Pentingnya Disiplin dan Tanggung Jawab di Dunia Kerja
Ada dua kata yang kelihatannya sederhana, tetapi sering bikin seseorang terlihat profesional: disiplin dan tanggung jawab.
Disiplin itu misalnya datang kerja tepat waktu. Tanggung jawab itu menyelesaikan pekerjaan tanpa harus dikejar-kejar atasan. Bayangkan wajah sangar debt collector...
Masalahnya, dalam dunia kerja, kedua hal tersebut kadang dianggap sepele. Ada yang berpikir, “Ah, telat lima menit doang.”
Lima menit memang sebentar. Tetapi kalau setiap hari lima menit, lama-lama jam kerja kita seperti punya fitur skip intro.
Padahal, dunia kerja bukan hanya soal siapa yang paling pintar. Kemampuan teknis memang penting, tetapi kebiasaan bekerja dengan disiplin, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab juga sangat menentukan.
Datang Tepat Waktu Itu Bukan Sekadar Soal Jam
Disiplin paling mudah dilihat dari kebiasaan datang kerja.
Kalau jam kerja dimulai pukul 08.00, lalu kita baru muncul pukul 08.27 sambil berkata, “Maaf, macet,” mungkin sesekali alasan itu dianggap benar. Tetapi kalau rumah kita berjarak 15 menit dari kantor dan tetap datang terlambat hampir setiap hari, berarti yang macet bukan jalan rayanya. Mungkin perencanaannya.
Datang tepat waktu menunjukkan bahwa kita menghargai waktu sendiri sekaligus waktu orang lain. Apalagi jika pekerjaan kita berhubungan dengan tim. Keterlambatan satu orang kadang bisa membuat pekerjaan beberapa orang ikut tertunda.
Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO) juga menjelaskan bahwa pengaturan waktu kerja berkaitan dengan produktivitas, kesehatan, keselamatan, dan kinerja perusahaan. Artinya, mengatur waktu kerja dengan baik bukan perkara kecil.
Namun, disiplin juga bukan berarti harus bekerja sampai lupa pulang. Disiplin juga berarti tahu kapan bekerja dan kapan beristirahat.
Jangan sampai karena ingin terlihat rajin, seseorang bekerja 12 jam sehari, kemudian hari berikutnya datang ke kantor dengan wajah seperti printer kehabisan tinta. Pias...
Tanggung Jawab Berarti Berani Mengakui Kesalahan
Tidak ada manusia yang selalu benar. Kecuali kalkulator, itu pun termasuk benda dan kalau baterainya tidak habis.
Dalam pekerjaan, kesalahan bisa saja terjadi. File salah kirim, angka keliru, jadwal terlewat, atau laporan belum selesai. Yang membedakan orang bertanggung jawab dengan orang yang suka mencari kambing hitam adalah sikap setelah kesalahan terjadi.
Orang bertanggung jawab akan berkata, “Ini kesalahan saya. Saya perbaiki.”
Sementara orang yang kurang bertanggung jawab biasanya mempunyai koleksi alasan:
“Anu, itu kan karena omputernya error.”
“Udah mau dikerjakan tapi kan internetnya lambat.”
“Mau gimana, teman saya belum mengirimkan data nya.”
“Kucing saya menginjak keyboard. Berantakan deh...”
Untuk alasan terakhir, mungkin bisa dibenarkan. Tetapi tetap saja kucing tersebut tidak bisa dipanggil HRD kan?
Tanggung jawab bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Tanggung jawab berarti bersedia memperbaiki kesalahan dan belajar agar tidak mengulanginya.
Disiplin Membuat Orang Lain Bisa Percaya
Di dunia kerja, kepercayaan adalah modal yang sangat mahal.
Bayangkan ada seorang pegawai yang selalu menyelesaikan tugas sesuai waktu. Ketika diberi pekerjaan, dia mengerjakannya. Ketika mengalami masalah, dia memberi tahu. Ketika melakukan kesalahan, dia memperbaikinya.
Lama-lama orang akan berpikir, “Kalau pekerjaan ini diberikan kepada dia, kemungkinan besar beres.”
Itulah salah satu hasil dari disiplin dan tanggung jawab: kepercayaan.
Sebaliknya, kalau seseorang sering terlambat, sering lupa, pekerjaan harus ditagih berkali-kali, dan setiap masalah selalu punya kambing hitam, lama-lama teman kerja akan berpikir dua kali sebelum memberinya tugas.
Bahkan mungkin sebelum memberikan pekerjaan, mereka lebih dulu membaca doa...
Data Menunjukkan Sikap Kerja Memang Berpengaruh
Ini bukan sekadar nasihat ala orang tua: “Kalau kerja yang rajin, ya, Nak.”
Penelitian Gallup dalam Q12 Meta-Analysis edisi ke-11 menganalisis 183.806 unit bisnis dan kerja, mencakup lebih dari 3,35 juta pekerja, di 53 industri dan 90 negara. Hasilnya menunjukkan hubungan yang kuat antara keterlibatan karyawan dengan berbagai hasil bisnis.
Dibandingkan kelompok dengan tingkat keterlibatan lebih rendah, unit kerja dengan keterlibatan tinggi memiliki 14% produktivitas lebih tinggi berdasarkan catatan produksi dan evaluasi, 18% produktivitas penjualan lebih tinggi, serta 78% lebih rendah tingkat ketidakhadiran. Mereka juga menunjukkan 23% profitabilitas lebih tinggi.
Memang, data tersebut membahas employee engagement, bukan sekadar disiplin dan tanggung jawab secara langsung. Tetapi temuan tersebut memperlihatkan satu hal penting: perilaku dan keterlibatan manusia di tempat kerja berhubungan dengan hasil organisasi. Jadi, bekerja asal hadir saja jelas belum cukup.
Disiplin Tidak Harus Menjadi Robot
Ada salah kaprah bahwa pegawai disiplin adalah orang yang hidupnya seperti robot.
Bangun. Kerja. Makan. Kerja. Pulang.
Tidak boleh tertawa. Tidak boleh bercanda. Tidak boleh ngobrol. Padahal bukan begitu.
Kita tetap manusia. Boleh bercanda, boleh ngobrol, boleh ngopi. Bahkan kadang ngobrol lima menit dengan teman bisa membuat suasana kerja lebih menyenangkan. Yang penting, tahu batas.
Jangan sampai waktu kerja dipakai untuk rapat dengan grup WhatsApp keluarga, menonton video kucing selama 45 menit, kemudian ketika atasan bertanya, “Sudah selesai?”
Jawabannya: “Oh, itu, sedang dalam proses, Pak.” Proses menuju panik?
Kesimpulan: Jadilah Orang yang Bisa Diandalkan
Disiplin dan tanggung jawab sebenarnya tidak membutuhkan ilmu yang rumit.
Datang tepat waktu. Kerjakan tugas sesuai kesepakatan. Jangan menunda pekerjaan tanpa alasan. Berani mengakui kesalahan. Berkomunikasi kalau ada masalah. Dan yang paling penting, jangan membuat orang lain harus mengejar pekerjaan kita setiap hari.
Kemampuan bisa dipelajari. Pengalaman bisa bertambah. Jabatan bisa naik turun. Tetapi reputasi sebagai orang yang bisa dipercaya dibangun sedikit demi sedikit dari kebiasaan sehari-hari.
Sebab di dunia kerja, orang pintar memang banyak. Orang yang punya keterampilan juga banyak. Tetapi orang yang disiplin, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya biasanya lebih tidak mudah dicari.
Jadi, kalau besok pagi alarm berbunyi, jangan langsung mematikannya sambil berkata, “Lima menit lagi.”
Karena sering kali karier hancur bukan karena satu kesalahan besar. Melainkan kadang kehancuran dimulai dari kalimat sederhana: “Santai aja dulu. Sebentar ini kok, cuma lima menit.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar