewi Nuryanti, Bunda Elisa Koraag, Bu Hani Widyatmoko, Pak Adi Chandra, dan masih banyak lagi teman teman di WhatsApp group yang menanyakan kabar saya sebagai orang Cianjur terkait gempa yang baru saja terjadi.
Komunitas Emak Blogger melalui Mak Elly Nurul yang juga mengontak saya, padahal putranya juga tengah sakit. Komunitas ISB, Bloggercrony dan teman-teman blogger kesehatan, Blogger Bandung, Blogger Semarang, komunitas RTIK daerah regional dan pusat, teman-teman di Wag Dompet Dhuafa, teman dan saudara di Hongkong dan Taiwan, wah, saya sampai kewalahan menjawab semua kekhawatiran mereka.
Benar kata Umi Ade Ufi, saya sebaiknya hemat baterai ponsel. Tahu saja kalau hape ini betreinya udah pernah hamil, lalu ganti dan kembali ngedrop.
Akhirnya saya memilih bikin status di Facebook, mengabarkan kalau saya dan keluarga baik sehat selamat. Supaya teman dan saudara tahu dan tidak khawatir jika ada telepon atau pesan yang belum sempat saya balas.
Hujan masih belum berhenti. Listrik ternyata mati hingga malam hari. Saya masih bisa komunikasi dengan teman dan saudara mengandalkan kekuatan daya power bank. Jam sepuluh malam listrik nyala. Semua gadget saya isi dan sempat lihat tv jika rusak parah akibat gempa berada di Cianjur bagian Utara. Tapi mau menghubungi kakak dan keluarga besar di Cianjur Kota kok ya semua tidak bisa dihubungi? Eh tak lama lima belas menit kemudian listrik mati lagi. Tapi ya lumayan cadangan power bank sempat bertambah.
Hari Selasa subuh alhamdulillah listrik sudah menyala. Langsung lihat berita kaget banget akibat gempa di Cianjur meninggal pagi itu hingga 70 orang lebih. What? saya merasa kehilangan informasi yang berharga karena listrik dan internet dari pas kejadian gempa mati total.
Sedihnya saya tidak bisa menghubungi keluarga yang lokasinya diberitakan hancur parah. Mungkin mereka juga panik dan hp abis baterai?
Sama sekali tidak menyangka, bencana gempa menimpa wilayah Cianjur dan sekitarnya pada Senin (21/11) pukul 13.21 WIB itu meninggalkan banyak duka dan air mata.
Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa 5,6 Magnitudo itu terletak di darat pada koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 km barat daya Kota Cianjur atau 16,8 km timur laut Kota Sukabumi dengan kedalaman 10 km menyebabkan rumah saya dindingnya retak, gentingnya berjatuhan.

Saat sekolah dirumahkan kami segera ke Cianjur Kota. Rumah kakak Alhamdulillah aman. Rumah paman dan sepupu di Mangun ambruk rata dengan tanah, bersama puluhan ribu unit rumah lainnya yang rusak total.
Akses susah karena jalan kena longsor dan kami harus berkeliling menggunakan jalan desa demi bisa sampai di lokasi teman dan saudara.
Isak tangis tak bisa dicegah. Meratap dan menyesal pun tiada gunanya. Ini semua ujian dan peringatan. Kita harus ikhlas dan terus memperbaiki diri.

Hati harus tegar manakala setiap siang mendengar suara sirine ambulans yang hampir tanpa jeda. Apalagi kalau berada di jalan provinsi Cianjur - Puncak, mata bisa sekaligus melihat berbagai kendaraan TNI dan Polisi berseliweran. Ditambah kesibukan para relawan baik yang standby di dapur umum, logistik, suasana sangat mencekam. Seolah beginikah kondisi saat berperang? Bedanya kali ini di Cianjur tidak ada kepulan asap dan suara letusan bom.



Di sekitar rumah kami yang berbatasan dengan Yonif Raider 300 suara helikopter terus terdengar menambah kegetiran. Team rescue Basarnas, TNI dan Polri menjangkau lokasi gempa yang sulit diakses menggunakan helikopter dan menjadikan lapangan Raider 300 sebagai landasan. Selanjutnya pendistribusian logistik pun dilakukan melalui helikopter. Beberapa hari kemudian ditambah motor trail demi bisa menjangkau masyarakat korban gempa di perkampungan pedalaman.

Sedih sekali melihat semua itu. Bantuan sulit didapat warga di pelosok Cugenang karena akses ke perkampungan kena kerusakan akibat gempa itu tadi. Mungkin inilah jalan Tuhan memperlihatkan kepada dunia, bagaimana akses lokasi di Cianjur begitu susahnya. Itu di wilayah Utara yang bisa dibilang kota. Apalagi kami di Cianjur Selatan yang lebih pelosok? Seandainya tidak ada gempa, mana bisa masyarakat luar tahu seperti apa terbelakangnya wilayah kami ini?
Pembangunan di Cianjur memang masih jauh dibandingkan kota kabupaten lainnya di Jawa Barat ini. Banyak struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa. Kontur tanah naik turun tapi banyak masyarakat yang memilih lokasi permukiman di sana sekaligus usaha berdagang sebagai sumber penghasilan.
Mereka dan pemerintah daerah mungkin tidak mengindahkan bagaimana risiko berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi).
Meski rumah kami masih berdiri tapi tidak disarankan berada di dalam mengingat masih kami rasakan beberapa kali gempa susulan yang masih menakutkan. Banyak tenda pengungsi didirikan. Kami bergabung demi keamanan. Meski saya dan suami memilih pulang pergi karena khawatir dengan barang yang tak seberapa tersisa di rumah.
Jangan salah, dalam keadaan bencana, kejahatan bisa saja terjadi lho. Tetangga saya kehilangan sepeda motornya ketika mereka keluar mengambil bantuan di posko. Apalagi barang elektronik lainnya yang bisa dengan mudah digasak.

Selain itu kami tidak nyaman hanya diam di pengungsian. Saya sehat dan bisa melakukan apa saja. Termasuk gabung di dapur umum dan bantu-bantu sebisanya.
Beberapa amanah dari teman-teman blogger dan komunitas sudah saya sampaikan saat itu juga. Tidak ada dokumentasi. Saya tidak tega memberi lalu memfotonya seolah hal itu dilakukan demi konten. Saya percaya teman-teman yang menitipkan rezekinya melalui saya saat ini tidak perlu bukti, tapi cukup pahala dari Nya, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar