Kamis, 01 Desember 2022

Bagaimana Masa Depan Anak?

Udah lewat tengah malam lagi, udara semakin dingin ditambah sisa hujan masih terasa menetes di terpal tenda darurat yang ditempati karena gempa susulan selalu terasa dan jika memilih tidur di rumah ditakutkan malah celaka. Tapi mata ini terasa belum ngantuk juga. Kenapa ya?

Jika hanya berdua dengan anak seperti sekarang, pikiran selalu loncat kesana-kemari. Gulungan memori selama hampir sepuluh tahun anak kami terlahir ini selalu hilang dan muncul silih berganti. Menatap wajahnya yang tertidur pulas, seolah tanpa beban dan terlihat damai. Padahal di usianya yang masih belia itu, ia sudah melihat kekacauan hubungan orang tuanya yang sedikit banyak saya tahu itu sudah melukai dan merusak pikiran dan jiwanya.

Sering memikirkan kelak bagaimana ia mengahadapi istrinya secara sejak kecil ia selalu melihat bagaimana perlakuan ayahnya kepada ibunya. Perang dingin yang pecah ketika keluar kalimat-kalimat menyakitkan. Saya masih bisa tahan. Tapi bagaimana diterimanya oleh anak?

Saya tidak ingin apa yang ia alami dijadikan kebiasaan apalagi pembenaran. Saya ingin mengubah itu sejak dulu tapi ibarat bertepuk tangan tidak mungkin terjadi jika hanya sebelah tangan yang melakukan, bukan?

Saya tidak ingin egois. Saya tidak akan mengaku benar sendiri. Saya mencoba berusaha meningkatkan dan menjaga komunikasi dengan pasangan sehingga hubungan menjadi lebih baik dan harmonis. Tapi hasilnya hanya sesaat. Ibarat pepatah Sunda adat kakurung ku iga yang artinya sifat atau kebiasaan buruk yang sudah ada dan susah untuk dihilangkan. Begitu juga dengan kami. Baiknya hanya seminggu dua minggu. Beberapa saat kemudian begitu lagi. Meski karena hal sepele, atau ada perkataan yang menyinggung, langsung baper, diam dan akhirnya itu tadi, perang dingin.

Ada atau tidak ada masalah, lima tahun terakhir ini saya tidak pernah menyanggahnya. Saya tidak pernah menuduh, malah menjauhi dari keinginan untuk memperhatikan karena takutnya disalahartikan. Ngajago, ngajajah, dan masih banyak lagi istilahnya... Semenjak saya tahu jika ada semacam dendam dalam hatinya mengenai kelakuan saya di masa lalu, saya merasa harus tahu diri.

Mungkin sering mendengar adanya hubungan menantu-mertua yang tidak berjalan baik? Menantu kerap terlibat konflik dengan mertua, sehingga memengaruhi hubungan mereka dengan pasangan.

Tentu saja tidak semua hubungan menantu-mertua tidak berjalan baik. Sebab, masih ada mertua yang menyayangi menantu layaknya anak kandung, begitu pun sebaliknya.

Saya menyadari menikah itu bukan hanya menyatukan dua karakter yang berbeda, namun juga menyatukan dua keluarga yang berbeda. Pola pikir yang berbeda antara menantu dan mertua bisa menimbulkan konflik sehingga hubungan menjadi tidak harmonis.

Perbedaan pola pikir dan karakter sebetulnya wajar terjadi. Sebab, menantu dan mertua lahir pada era yang berbeda dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda pula. Pastinya kita pun tidak dapat memilih tipe mertua sesuai keinginan, bukan?

Hal yang perlu dilakukan hanyalah memahami perbedaan kepribadian, pola pikir, hingga cara penyelesaian masalah. Sikap saling menghargai dan menghormati diperlukan guna menciptakan hubungan harmonis antara mertua dan menantu. Tapi jika itu belum dicapai, ya ujungnya jadi masalah dan fatalnya jika tetap disimpan dalam hati, jadi dendam meski sang mertua sudah tiada.

Anak bungsu yang selalu dimanja, dididik dengan kasih sayang (yang sempat diakuinya kalau itu salah) jadi faktor penyebab selanjutnya. Mungkin tidak siap melepas anaknya untuk menjalani hubungan pernikahan dengan orang lain. Ada yang bilang mertua perempuan umumnya lebih sulit melepas anak laki-lakinya untuk menikah dengan orang lain. Mungkin karena  khawatir anaknya akan melupakan dirinya dan lebih memprioritaskan istrinya. Ketidakrelaan dan ketakutan itu terus menghantui mertua perempuan, sehingga memengaruhi penilaiannya terhadap menantunya.

Salahnya saya tidak mengenal lebih jauh mertua dengan baik terlebih dahulu sebelum menikah. Saya belum sempat meyakinkan mertua bahwa anaknya tetap menyayangi orangtuanya meski memutuskan menikah dengan orang lain. Meski sudah pasti pasangan tetap memiliki waktu bersama orangtua secara kami tinggal bersamanya.

Dan mungkin justru karena kami tinggal dalam satu atap, ini yang jadi faktor utama munculnya konflik.

Mertua perempuan sering sekali merasa anak laki-lakinya adalah miliknya, sehingga dia bisa mengatur kehidupan anak laki-lakinya. Sedangkan, menantu perempuan merasa mertua terlalu ikut campur kehidupan rumah tangganya.

Salah saya juga tidak bisa menahan emosi dan tidak mencoba berkomunikasi dengan orang tua.

Berkomunikasi, ini kata kuncinya. Tapi bagaimana bisa jika orangnya saja susah diajak komunikasi. Berlindung di balik sifat pemalu, jarang bicara, pendiam, atau apalah istilahnya menjadikannya seolah terbebas dari keharusan berkomunikasi selayaknya sebagaimana seorang pemimpin rumah tangga.

Saya sudah memberikan kesempatan untuk melakukan apa saja yang sekiranya menurutnya baik. Sampai saya mengabaikan diri saya, orang tua dan keluarga saya sendiri. Nah, pada saat saya memberikan kesempatan berbicara itulah semacam dendam yang terus dipupuknya muncul kepermukaan. Setelah saya tahu itu hati saya mengkerut. Seandainya tidak ada anak, saya sudah tidak peduli lagi.

Berusaha untuk menjalin komunikasi pun hanya berasa kepura-puraan saja. Karena bisa merasakan mana yg sampai hati, mana yang hanya di permukaan saja. Pembicaraan sederhana sekalipun bisa menjadi pemicu ketidakharmonisan karena mungkin sifatnya mudah tersinggung, memiliki dendam itu tadi, atau entahlah... Sudah bawaannya begitu saja kali.

Saya hanya berusaha memperbaiki diri dengan mencoba tetap terbuka, tetap menjadikan ia teladan apalagi di depan anaknya. Karena yang saya khawatirkan hanya masa depan anak. Itu yang muncul dalam pikiran saya manakala saya berbincang dengan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar