Kamis, 24 November 2022

Blogger di Pengungsian

Saat tahu dari WhatsApp Group jika paman kami kena dampak gempa Cianjur, saya dan suami langsung mencari informasi bagaimana kondisinya. Namun pencarian informasi melalui saluran telepon tidak bisa maksimal karena selain sinyal timbul tenggelam, juga entah kenapa banyak saudara yang justru susah dihubungi. Mungkin tidak membawa ponsel, mungkin terlalu larut dalam kesedihan sehingga malas ngapa-ngapain, termasuk megang hapenya. Bahkan akhirnya saya tahu ada banyak yang hape tidak bersama pemiliknya karena tertinggal dalam reruntuhan atau hilang saat terjadi kepanikan akibat gempa. Karena itu sulit dihubungi.

Akhirnya suami memutuskan untuk datang langsung ke kampung tempat paman dan keluarga besarnya berada di Mangunkerta. Kampung yang memang cukup parah terkena dampak gempa, bisa dilihat kondisinya di berbagai liputan media, ya.

Meski Kamis ini H+3 dari hari kejadian gempa, tapi bagi kami tidak ada kata terlambat untuk terus mencari informasi. Bukan tidak ingin saat begitu kejadian gempa kami langsung terjun ke lapangan, tapi kan itu tadi, akses komunikasi terputus karena listrik mati dan internet juga ikut hilang, ditambah instruksi dari dinas pendidikan kabupaten Cianjur adanya Belajar Di Rumah (BDR) baru berlaku Kamis ini. Jadi otomatis suami dan anak baru bisa leluasa jadi team bringka lagi ya hari ini.

Sejak subuh kami sudah menyiapkan apa saja yang sekiranya diperlukan oleh paman dan saudara lainnya. Pokoknya yang ada dan sekiranya dibutuhkan serta bisa kami bawa langsung kami packing.

Ada kabar Presiden RI Kamis ini akan berkunjung ke RSUD Cianjur. Jika benar otomatis jalan-jalan di Cianjur tidak akan bisa leluasa dilalui. Kami mencoba berangkat lebih pagi. Menggunakan jalan tikus Alhamdulillah bisa melewati berbagai pos. Kalau lewat jalan utama ditutup dan dijaga aparat.

Hasil dari terobos sana terobos sini, hingga bisa menyaksikan sendiri, bangunan yang lebaran kemarin kami kunjungi masih berupa rumah keluarga dengan halaman dipenuhi sayur-mayur itu kini porak poranda. Yang terlihat dominan oleh mata hanya warna genting yang berserakan di depan kami. Rumah paman merata dengan tanah. Saya merasakan merinding dan air mata tidak bisa saya tahan, sangat deras bercucuran.

Kemana paman dan sepupu kami?

Sekian lama kami hanya diam dalam tangisan. Sampai matahari mulai nampak, orang berseragam orange mulai banyak berjalan hilir mudik. Mereka team rescue dan Basarnas. Banyak juga petugas berseragam lain. Semakin siang semakin banyak orang mungkin mereka relawan. Salah seorang bertanya kepada suami, kenapa kami ada di lokasi dan apa ada yang bisa mereka bantu?

Suami menjawabnya jika kami kehilangan paman dan sepupu. Rumahnya di lokasi yang kami injak ini, yang bangunannya semua rata dengan tanah.

Mereka tampak saling menghubungi pihak lain. Suami tetap ngobrol dengan mereka dan sempat-sempatnya bercerita jika dulu suami juga sering ikut acara Basarnas bersama Indonesia Mountain. Atau ikut latihan memanjat bareng di vertikal rescue. Ah mereka malah bernostalgia segala...

Sambil nunggu informasi itu saya bikin konten. Niatnya buat pribadi dan keluarga saja. Jadi saya gak memikirkan caption, angel, atau pencahayaan. Langsur hajar ngomong sambil rekam dan foto saja.

Biasanya kalau buat konten saya dibantu Fahmi, anak semata wayang. Tapi seperti memahami suasana berkabung, saat itu Fahmi menggelengkan kepalanya ketika saya ajak bikin vlog. Jadilah saya action sendiri.

Eh mungkin rupanya ada yang memperhatikan. Karena setelah merasa cukup saya ngerusuh sendiri, ada yang nanyain, Teteh katanya yutuber ya?

Saya tertawa dan jawab jujur saja, saya bukan yutuber, tapi saya blogger. Dia melongo. Lalu bertanya lagi emang blogger itu pa?

“Tadi saya lihat Teteh bikin video kan?”

Oh, saya baru paham. Mungkin karena saya bikin konten tadi makanya dia ngira saya yutuber.

“Enggak kok. Saya emang bikin video dan ambil foto tapi bukan buat diupload di YouTube. Saya buat untuk dokumentasi pribadi kami saja, buat penunjang tulisan saya di blog nanti.” Bisa saja video ini juga saya upload di TikTok atau Reels Instagram, yang nantinya saya embedded ke artikel di blog, bukan?

“waduh, bingung saya” katanya sambil garuk kepala.

Saya hampir melengos. Jaman now gitu lho, masa sih ada yang belum tahu juga apa itu blogger?

Sepertinya dia penasaran apa itu blogger. Tapi suami keburu memanggil saya mengatakan kalau ada informasi jika penghuni rumah di RT ini. Diungsikan ke tenda BNPB dan sebagian di tenda darurat dekat SD. Suami mengajak saya dan anak segera ke sana. Siapa tahu ketemu paman dan semua saudara.

“Saya pamit dulu ya. Kalau masih bingung dengan profesi blogger boleh main ke blog tehokti.com ya...”

Cus, Lah! Ga tahu dia paham apa enggak. Biarlah. Nanti kalau urusan saya di pengungsian selesai dan kami bisa bertemu lagi, dengan senang hati akan saya jelaskan lebih detail apa itu blogger dan kenapa saya lebih bangga menyebut diri seorang blogger daripada yutuber.

Bersambung gak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar