![]() |
| Gerakan sosialisasi Bank Sampah oleh Bank Sampah Bersinar Bandung |
Sadar gak sih kalau setiap hari, sebenarnya kita memegang peranan penting dalam menentukan masa depan lingkungan yang mendukung ekonomi sirkular Indonesia? Coba deh perhatikan, dari bungkus makanan, botol plastik bekas, hingga sisa sayuran dapur—semuanya berkumpul di tempat sampah dapur.
Selama ini, kita terbiasa dengan pola pikir "kumpul, angkut, buang". Namun, menumpuk sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bukan lagi solusi yang berkelanjutan. Jawaban nyata dari persoalan ini justru tidak dimulai dari teknologi canggih atau fasilitas besar, melainkan dari tindakan sederhana di dalam rumah kita sendiri.
Mengapa Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah?
Rumah adalah hulu dari segala muara aliran sampah di perkotaan. Ketika sampah tidak dipilah sejak dari dapur, semua material organik dan anorganik akan bercampur menjadi satu, membusuk, dan menimbulkan bau menyengat serta munculnya gas metana yang berbahaya. Sampah yang tercampur juga jadi kehilangan nilai daur ulangnya karena sudah terkontaminasi.
Memilah sampah dari rumah itu sebenarnya tidak susah, tidak membutuhkan waktu lama, melainkan hanya membutuhkan pembiasaan.
Sampah kita bagi tiga bagian, antara sampah organik, sampah anorganik dan sampah residu.
Sampah Organik
Sampah berupa sisa makanan, dedaunan, dan kulit buah yang kesemuanya itu bisa diolah menjadi kompos.
Sampah Anorganik
Sampah terdiri dari plastik, kertas, kaca, dan logam yang bisa didaur ulang. Bisa jadi bahan lain yang lebih berguna dan bermanfaat.
Sampah Residu
Adalah jenis sampah sisa yang sudah tidak dapat diurai secara alami, tidak bisa didaur ulang, dan tidak bisa dijadikan kompos. Contoh sampah ini seperti popok sekali pakai, pembalut, dan tisu bekas.
![]() |
| Bank Sampah Induk Bersinar di Bandung |
Bayangkan kalau ketiga jenis sampah itu tidak kita pisahkan, lalu menumpuk jadi satu di tempat sampah. Pastinya kotor sekali dan para pemulung pun enggan untuk memungutnya.
Tapi dengan memilahnya dari rumah, kita telah mengurangi 60-70% beban sampah yang seharusnya dikirim ke TPA.
Dari Limbah Menjadi Peluang: Sampah Itu Bernilai!
Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang. Sampah bukan sekadar barang bekas tak berguna, melainkan sumber daya yang belum dimanfaatkan.
Ketika dikelola dengan benar, limbah berubah menjadi peluang ekonomi dan sosial yang nyata.
Nilai Ekonomi Daur Ulang
Botol plastik, kardus, dan kaleng bekas memiliki ekosistem pasar daur ulang yang bergerak aktif.
Pupuk Organik dan Kompos
Sisa makanan rumah tangga dapat diolah menjadi kompos berkualitas tinggi yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman atau dijual ke komunitas berkebun.
Ekonomi Sirkular
Mengembalikan material bekas ke dalam rantai produksi menciptakan lapangan kerja baru di sektor daur ulang dan ekonomi kreatif. Saya punya kaos merchandise yang dibuat dari bahan daur ulang sampah botol plastik. Ternyata nyaman juga dipakainya. Waktu terjadi gempa Cianjur beberapa tahun lalu, saya juga mendistribusikan banyak selimut yang juga terbuat dari bahan daur ulang plastik.
Kolaborasi: Kunci Mengatasi Persoalan Sampah
Persoalan sampah terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa partisipasi warga. Begitu juga sebaliknya, masyarakat butuh dukungan regulasi dan infrastruktur dari pemerintah serta inovasi dari sektor swasta.
Di sinilah kolaborasi jadi kunci utama. Ketika warga memilah dari rumah, petugas kebersihan mengangkut secara terpisah, industri daur ulang menyerap materialnya, dan pemerintah menyediakan kebijakannya, sebuah sistem pengelolaan sampah terpadu yang efisien akhirnya dapat terwujud.
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Pendekatan terbaik dalam menyelesaikan masalah di masyarakat adalah dengan memberdayakan komunitas setempat. Pengelolaan sampah berbasis putra daerah alias warga lokal lebih membangun rasa kepemilikan dan kepedulian bersama.
Ketika pihak RT, RW, atau desa bergerak bersama, maka insyaallah akan tercipta:
1. Edukasi berjalan alami
Antar warga dan tetangga saling mengingatkan dan mengedukasi tentang cara memilah.
2. Gotong royong terasa hidup
Kegiatan bersih lingkungan dan pengolahan kompos dilakukan sebagai norma sosial yang positif.
3. Kemandirian wilayah
Komunitas mampu menyelesaikan sebagian besar masalah sampahnya di tingkat bawah sebelum sampai ke TPA.
![]() |
| Setelah menukar sampah daur ulang dengan kupon, bisa dibelikan sembako dan atau bayar tagihan di rumah |
Harapan Baru Melalui Bank Sampah Induk Bersinar Targetkan 1.000 Bank Sampah Unit untuk Mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia
Inisiatif dan Target Ekonomi Sirkular
Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar yang didirikan oleh Ibu Fifie Rahardja menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU). Program ini dirancang untuk mendukung gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat sekaligus menjadi fondasi pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung.
Konsep dan Integrasi Ekosistem Terpadu
Melalui program ini, peran bank sampah ditransformasikan dari sekadar tempat menabung sampah menjadi pusat perubahan sosial dan ekonomi. YSBI mengintegrasikan Bank Sampah Induk Bersinar, Local Education, dan Lumbung Mandiri ke dalam satu ekosistem terpadu yang menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal.
Capaian dan Harapan Masa Depan
Sejak didirikan pada tahun 2014, Bank Sampah Induk Bersinar telah memiliki 547 BSU yang tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Bandung. Ke depannya, penambahan jumlah BSU hingga ribuan diharapkan dapat memperkuat budaya memilah sampah langsung dari sumbernya serta meningkatkan nilai ekonomis sampah bagi keberdayaan masyarakat.
Salah satu bentuk nyata pengelolaan berbasis masyarakat yang terbukti efektif adalah adanya Bank Sampah Unit. BSU hadir sebagai jembatan yang mengubah kebiasaan memilah menjadi manfaat ekonomi langsung bagi warga.
Melalui sistem seperti perbankan pada umumnya, warga menyetorkan sampah anorganik yang sudah dipilah dan bersih, lalu dicatat dalam tabungan.
Mengapa Bank Sampah Unit Menjadi Harapan Baru?
- Mengubah Perilaku
Menjadi insentif positif yang merangsang warga untuk konsisten memilah.
- Dampak Ekonomi Tambahan
Hasil tabungan sampah bisa digunakan untuk membayar iuran warga, membeli kebutuhan pokok, hingga menambah tabungan keluarga.
- Pemberdayaan Perempuan dan Pemuda
BSU sering kali digerakkan oleh kader PKK atau pemuda setempat, hal itu bisa menciptakan ruang kepemimpinan baru di tingkat komunitas.
Bagaimana saca memulai nya? Tidak perlu menunggu langkah besar yang sempurna. Cukup mulai dari menyiagakan dua tempat sampah berbeda di rumah, lalu ajak tetangga di sekitar kita untuk bergabung dalam gerakan Bank Sampah Unit terdekat.
Dimulai dari sudut dapur kita masing-masing, lingkungan yang bersih dan mandiri bukan lagi sekadar impian.
Penguatan Tata Kelola Menuju Organisasi Profesional
YSBI tengah melakukan penguatan kelembagaan melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), sistem administrasi, indikator kinerja (KPI), pengembangan sumber daya manusia, hingga sistem pelaporan jadi lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
Penguatan organisasi menjadi fondasi penting agar gerakan Bank Sampah Bersinar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Sekolah Menjadi Bagian Penting Gerakan Ekonomi Sirkular
Sebagai strategi jangka panjang, Bank Sampah Induk Bersinar juga mulai memperluas program edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah.
Melalui program ini, para siswa dikenalkan pada budaya memilah sampah, konsep ekonomi sirkular, serta pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.
Diharapkan kedepannya, sekolah juga mampu membentuk Bank Sampah Unit Sekolah sebagai pusat edukasi sekaligus contoh praktik pengelolaan sampah bagi masyarakat sekitar.
![]() |
| Ekonomi Sirkular di SMKN 5 Bandung |
Pentahelix Indonesia Bersinar
YSBI meyakini bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, YSBI menginisiasi Pentahelix Indonesia Bersinar, sebuah gerakan kolaboratif yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media untuk bersama-sama membangun solusi nyata di bidang lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
YSBI juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, komunitas, organisasi masyarakat, media, serta para profesional yang memiliki visi yang sama dalam membangun Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Jadi upaya kita dari sudut dapur rumah walaupun hanya sekadar memilah sampah itu sudah termasuk kolaboratif bersama Pethahelix Indonesia Bersinar yang baik.
Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar.




Gerakan yang sangat bagus untuk membangun kesadaran masyarakat akan sustainable living. Saya sendiri melihat bagaimana anak saya di sekolah sudah diajarkan pilah sampah, presentasi mengenai bahaya sampah dan limbah serta bagaimana menjaga lingkungan dengan daur ulang sampah.
BalasHapusSemoga program-program seperti ini mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah secara langsung.
Bagus ya program sekolah putranya
HapusSemoga terus maksimal hasilnya sehingga terasa manfaatnya di masyarakat
Teh Oktiii kekecilan gambarnya :(
BalasHapusWah, aku suka banget angle tulisan ini. Selama ini dapur sering dianggap cuma tempat masak, padahal dari sanalah perubahan besar bisa dimulai.
Kebiasaan sederhana di rumah dengan konsep ekonomi sirkular bikin topik yang awalnya terasa "berat" jadi mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi sadar kalau mengurangi food waste, memilah sampah, atau memanfaatkan kembali bahan makanan bukan cuma baik buat lingkungan, tapi juga bisa berdampak ke ekonomi keluarga. Ternyata perubahan memang nggak selalu harus dimulai dari langkah besar, cukup dari dapur sendiri. Keren banget, menginspirasi tanpa terasa menggurui! hanupis teh okti
Aku pakai hp jadi ga tahu Mak
HapusTapi ukuran udah diseting besar kok ini tuh
kalo saya mah mulai dari awal belanja udah mempraktikkan ekonomi sekuler
BalasHapusSeperti, dibanding kemasan sachet, saya pilih botol, karena tau botol bisa direcycle sementara sachet gak bisa
hehehe mungkin karena kebetulan saya pernah belasan tahun mendampingi komunitas pengelolaan sampah
Bermula dari hal kecil yang bisa dilakukan di rumah seperti memilah sampah ini akan sangat mengurangi beban sampah di TPA. Lebih baik lagi jika pengurus RT RW bisa berperan memberikan Edukasi dan penyuluhan ke warganya untuk melakukan pemilahan terpadu. Selain itu penyuluhan dan Edukasi ke sekolah juga penting agar kesadaran lingkungan bisa ditanamkan sejak usia dini dan menjadi kebiasaan. Tidak hanya memilah sampah tapi bagaimana kita bisa berperan menghemat air dan listrik di lingkup rumah tangga.
BalasHapusGerakan yang sangat bagus sekali, patut di apresiasi dan di jalankan oleh setiap orang sebetulnya. Perkara sampah ini nggak bisa sendirian.
BalasHapusDi rumah, aku sama keluarga udah merapin pilah sampah, buat kompos dari limbah organik, lalu botol-botol apapun yang bernilai ekonomis akan ku jual ke pengepul atau ke vending mesin.
Tetangga ku malah suka berkreasi dari barang bekas dan menghasilkan bahan buka peluang kerja juga.
Menarik banget pembahasan terkait Ekonomi Sirkular.
Keren udah ada vending mesin
HapusSampah daur ulang nya bisa langsung dipraktekkan didaur ulang sama tetangga ya
Iya teh, di Bogor Alhamdulillah ada vending mesin buat tempat menjual botol-botol plastik. Jadi, seenggaknya nambah penghasilan juga semisal emang ada botol-botol bekas.
HapusMemilah sampah ini beneran berdampak baik. Bagi yang memilah, TPA pun jadi nggak penuh sesak, petugas sampah kebantu. Lingkungan so pasti lebih bersih dan terjaga.
Bagian yang bikin saya mikir ulang itu soal 60-70% beban sampah TPA yang sebenarnya bisa berkurang cuma dari kebiasaan memilah di rumah, Teh. Selama ini saya kira usaha personal kayak gini nggak akan kerasa dampaknya, ternyata kalau dikalikan sekampung ya lumayan besar juga.
BalasHapusKonsep Bank Sampah Unit yang mengubah menabung sampah jadi manfaat ekonomi langsung juga menarik banget, apalagi bisa dipakai buat bayar iuran atau beli sembako. Jadi keinget, mulai dari dua tempat sampah di rumah aja udah lumayan, nggak perlu nunggu program besar dulu ya.
Bener banget ini mah teh. Dapur memang titik awal paling penting dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Selama ini kan kebanyakan pempus dan pemda fokusnya sering ke TPA, padahal masalahnya sudah dimulai sejak sampah tercampur dari rumah. Makanya di Jepang, semua rumah diwajibkan pilah sampah sendiri, baru ditaruh ke luar. Kalau gak pilah sendiri, bakal denda.
BalasHapusOoh iya, ide bagus ini ya mbak. Kalau ada reward seharusnya juga ada punishment bagi yang tidak menjalankan sesuai aturan yang sudah disepakati.
HapusSetuju tehhh,,,awal mula pembuangan sampah memang berasal dari sampah rumah tangga yaa...dan aku sendiri juga sudah berusaha menerapkan nya memilah antara limbah organik anorgani serta residu ini meski tetap masih ada satu dua yang kadang masih salah cemplung duhhh,,tapi selalu diusahan untuk dilakukan seluruh anggota keluarga
BalasHapussama, mbak kalau aku berusahanya misahin sampah botol dan kalau sisa sayur gitu kubikin kompos gitu jadinya nggak dibuang ke tempat sampah
HapusPilah sampah saat ini sudah menjadi program pemerintah. Jadi dalam hal ini juga dibutuhkan kesadaran dari masyarakat. Selain itu sebaiknya juga dilakukan pelatihan dan penyuluhan pilah sampah di tiap daerah. Semoga dengan adanya pilah sampah dapat membantu melestarikan bumi sebagai warisan generasi mendatang.
BalasHapusNah, iya bener banget. Pilah sampah udah masuk ke program pemerintah. Semoga sosialisasi nya masif dan merata. Selain itu, kesadaran masyarakat pun dibutuhkan supaya tergerak beraksi nyata.
HapusSampah punya nilai ekonomi kalau bisa dipilih dan di pilah, lumayan banget dari dapur udah bisa hasilkan cuan. Selain itu TPA makin berkurang dan nggak membludak. Nice sekali solusi jitu kurangi sampah.
Seneng rasanya melihat masyarakat semakin sadar akan pengolahan sampah. Ini semua bisa dilakukan karena adanya sosialisasi dan juga pewartaan seperti blog ini. Semakin banyak berita tentang bank sampah dan cara pengolahan sampah, semakin sadar masyarakat, dan lingkungan bisa jadi semakin terjaga ^^
BalasHapus"Gotong royong terasa hidup" setuju sekali :D semangat untuk warga Indonesia
BalasHapusSalutt banget ama YSBI!
BalasHapusMengingat sampah di Indonesia nih jumlahnya segabrukkk ya, apalagi ada MBG.
Wadidaww itu sehari dah berapa ton sampah yg terproduksi ya kaann.
Pastinya dibutuhkan kerjasama berbagai pihak (pentahelix)
Supaya bisa menjadi satu ekosistem terpadu yang menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal.
Ah setuju kak, karena dukungan dari berbagai pihak jadi langkah strategis, sehingga pengelolaan sampah bisa lebih terarah
HapusAh keren banget, apa yang dilakukan oleh YSBI ini ya
BalasHapusMemang sebenarnya, sampah kalau dipilah, itu mudah diolah. Nah kalau sudah diolah, bisa jadi gerakan ekonomi sirkular ya
Sepakatt.. Suka juga dengan sudut pandangnya. Ekonomi sirkular ternyata tidak selalu soal hal besar atau industri, dari dapur di rumah pun kita bisa mulai menerapkannya. Jadi lebih sadar juga untuk tidak buru-buru menganggap semua sisa sebagai sampah.
HapusBenar banget dapur jadi pusat terbaik mengelola ekonomi. Apalagi kita bisa terbiasa memilah sampah dengan benar maka dampaknya jauh lebih luar biasa
BalasHapusSetuju. Memang sampah kalau diolah bisa jadi berkah ya. Mengolah sampah bisa dimulai dengan memilahnya dari rumah
Hapusulasannya lengkap sekali. semoga semakin banyak yang tergerak untuk ikut serta soal pengelolaan sampah ini, ya
BalasHapusSebenarnya bisa banget ya kita berpartisipasi soal sampah ini. Mulai dari dapur, asal konsisten juga akan terasa perubahannya
Hapuskehadiran bank sampah ini idealnya tiap kelurahan ada sih ya, Teh biar orang nggak buang sampah sembarangan dan terbiasa memilah sampah. salut sih sama Bank Sampah Induk Bersinar yang memiliki tujuan 1000 bank sampah unit dalam rangka penerapan sistem ekonomi sirkular
BalasHapusBanyak banget pelajaran dari tulisan ini aku Teh.. termasuk bagaimana agar kita su memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memulai Ekonomi sirkular di Indonesia ini. Mengenalkan dan menularkan ke anak juga ternyata jadi lebih bikin kita "terpaksa" istiqomah. Jadi memang kolaborasi ya
BalasHapusSetuju kak Enda, karena jadi inspirasi buat kita sebagai pembaca artikel ini bahwa kolaborasi untuk mengelola sampah memabg harus barengan dilakukan. Kerja bareng, semangat bareng, sehingga dampak positif nya bisa terwujud
HapusSemoga konsep yang demikian yang digagas oleh Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar bisa diduplikasi oleh daerah-daerah lainnya di Indonesia, harapannya sih target Indonesia Bebas Sampah bisa terwujud
BalasHapusNgurus sampah emang harusnya dari skala rumahan sih. Kalau semua rumah tangga menyadari pentingnya memilah sampah dari rumah, kemungkinan permasalahan sampah bisa teratasi sih.
BalasHapusCuma memang, butuh edukasi yang terus-menerus untuk menuju ekonomi sirkuler.
Betul. Pengelolaan sampah dari rumah ini akan lebih efektif menekan penurunan jumlah sampah. Apalagi di era ekonomi sirkular, sampah pun bernilai banget. Jadi, edukasinya kudu masif biar semakin terbuka pengetahuan masyarakat.
HapusMelalui Bank Sampah Induk Bersinar, ini pun jadi wadah ciamik ya.
Suka sekali dengan program daur ulang sampah, tapi entah kenapa di sekitar tempat tinggal saya masih belum ditemukan gerakan seperti ini, padahal saya tinggal di Jakarta. Semoga gerakan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar dapat berkembang dan menyebar ke semua titik di Indonesia.
BalasHapusJadi penasaran seperti apa bentuk selimut yang juga terbuat dari bahan daur ulang plastik. Ternyata plastik tuh kalau didaur ulang dengan benar, hasilnya tuh bermanfaat banget
BalasHapusSaya setuju sekali ini soal pemilahan sampah wajib dari rumah dulu. Karena bisa bernilai ekonomis. Kalau sudah masuk ke TPA, ya semua jadi sampah. Apalagi sudah ada bank-bank sampah. hasilnya lumayan, bisa nambah uang belanja. Pasti ikut melestarikan lingkungan.
BalasHapusKerap kali kita enggak sadar kalau kebiasaan kecil dari dapur ternyata dampaknya segede itu. Keren banget gerakan Bank Sampah Bersinar, apalagi pas tahu sampah pilahan bisa ditukar sembako atau dibikin selimut.
BalasHapusKeren juga anak-anak sekolah mulai diajarin dari dini. Inspiratif banget! Semoga target 1.000 Bank Sampah Unit cepat tercapai. Mulai hari ini mau coba konsisten pisahin tempat sampah organik dan anorganik di rumah.
kadang kita malas milah karena dianggap ribet, padahal kalau sudah jadi kebiasaan dari dapur ternyata dampaknya luar biasa. Kerasa banget manfaatnya pas tahu sampah anorganik bisa ditukar jadi sembako atau bayar iuran via Bank Sampah. Keren juga gerakan Pentahelix ini, bikin masyarakat merasa dilibatkan dan gak jalan sendirian.
BalasHapusLangkah kecil dari rumah ternyata bisa jadi perubahan besar ya!
benar nih, kak. kadang memang ribet sih urusan memilah sampah ini padahal kalau di luar negeri kayak di korea itu sampah wajib banget dipilah sebelum dibuang. semoga aja ke depannya semakin banyak yang sadar dengan kebiasaan memilah sampah ini
HapusKemaren aku baca-baca teh, katanya di jakarta aja sekarang tuh sampah-sampah udah mulai direformasi ya. Targetnya 2029 udah ga ada lagi open dumping. Dan menurutku, ini gebrakan yang okeeee banget si. Karena permasalahan sampah dan polusi ini, benar-benar kian meresahkan dari waktu ke waktu.
BalasHapusDan saya sepakat, hal ini terlalu besar untuk dilimpahkan ke satu domain saja. Makanya semua pihak harus bekerja sama.Pemerintahnya support, warganya pun gotong royong. Niscaya tercipta sinergi yang kelak bisa mengubah wajah lingkungan Indonesia selamanya. Amiiin
Sekarang mulai banyak bank sampah di tiap2 lingkungan.Kalau di lingkungan rumah ibuku dulu udah dilakukan keknya sejak aku masih kecil. Kalau nggak salah pas walkotnya Bu Risma tu gencar banget kudu bebersih lingkungan dan banyakin RTH.
BalasHapusTiap Hari Minggu ibu2nya suka pilah sampah kering, sampah basah dihandle tukang sampah. Tapi kyknya sekarang makin banyak yang jago handle sampah basah juga kyk dikompos.
Kalau di lingkungan perum sini, juga lumayan mulai banyak yang sadar memisahkan sampah. Minyak jelantah juga diangkut bahkan, sama sih, dapat uang.
Emang kalau nunggu ngandelin pemerintah aja susah. Masyarakat kudu pinter2 bergerak sendiri dari rumah masing2 untuk mengatasi persoalan sampah ini.
BTW penasaran YSBI ini selain beraktivitas di Bandung, di kota2 mana lagi ya?
Keknya pernah denger di Depok, apa yayasan yang sama ya?
Walau bagaimanapun juga, semua sampah memang sebagian besar berasal dari rumah ye kaannn.. Makanya kalo saja dari rumah sudah dipilah, wah pasti lebih rapi lagi distribusi sampahnya tuh.
BalasHapusYes betul sekali. Pemerintah gak bisa sendirian. Warga juga sebaiknya harus berkontribusi juga untuk pengelolaan sampah yang lebih baik. Terutama dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yakni rumah tangga.
Semoga dengan hadirnya Bank Sampah Induk Bersinar dari Yayasan Solusi Bersinar Indonesia ini bisa membantu meningkatkan sosial ekonomi walau dari pengelolaan sampah.
Semoga dengan semakin gencarnya edukasi pengelolaan sampah oleh masyarakat begini, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah kian meningkat dan permasalahan sampah dapat terurai satu persatu
BalasHapusAku suka sekali gagasan bahwa perubahan besar soal sampah justru bisa dimulai dari sudut dapur rumah sendiri. Selama ini memilah sampah organik, anorganik, dan residu terlihat seperti hal kecil, padahal kalau dilakukan banyak keluarga dampaknya pasti besar.
BalasHapusKonsep Bank Sampah Unit juga menarik Teh karena sampah yang biasanya dianggap nggak guna ternyata masih punya nilai ekonomi dan bahkan bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Semoga gerakan seperti Bank Sampah Bersinar semakin banyak hadir di berbagai daerah, supaya kebiasaan memilah sampah tidak berhenti sebagai kesadaran pribadi, tetapi benar-benar menjadi budaya bersama. :D
kegiatannya sangat bermanfaat yaa teh,,,,ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan. LIngkungan sehat berawal dari pemilahan sampah yang tepat. memilah sampah basah dan kering terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai di dalam tanah menjadi dangat penting. Bagus banget programnya
BalasHapussudah saatnya kita memilah sampah sendiri, minimal untuk sampah plastik. Gerakan memilah sampah perlu digerakkan sebagai gerakan kolektif yang bisa dimulai di lingkup RT dan rumah.
BalasHapusJujur aku baru tahu konsep ekonomi sirkular ini yang pastinya sangat bisa berkontribusi dalam upaya menjaga lingkungan. Semoga saja gerakan dari Bank Sampah Induk Bersinar ini juga bisa diikuti oleh daerah-daerah lainnya sehingga sampah yang ada bisa dikelola dengan baik juga
BalasHapusSetuju, gerakan TPS3R seperti ini perlu di galakan dimana-mana, seharusnya melalui program nasional yang nantinya dalam pelaksanaanya diawasi oleh pemerintah secara berjenjang.
BalasHapusSaya alami sendiri dalam melaksanakan program ini agak lumayan sulit, terutama dalam membangun kedasadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah, membentuk komunitas warga yang memiliki kedaran tinggi dalam melaksanakan program ini lumayan harus sabar dan rajin.
Dulu gak pernah kepikiran sampah rumah bisa punya nilai jual, taunya kalau sampah sayur untuk pupuk di rumah sendiri, sampah plastik ya di buang, padahal sampah bisa punya nilai jual jika dikelola seperti Bank Sampah Induk Bersinar ini ya teh. Berdampak banget buat lingkungan sekitar.
BalasHapusDapur memang jadi hulu dari permasalahan sampah rumah tangga. Tulisan ini membakar semangat banget buat makin konsisten pilah sampah dari rumah (organik, anorganik, dan residu).
BalasHapusInspiratif sekali gerakan dari YSBI dan Ibu Fifie Rahardja, semoga target 1.000 Bank Sampah Unit bisa segera tercapai dan makin banyak masyarakat yang merasakan dampak positif ekonomi sirkular ini. Sampah memang urusan masyarakat pada akhirnya, nggak bisa diselesaikan sendiri karena solusinya butuh gerakan massal.
Saya sangat setuju dengan program 1000 bank sampah ini. Mengelola sampah dengan benar adalah hal yang paling penting. Berawal dari diri kita sendiri bagaimana memisahkan sampah organik, anorganik maupun sampah residu di rumah kita. Terkadang kita malas memilahnya, belum lagi kalau bapak sampah yang datang mengambil sampah ke rumah-rumah langsung angkut dan dijadikan satu dengan sampah lainnya
BalasHapusApapun program yang dijalankan untuk tujuan menjaga lingkungan aku selalu dukung apalagi di lingkunganku mau didirikan Bank Sampah jugaa
BalasHapusMenarik juga melihat bahwa konsep ekonomi sirkular ternyata bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di dapur. Selama ini urusan sampah rumah tangga sering dianggap sepele, padahal kalau dilakukan terus-menerus jumlahnya pasti banyak. Aku sendiri masih harus belajar lebih disiplin memilah dan memanfaatkan kembali barang yang masih bisa digunakan, daripada sedikit-sedikit langsung dibuang
BalasHapusJakarta kan waktu itu dibilang ga boleh dicampur lagi sampahnya. Aku tuh sampe beli beberapa tong sampah utk memilah sampah mba. Krn kuatir tukang sampah ga mau angkut kalau masih dicampur.
BalasHapusTp kenyataannya, di kunjungan rumahku , itu semua sampah dicampur jugaaa 😢.
Ga paham sih... La wong katanya udh ga boleh, kok ya kenyataannya masih aja..
Dan RT di sini pun kayak cuek. Krn kayak sampah dapur ini mau diapain. Aku ga mungkin bikin kompos . Halaman aja ga ada. Kalah dilingkungan lain, disediain tuh sampah khusu utk sisa makanan, di titik2 tertentu. JD RT nya yg nanti bikin program kompos.
Boro2 di sini, tak adoo 😅😅. Aku tetep pilah sampah di rumah, tp masalah si tukang sampah tetap aja campur semua, dah laah... Urusan dia dulu ...
Di lingkungan rumah maksudnya
BalasHapusSetuju sekali. Kadang kita merasa kontribusi memilah sampah dari rumah itu terlalu kecil untuk disebut sebagai bagian dari gerakan besar. Padahal justru kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah yang kalau dilakukan bersama bisa memberikan dampak nyata. 😊
BalasHapusbetul teh, mengelola sampah sebenarnya bisa diawali dari rumah. Dari unit terkecil dahulu, baru ke tempat pembuangan sampah
BalasHapusKeren banget ketika keberhasilan pegelolaan sampah menjadi perubahan perilaku yang lebih positif :) Sampah organik, non organik dan residu memang harus dibuang secara terpisah, sehingga memudahkan proses pembuangan selanjutkan. Bahkan sampah menjadi produk ekonomis yang bernilai tinggi. Ekonomi sirkular harus diterapkan di seluruh aspek kehidupan dan wilayah agar masyarakat semain sehat dan berdampak lebih baik bagi kita semua.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMemang benar semuanya harus dimulai dari dapur dan rumah sendiri. Kadang kita merasa pemilahan sampah di rumah cuma hal kecil, tapi kalau melihat datanya yang bisa mengurangi 60–70% beban sampah ke TPA, dampaknya ternyata besar sekali. Tapi, paling gak semua sampah sayur dan buah di rumah selalu dijadikan kompos untuk tanaman di halaman sendiri. Penasaran deh sama selimut dari bahan daur ulang plastik yang disalurkan waktu gempa Cianjur.
BalasHapusKolaborasi memang menjadi kunci ya, Teh. Kalau semua bergerak barengan, insya Allah rencana besar menuju ekonomi sirkular Indonesia bakal terwujud.
BalasHapusWarga masyarakat punya peran dalam manajemen sampah. Dimulai dari hal kecil, yaitu punya kesadaran utk memilih dan memilah jenis sampah sebelum dibuang ya
BalasHapusKeren bgt ini kak gerakannya. Emak2 di rumah bs berdaya, ga cuman ngurus masak aja. Sampah hasil masak atau selama proses memasak bs diberdayakan. Syukur kalo sampahnya ini bs jd cuan. Apa ini nanti kalo sampah anorganik bs ditabung? Kayak jadi tabungan duit dr hasil mengumpulkan botol2 bekas gt kak? Kalo iya, keren bgt tuh.
BalasHapusEmak2 pasti mau kalo ada cuannya. Duitnya bs diambil pas Lebaran atau akhir tahun misalnya. Sampah2 yg bertebaran di dekat rumah atau sungai pasti ga ada lagi kalo ada gerakan spt ini.
Wah, setuju banget sama poin kalau perubahan besar itu emang harus dimulai dari lingkup paling kecil kayak dapur rumah. Kadang kita ngerasa langkah kecil kita nggak ngaruh apa-apa, padahal kalau dikumpulin bareng-bareng dampaknya bakal kerasa banget buat keberlangsungan lingkungan. Makasih banyak udah nulis artikel keren ini, nambah sudut pandang baru banget.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSampah selalu menjadi masalah yang kompleks ya, masih banyak yang selalu abai dengan keberadaan sampah termasuk saya yang kadang sadar kadang tidak, malah suka diingetun anak ketika berada diluar mau buang sampah harus pada tempat yang tepat sesuai lokasinya, misalnya yang daur ulang dan yang organik, kalau tidak tepat dia akan ngomel, hiks. Butuh kerja sama dengan berbagai pihak tentunya ya karena masalah besar tidak bisa terselesaikan jika semua masyarakat tidak sadar tentang sampah. Kegiatan ini bagus si semoga bisa jadi percontohan buat wilayah lain.
BalasHapusKagum banget sama orang-orang yang bergerak di belakang layar dari mulai mengurus hingga mengedukasi mengenai sampah.
BalasHapusKami pernah punya sahabat yang juga sangat fokus sama pilah sampah dan kelola begini... dan memang edukasinya harus dari sekolah ke sekolah sejak dini. Ga hanya anak-anak, orangtua pun wajib teredukasi dengan pemahaman yang sama.
ni menarik banget, karena ternyata dari hal sederhana yang kita lakukan di dapur sehari-hari pun bisa ikut berkontribusi pada ekonomi sirkular. Kadang memang perubahan besar tuh dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Jadi kepikiran juga, jangan-jangan selama ini masih banyak “sisa” di rumah yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.
BalasHapusAku suka banget ketika isu lingkungan dibawa ke hal yang paling dekat dengan kehidupan kita: dapur. Karena memang sering kali kita baru sadar pentingnya menjaga lingkungan setelah melihat bahwa kebiasaan kecil di rumah ternyata punya dampak yang panjang. Dari sisa makanan sampai cara mengelola sampah, ternyata semuanya bisa dimulai dari rumah sendiri.
