Rabu, 29 Juni 2022

Labirin Delapan dalam MIMDAN #8

Senang bisa menyimak acara IG Live Bincang Mimdan #8 Selasa malam 28 Juni kemarin. Selain bisa ketemu si kembar Eva dan Evi mojang geulis ti Bandung yang membocorkan informasi terkait  novela Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, saya juga bisa mendapatkan banyak informasi mengenai Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN).

Hayoo... kalau para blogger pasti udah tahu dong ya apa itu PANDI? Ialah Pengelola Nama Domain Internet Indonesia yang disingkat PANDI. Yaitu organisasi nirlaba yang melakukan pengelolaan nama domain di negara kita Indonesia (.id) dan domain-domain tingkat di bawahnya seperti domain yang diperuntukkan untuk website personal, my.id. PANDI ini dibentuk oleh komunitas Internet Indonesia bersama pemerintah pada 29 Desember 2006.

Acara MIMDAN yang disiarkan live dari Instagram Merajut Indonesia @merajut_indonesia ini sendiri ternyata sudah rutin dilaksanakan. Saya baru tahu dan baru bisa menyimak ketika sudah sampai di #8 saja. Satu sampai tujuhnya saya kemana aja yaaa? Tutup muka...

Padahal acara MIMDAN ini asli keren dan nambah banyak wawasan. Seperti kemarin itu, Bincang MIMDAN #8 temanya “Sejarah dan Budaya dalam Novela Platform Digital”. Yang jadi topik pembicaraan novel Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, yang mana ternyata novela itu berlatar kuat sejarah Indonesia-nya. Cerita yang diangkat saja tindak tanggung -tanggung, seputar wisata sejarah Candi Borobudur yang sekarang lagi trending itu karena sempat naik harga tiket masuknya.

Jadi Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu ini diterbitkan di Platform Digital setelah melalui rangkaian riset yang cukup lama, sekitar tiga tahunan. So, bukan aji mumpung mentang-mentang Candi Borobudur lagi ramai jadi bahan pembicaraan lalu Eva bikin novel ini, tidak demikian. Jauh sebelum pandemi, Eva memang sudah membuat persiapan matang novel berlatar sejarah ini.

Evi Sri Rezeki, pembawa acara IG Live Bincang Mimdan #8

Fiksi sejarah terkait wisata Candi Borobudur memang unik dan terbilang langka disaat remaja jaman now banyak tertarik pada dunia korea -koreaan. Namun seperti sejarah yang tidak lekang dimakan waktu, fiksi karya Eva ini pun dipercaya akan memiliki nilai dan penggemar pada tempatnya.

Apalagi Eva sudah bergabung dengan beberapa komunitas kebudayaan dan sejarah sejak lama, sehingga ia makin fokus dalam melakukan riset baik dalam hal literatur seni budaya wisata Candi Borobudur tentang relief (ada lima seri buku yang kesemuanya tebbbal) maupun riset lapangan ke wisata candi lainnya seperti Candi Gedong Songo. Tidak sedikit pula riset literatur platform digital yang diaksesnya baik gratisan maupun berbayar.

Jika risetnya memerlukan waktu sampai bertahun-tahun, bertolakbelakang dengan proses penulisannya, Eva justru bisa menyelesaikan novela yang berceritakan tentang delapan orang tokoh dari berbagai kalangan dan usia ini terjebak dalam labirin di dalam Candi Borobudur, hanya sekitar dua-tiga bulan saja. Mulai menulis dari akhir 2021 dan selesai di awal tahun 2022.

Sungguh penasaran dengan cerita lengkapnya deh ah... Sayang saat Selasa malam ketika acara IG Live Bincang Mimdan #8 berlangsung saya tanya bagaimana cara akses atau mendapatkan novela itu, pertanyaan saya itu belum terjawab. Mungkin karena terbatasnya waktu. Sementara yang bertanya itu banyak sekali.

Eva Sri Rahayu penulis Labirin Delapan

Tidak hanya membahas tentang karyanya itu saja, Eva juga tidak pelit memberikan informasi seputar tips dan trik membuat fiksi sejarah budaya yang memang terbilang susah.

Indikator keberhasilan menulis novel sejarah budaya memang tidak mudah. Karena butuh riset yang sangat panjang dan detail. Tapi jika dilihat dari sisi si penulis sendiri, maka bisa dikatakan berhasil jika:

  1. Penulis bisa menyampaikan kalimat atau kata bermakna budaya. Sekaligus memiliki misi yang kuat untuk mengangkat budaya itu sendiri.
  2. Latar atau tempat yang diangkat memiliki unsur nilai kebudayaan yang tinggi. Bukan hanya tempelan kisah sang tokoh hidup di sekitar lokasi budaya sejarah, melainkan mampu menceritakan secara detail apa yang selama ini tidak diketahui masyarakat umum mengenai lokasi sejarah budaya tersebut. Jadi lokasi budaya tersebut mampu jadi unsur penggerak cerita.
  3. Konten yang tentu saja mengandung nilai budaya itu sendiri baik dari segi sejarah, mitologi dan sebagainya.

Supaya sang tokoh dalam fiksi budaya terkesan nyata, Eva memberikan banyak bocoran. Kelengkapan sebuah novel ditandai dengan adanya tiga hal yaitu ide utama cerita, plot, dan karakter.

Karakter ini jadi kunci. Supaya tokoh terkesan nyata penulis harus bisa membuat si tokoh:

  1.  mendapatkan banyak masalah. Masalah dari berbagai sisi secara kompleks.
  2. Beri si tokoh banyak kekurangan sehingga pembaca kelak merasa greget, simpati dan khawatir.
  3. Beri sang tokoh kebutuhan sehingga ia memaknai perjalanan dalam ceritanya. Mulai pertumbuhan, perubahan, sampai karakter akhir.

Saat ini platform online sedang marak bermunculan. Lalu bagaimana nasib percetakan selanjutnya? Menurut Eva maraknya platform online itu sebenarnya ada sisi baiknya juga. Karena penerbit justru bisa membuat platform online sendiri. Penerbit bisa mencari bibit penulis dari platform online miliknya itu. Saat ada karya yang bagus dan digemari pembaca bisa saja karya itu ditarik untuk dicetak.

Mudah tidaknya bikin novela baik secara cetak maupun platform online itu tergantung dari maping novela nya itu sendiri.

Eva sendiri menjabarkan maping novela nya dengan didahului oleh Premis (kalimat yang menggambarkan tentang novela), lalu sinopsis (termasuk di dalam ada kerangka karangan dll) lalu struktur plot.

Yang terakhir nih ada tips menulis fiksi budaya dari Eva:

  1. Tentukan visi dan misi. Khususnya ada niat dan kepedulian terhadap budaya dan sejarah. Jadi tidak hanya menjual cerita budaya saja tapi juga peduli dengan kondisinya. Ada masyarakat yang masih belum tahu tentang sejarah budaya lokasi tertentu, saat membaca cerita kita diharapkan tidak menimbulkan salah kaprah di masyarakat
  2. Sejarah harus diceritakan dengan terlebih dahulu melalui riset, membaca banyak literasi, terjun langsung ke lapangan dan sebagainya
  3. Menulis cerita baik online maupun cetak harus menyertakan tiga tulang punggungnya yaitu -> Premis -> Sinopsis -> Struktur Plot (Logika Cerita)

Tidak terasa IG Live Bincang Mimdan #8 dari Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) ini pun selesai sudah. Kita berharap lewat karya fiksi ini diharapkan sejarah dan budaya bisa diterima dengan mudah oleh generasi jaman sekarang, ya.

Sampai jumpa di acara MIMDAN selanjutnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar