Cuma Disuruh Follow, Kok Beratnya Seperti Disuruh Bayar Utang?
Pernah tidak, baca status orang terkait informasi peluang usaha (job) atau apapun di Threads, lalu disertai kalimat: “Bagi yang tertarik dan ingin informasi lebih lanjut, silakan DM.”
Sederhana, kan? Tidak diminta transfer uang. Tidak diminta mengisi formulir 17 halaman. Tidak diminta mengirim fotokopi KTP, KK, ijazah, surat keterangan dari RT, apalagi surat rekomendasi dari mantan. Cuma satu: kalau tertarik, kirim pesan.
Eh, yang terjadi malah kolom komentar ramai.
“Min, saya tertarik.”
“Kak, mau infonya.”
“Saya berminat.”
“Boleh minta detailnya?”
Yang punya status langsung membalas, “Boleh banget. DM, dong…”
Tapi setelah itu hening.
Mungkin tidak ada DM?
Suatu ketika saya mengalami kejadian seperti itu. Jadi saya dapat informasi peluang job dari teman, sayangnya saya gak bisa daftar karena followers kurang. Tapi saya diberi kesempatan untuk share lagi informasi kesempatan itu.
Saya pun mencoba share informasi tersebut di Thread, dengan akhiran yang mirip, kalau berminat silahkan DM (kirim direct message) ke saya.
Saya tunggu. Kolom komentar dan like memang ramai. Sama seperti yang saya udah perhatikan di akun lain di awal artikel ini, ada yang bilang berminat, ada yang minta info lebih detail, ada yang bilang mau banget dengan job nya, dan sebagainya. Tapi kok, belum ada yang DM.
Saya berkali-kali cek perpesanan, takut ini akun saya yang bermasalah.
Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Yang datang malah balasan komentar berikutnya.
“Kak, saya nggak bisa DM.”
Nah, di sinilah kesabaran saya mulai diuji. Udah seperti ujian praktik SIM saja... Dengan lugas, langsung jawab “Nggak bisa DM atau nggak mau follow”?
Saya pikir, kenapa tidak bisa DM, setelah diperhatikan, ternyata salah satu penyebabnya adalah mereka belum (tidak mau) mengikuti akun saya.
Ya, memang ada pengaturan di Threads yang bisa membuat orang yang tidak saling mengikuti mengalami keterbatasan dalam mengirim pesan.
Syarat utama untuk bisa mengirim Direct Message (DM) di aplikasi Threads adalah pengguna berusia minimal 18 tahun serta tujuan pesan harus merupakan akun yang kita sudah follow (ikuti) atau akun mutual (saling mengikuti) di Instagram.
Jadi sebenarnya solusinya sederhana: Follow dulu. Setelah itu, kalau memang informasi yang saya bagikan benar-benar dibutuhkan, silakan kirim pesan.
Tetapi ternyata tombol Follow ini bagi sebagian orang rasanya lebih berat daripada mengangkat galon, pemirsah...
Saya sampai berpikir memangnya kenapa sih ya, follow satu akun saja kerasa berat gitu? Apakah dengan memfollow saya akan memenuhi memori HP nya? Apakah setelah menekan tombol Follow, saldo rekening otomatis berkurang?
Atau jangan-jangan setelah follow akun saya, nanti ada petugas datang membawa tagihan? Tentu saja tidak.
Hanya satu klik. Tetapi satu klik kecil itu ternyata bisa terasa sangat mahal ketika seseorang merasa dirinya punya banyak followers, gengsi merasa siapa eloh harus gue follow? Dan enggan memfollow akun receh seperti saya ini.
Gengsi Itu Kadang Lebih Mahal daripada Kesempatan
Saya tidak tahu apa alasan sebenarnya orang enggan mengikuti akun saya. Mungkin malas. Mungkin gengsi. Pastinya juga tidak kenal. Atau mungkin merasa, “Ah, buat apa follow akun yang followers-nya baru seratusan?”
Nah, ini yang menurut saya menarik.
Kadang kita terlalu sibuk melihat berapa besar angka seseorang, sampai lupa melihat apa yang sedang dibawanya.
Akun dengan followers seratus orang belum tentu membawa informasi yang nilainya seratus.
Sebaliknya, akun dengan puluhan ribu followers juga belum tentu setiap hari membawa peluang kebaikan.
Angka followers bukan jaminan bahwa setiap informasi di dalamnya tidak berguna. Peluang bisa datang dari mana saja. Bahkan bisa datang dari akun kecil yang selama ini tidak pernah kita lirik.
Dan yang lebih lucu, kita bisa saja kehilangan peluang hanya karena tidak mau melakukan pengorbanan kecil tersebut.
Dalam kasus yang saya bahas ini, pengorbanannya cuma sepele, follow satu akun. Selesai.
Kalau Memang Tertarik, Kenapa Tidak Mau Berusaha Sedikit?
Itu yang akhirnya membuat saya kesal. Kalau seseorang memang tidak tertarik dengan informasi tawaran peluang job itu, saya tidak masalah. Silakan lewat. Scroll saja. Saya juga tidak akan mengejar.
Tetapi kalau sudah menulis komentar: “Saya tertarik.” Lalu ketika diminta mengirim DM justru tidak mau melakukan langkah kecil yang diperlukan untuk mendapatkan informasi tersebut, saya jadi bertanya-tanya...
Sebenarnya tertarik atau cuma ikut meramaikan kolom komentar? Sebab dalam kehidupan nyata, mendapatkan sesuatu hampir selalu harus membutuhkan usaha dulu.
Mau pekerjaan? Kirim lamaran. Mau pelanggan lakukan promosi. Mau ilmu? Ya belajar. Mau badan sehat? Bergerak. Mau nasi? Masak atau beli.
Tidak ada yang namanya peluang jatuh dari langit sambil berkata “Ini, Kak. Kebetulan cocok untuk Anda. Tidak perlu usaha.” Wadidaww... Kalau ada, saya juga mau.
Tapi setidaknya saya juga harus berterimakasih ya, karena dengan begitu saja, komen di status saya itu udah menaikkan insight dan engagement akun.
Kita Sering Ingin Mendapatkan, tetapi Tidak Mau Berkorban
Menurut saya, kejadian kecil di Threads ini sebenarnya menggambarkan kebiasaan yang lebih besar dalam kehidupan.
Kita sering menginginkan hasil, tetapi keberatan melakukan proses. Kita ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi malas memperluas jaringan. Kita ingin mendapatkan pelanggan, tetapi malas berkenalan. Kita ingin mendapatkan informasi, tetapi malas mengikuti sumber informasinya. Kita ingin mendapatkan kesempatan, tetapi tidak mau sedikit pun keluar dari zona nyaman.
Padahal pengorbanan tidak selalu berarti mengeluarkan uang. Sebagaimana dikatakan Teh Ani Bertha di Selasa Sharing minggu kemarin, di Komunitas ISB.
Kadang pengorbanan hanya berupa waktu, tenaga, perhatian, keberanian, atau satu klik kecil.
Dan lucunya, justru pengorbanan kecil seperti itulah yang sering kita anggap terlalu berat.
Follow Itu Bukan Berarti Merendahkan Diri
Saya juga tidak mengatakan semua orang harus mengikuti setiap akun yang menawarkan sesuatu. Tidak. Kita juga tetap harus selektif. Kalau akunnya tidak relevan, tidak perlu diikuti. Kalau informasinya meragukan, jangan percaya. Kalau terlihat seperti penipuan, justru harus menjauh.
Tetapi kalau kita memang membutuhkan informasi dari seseorang, lalu satu-satunya hambatan untuk mendapatkannya adalah harus mengikuti akun tersebut, menurut saya tidak ada salahnya melakukan itu.
Jangan sampai gengsi membuat kita kehilangan kesempatan.
Toh, follow bukan berarti kita sedang memberikan penghargaan Nobel. Cuma mengikuti akun. Kalau nanti ternyata isinya tidak bermanfaat, tinggal unfollow aja, beres kan? Selesai.
Followers dan Following Sama-sama Bisa Membuka Pintu
Ada satu hal yang sering kita lupakan. Followers bukan cuma angka. Following juga bukan sekadar angka. Di balik akun-akun yang kita ikuti ada manusia. Di balik manusia ada pengalaman. Di balik pengalaman ada pengetahuan. Dan di balik pengetahuan kadang ada peluang.
Ketika kita mengikuti orang lain, sebenarnya kita sedang memperluas pintu menuju informasi. Begitu pula ketika orang lain mengikuti kita.
Ketika saya follow akun Blogger Banjarmasin, saya yang urang Sunda siapa tahu jadi nambah wawasan terkait budaya dan tradisi warga Kalimantan Selatan.
Jaringan menjadi lebih luas. Silaturahmi terus bertaut walaupun sebelumnya tidak saling kenal, domisili tidak berdekatan. Tapi bisa jadi percakapan bertambah. Informasi bergerak.
Kesempatan bisa muncul dari hubungan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Jadi saya justru melihat bertambahnya followers dan following sebagai sesuatu yang positif selama dilakukan dengan sehat dan tidak asal mengejar angka.
Bisa saja hari ini kita mengikuti seseorang karena sebuah informasi. Besok kita mendapatkan ilmu darinya. Lusa kita berkenalan dengan orang lain melalui akun tersebut. Bulan depan, siapa tahu justru ada pekerjaan atau kerja sama yang datang. Bukankah rezeki sering kali datang melalui jalan yang tidak kita duga?
Dari Kesal Menjadi Pelajaran
Jujur saja awalnya saya memang kesal, makanya mengeluarkan unek-unek ini biar plong. Plus share lagi inti ilmu yang sudah dibagikan guru blogger kita Ani Bertha (kita?? Saya aja kali...) tentang kekuatan jejaring dan networking.
Sudah diberi informasi, sudah dijelaskan caranya, masih saja hanya berkomentar, “Saya tertarik,” tetapi tidak mau melakukan langkah berikutnya.
Rasanya seperti orang berdiri di depan warung sambil berkata "Bu, saya mau makan.”
Ketika ditanya, “Mau pesan apa?” Dia menjawab “Ya, saya mau makan.”
Lho, terus? Makanannya emang bisa melompat sendiri ke mulut?
Begitu pula peluang. Kadang informasi sudah ada di depan mata, tetapi kita sendiri yang harus mengambil langkah berikutnya.
Dari kejadian kecil ini saya akhirnya belajar satu hal: Jangan terlalu gengsi untuk melakukan pengorbanan kecil demi mendapatkan kesempatan yang kita inginkan.
Kalau memang tertarik, berusahalah. Kalau memang ingin tahu, bertanyalah. Kalau memang ingin mendapatkan peluang, ambillah langkah. Mau niche parenting, lifestyle, fooddies, otomotif, atau apalah, semuanya insyaallah akan ada manfaatnya.
Jangan hanya berkata, “Saya mau,” tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Sebab dalam hidup, kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Dan jangan sampai kesempatan yang kita tunggu-tunggu bertahun-tahun akhirnya lewat hanya karena kita merasa “Ah, masa saya harus follow dulu?”
Kadang rezeki memang tidak meminta kita melakukan hal besar. Kadang ia cuma meminta kita menekan tombol kecil bernama: FOLLOW.
Btw yang belum berteman di Thread boleh kita saling kepo ya, akun saya @teh_okti dan @indungbageur



Nah itu Teh, saya sendiri juga merasa ajaib sama orang² di Sosmed ya. Saya pernah ngadain GA di IG, dulu bangeett.. Syaratnya kudu follow, eh habis selesai dan ada yang menang malah pemenangnya unfollow. Saya ngadain lagi GA org yg unfollow, follow lagi.
BalasHapusSaya juga nggak tahu ya apa yang menyebabkan mereka seperti itu. Jadi penasaran juga sih. Padahal ya follow juga nggak merugikan, selama kita g bahas hal² ilegal, kenapa takut follow ya.. 🥹🥹
Fenomena ngartis kali Mbak. Ada rumor followers banyak itu wow... Following sedikit itu tokoh yang dijadikan panutan. Wkwkwkwkwk... Tapi ternyata dia masih butuh kota ya. Ketahuan follow unfollow. Kalau saya jadi panitia, bakalan saya blacklist deh. Soalnya itu orang terlihat gak amanah
HapusEmang iya ya, sekarang banyak orang pengennya langsung enak aja dikasih syarat dikit langsung mundur, pengennya serba instant, padahal syaratnya mudah dan gratis malahan.
BalasHapusTapi anehnya kalo itu artis, seleb atau apalah yang sebenarnya ga ada benefit sama sekali buat kita, malah dengan sukarela di follow dan komen, seolah kita akan diberi sesuatu yang besar olehnya.
Mungkin meski kita sudah memberi sedikit manfaat bagi mereka, mereka masih merasa bahwa kita itu tidak ada gunanya sama sekali.
Kak, kalaupun udah follow ada kok yang emang ga bisa DM. Aku sempet begitu, tombol buat DM di Threads ilang entah kenapa. Tapi lama kelamaan balik lagi aja itu tombolnya 😀😀
BalasHapusPadahal kalau mau, tinggal follow, trus dm, ternyata ga cocok, ya udah tinggal unfollow ya mba. Ga ada susahnya. Tapi memang orang2 aneh sih.
BalasHapusAku sendiri berhubung sosmed semata hanya untuk hiburan, asal yang follow teman atau keluarga yang aku kenal, pasti aku follow balik. Kalau kontennya memang bagus, aku juga bakal follow. Kalau udah bosan, ya tinggal unfollow.
Aku kan tiap traveling, biasanya bikin GA ya. Tapi aku ga mau bikin syarat wajib follow 🤣. Aku bebasin. Yang penting jawaban GA bener 😄. Tapi malah jadi rame juga yg follow waktu itu, apalagi aku rutin bikin GA nya.
Kayaknya orang2 ini bangga kalau punya banyak follower, tapi sedikit following yaa 😅
Fenomena follow dan unfollow ini memang menarik dibahas, ya kak.
BalasHapusPadahal media sosial harusnya bisa jadi tempat buat saling terhubung, bukan malah bikin kepikiran gara-gara urusan follow-followan.