BalasHapusAlhamdulillah teh, sejak pandemi dan punya tanaman di dak atas, saya tidak pernah buang sampah organik, setiap satu minggu sekali biasanya menjadi makanan cacing hehe, hanya saja belum efektif karena langsung disatukan dengan tanaman. Pernah bikin sampah organik, eh tanaman pada mati, ternyata harus dicampur air....akhirnya sekarang selalu disatukan dengan tanaman langsung...
BalasHapusDan ternyata ini di Kabupaten Bandung ya teh, ketua yayasannya kaya familiar ya...
HapusMenarik pisan teh. Ternyata dari dapur pun kita bisa belajar soal ekonomi sirkular. Hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele justru bisa punya nilai kalau dikelola dengan cara yang tepat.
BalasHapusPengelolaan sampah berbasis komunitas atau masyarakat ini bakalan bagus banget klo bisa dilaksanakan di semua lini dan wilayah. Beberapa lingkungan seperti perumahan juga bahkan sudah mulai berjalan tapi memang selain komitmen dan kekompakan seluruh unsur, edukasinya juga harus kenceng supaya semua orang bs tersosialisasi dengan baik dan memahami betul proses dan manfaatnya.
BalasHapusPenerapan konsep pentahelix ini memang bagus sekali ya, jadi semua pihak bisa berpartisipasi sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing, tanpa perlu merasa kecil hati. Semoga makin meluas bisa diterapkan di banyak daerah, jadi pelan-pelan cita-cita lingkungan Indonesia makin terjaga ini pun dapat terwujud.
BalasHapusAku tuh sering merasa urusan sampah selesai begitu sudah masuk tempat sampah, padahal ternyata justru dari situlah proses berikutnya dimulai. Menarik banget melihat bagaimana kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah bisa terhubung dengan konsep ekonomi sirkular. Aku juga suka karena edukasi seperti ini dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Kalau sudah terbiasa memahami mana yang masih bisa dimanfaatkan dan mana yang benar-benar menjadi sampah, rasanya menjaga lingkungan jadi bukan sekadar teori, tapi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
BalasHapusSampah memang sebaiknya dipilah dari rumah ya. Saya sendiri sudah mulai memilah sampah meski belum sempurna. Sampah organik dijadikan kompos, sampah yang bisa di daur ulang saya setor ke bank sampah, sisanya baru dibuang ke tempat sampah.
BalasHapusSemoga gerakan seperti ini bisa terus berlanjut. Terlebih semoga bisa disupport oleh pemerintah. Jujur saja, peran pemerintah dalam pengolahan sampah ini masih sangat kurang sekali.
Ternyata kebiasaan kecil di dapur seperti memilah sampah ternyata dampaknya bisa seluas itu sampai ke rantai ekonomi sirkular. Salut juga untuk inisiatif Bank Sampah Induk Bersinar yang konsisten merangkul komunitas hingga ke sekolah-sekolah—semoga target 1.000 BSU-nya bisa segera tercapai dan makin banyak keluarga yang tergerak untuk mulai memilah dari rumah. Tempat lain harus mencontoh nih, supaya bisa punya bank sampah juga, jadi bisa ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
BalasHapusSemakin banyak yang bergerak, semakin baik mendukung ekonomi sirkular in. Saya ga paham sebetulnya apa hubungannya sampah dapur dengan ekonomi sirkular ternyata dengan pengolahan sampah itu bagian dari ekonomi sirkular, sampah jadi punya nilai lebih dan memperpanjang masa pakainya plusnya lagi iktserta menjaga lingkungan. Keren program bank sampah bersinar ini
BalasHapusBukan hanya dibiasakan di rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar, tapi juga diawali dari sekolah sebagai fokus sosialisasi. Jadinya anak-anak belajar lebih awal dengan harapan untuk menerapkannya pula di rumah nantinya.
BalasHapusGerakan ini emang harus dijalankan bersama, serempak sih. Semakin banyak yang memulai kebiasaan baik ini, Insya Allah semakin baik pula pengelolaan dan pengolahan sampah kita. Manfaatnya ya pastinya dinikmati kita juga.
BalasHapusUrusan sampah ini memang harus diselesaikan bersama-sama yaa.. teh
BalasHapusDimulai dari diri sendiri dan edukasi yang baik dalam keluarga juga masyarakat. Bersama Bank Sampah Bersinar, kelola sampah dengan baik dan menghidupkan perekonomian sirkular.
Mudah2an, entah bagaimana, satu dari 1000 BSU Bank Sampah Induk bisa didirikan di Gili Trawangan sini.
BalasHapusSoalnya permasalahan sampah di sini sdh kronis. Sudah di titik seolah-olah seperti bom waktu yang entah kapan mengkolapskan pulau cantik seluas 340 hektar persegi ini.
Harapan yang semoga tidak ketinggian. Aamiin..
Sampah residu adalah tantangan bagi buibu. Apalagi yang dalam satu rumah mostly anggota keluarga cewek... Ah, begitulah
BalasHapus