Di tengah gempuran makanan instan dan hidangan modern yang semakin mudah ditemukan, ada harta warisan rasa yang perlahan mulai tersisihkan, yaitu kuliner tradisional Sunda.
Banyak olahan kuline dari daerah Priangan tak lagi sering terhidang di meja makan sehari-hari, bahkan ada yang hanya tersisa kenangan bagi generasi tua.
Di sinilah peran food blogger kuliner Sunda menjadi sangat berharga. Bukan sekadar berbagi foto makanan, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini agar kekayaan kuliner ini tidak punah ditelan waktu.
Apa yang Membuat Kuliner Sunda Istimewa?
Kuliner Sunda identik dengan prinsip “sederhana, segar, dan alami”. Mengandalkan bahan-bahan dari alam sekitar, diolah dengan cara yang tidak merusak rasa asli, serta didominasi cita rasa gurih, segar, dan sedikit asam. Namun sayangnya, seiring berubahnya gaya hidup dan ketersediaan bahan baku tradisional, banyak hidangan khas ini mulai jarang dijumpai bahkan di daerah asalnya sendiri.
Beberapa contoh kuliner tradisional Sunda yang mulai langka dan patut kita lestarikan:
1. Nasi Tutug Oncom
Berbeda dengan nasi biasa, nasi tutug oncom dibuat dengan cara menumbuk nasi hangat bersama oncom yang sudah dibumbui dan dibakar. Rasanya gurih, sedikit renyah, dan sangat khas. Dahulu sering menjadi bekal para petani, sekarang bisa ditemukan di beberapa desa atau acara adat tertentu.
Kelangkaan ini dijadikan peluang usaha bagi sebagian pebisnis kuliner dengan menjual nasi tutug oncom baik secara luring maupun daring.
Di tempat saya masih ada yang jual nasi TO ini kalau datang ke car free day (yang berubah jadi pasar dadakan) setiap hari Minggu.
Alangkah baiknya jika masyarakat Sunda bisa memasak nasi tutug oncom ini sendiri dan menghidangkan nya di rumah, bukan?
2. Laksa Bogor Versi Tradisional
Bukan laksa dengan kuah santan kental yang banyak beredar sekarang, laksa Sunda asli menggunakan kuah dari rebusan ikan air tawar dan rempah sederhana. Isinya pun menggunakan beragam sayuran lokal dan leupeut, itu yang memberikan rasa segar yang tidak terasa berat.
Saya sempat mencicipi laksa Bogor original ini dulu, waktu masih ada baraya dari rerehan almarhum bapak. Saudara jauh bapak dari Tasik ada yang merantau ke Sukabumi dan anaknya menetap kerja di Bogor. Mertuanya yang asli Bogor menurunkan resep laksa Bogor ini kepada istrinya dimana dialah yang saya sebut kapi uwa.
Sekarang, mereka sudah tiada. Anak dan cucunya tidak ada yang bisa membuat laksa Bogor versi original itu.
3. Peuyeum Sampeu
Terbuat dari singkong yang difermentasi secara alami, peuyeum ini memiliki tekstur lembut dan rasa manis alami yang tidak memerlukan gula tambahan. Proses pembuatannya memakan waktu dan keahlian khusus, sehingga semakin sedikit orang yang mau membuatnya secara tradisional.
Waktu ibu saya masih ada, sering membuat peuyeum sampe. Di pasar tradisional sini masih banyak dijual ragi dan juga sampeu nya.
Peuyeum selain bisa dimakan begitu saja, juga bisa diolah lagi jadi kuliner lain, misalnya jadi colenak.
Sekarang banyak yang lebih memilih membeli peuyeum daripada buat sendiri. Tinggal main ke Padalarang, banyak dijual peuyeum di sana sebagai jajanan oleh-oleh khas dari Bandung. Tapi pedagang di sana bilang sekarang semakin sedikit yang menyukainya. Bisa dicirikan dengan menurunnya daya beli masyarakat.
4. Leuit Lauk Kacang
Hidangan khas yang menggunakan beras dari leuit (lumbung padi tradisional) yang dimasak dengan cara dikukus lama, disajikan dengan bumbu kacang yang diolah secara tradisional tanpa pengawet ini beneran sudah sangat langka.
Nenek saya pernah mengolah makanan seperti itu karena keterbatasan bahan dan pengetahuan. Maklum di kampung, di gunungnya juga karena saat itu sambil ngahuma. Tapi asli itu enak dan pasti sehat. Rasanya lebih lembut dan wangi dibanding olahan biasa. Sepertinya seumur hidup tidak akan pernah saya temukan lagi makan olahan itu di panghumaan.
Masih banyak lagi kuliner Sunda yang sudah mulai susah ditemukan. Geco, doclang, awug, buntil, apalagi ya...? walaupun sesekali kuliner yang mulai langka itu masih bisa saya beli kalau pas main ke cfd.
![]() |
| Awug atau dodongkal |
Peran Food Blogger dalam Melestarikan Kuliner Tradisional
Di era digital ini, setujukah kalau food blogger memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi kuliner Sunda yang mulai langka tersebut?
Dengan adanya food blogger, kuliner Sunda yang mulai hilang itu, bisa kembali diperkenalkan.
Memperkenalkan kepada generasi muda
Lewat tulisan, foto, dan video yang menarik, para food blogger bisa menjelaskan apa itu makanan tersebut, asal-usulnya, serta cara pembuatannya. Generasi muda jadi tahu bahwa selain makanan kekinian, ada warisan leluhur yang tak kalah lezat dan bernilai gizi tinggi.
Mencatat resep dan cara pembuatan
Banyak resep tradisional hanya diwariskan secara lisan dari ibu ke anak. Jika tidak didokumentasikan, bisa hilang begitu saja. Para penulis kuliner bisa berusaha mencatat langkah demi langkah pembuatannya. Mempublikasikannya agar tetap bisa diakses siapa saja.
Membantu pengusaha kecil dan penjual lokal
Dengan membagikan tempat-tempat yang masih menjual atau membuat hidangan ini, pengunjung akan datang dan mendukung usaha mereka. Ini menjadi dorongan agar para pembuat makanan tradisional tetap melanjutkan keahliannya. Ujungnya kuliner yang mulai punah itu kembali mudah dijumpai masyarakat.
Mengubah pandangan bahwa makanan tradisional itu kuno
Lewat penyajian konten yang menarik, ditunjukkan bahwa kuliner tradisional bisa tetap enak, sehat, dan cocok disantap kapan saja, tidak hanya saat ada acara upacara adat saja.
---
Kuliner adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari identitas budaya suatu daerah. Bicara soal kuliner tradisional Sunda yang mulai langka sebenarnya bukan sekadar ngomongin makanan, melainkan cerita tentang cara hidup, kebiasaan, dan kearifan lokal nenek moyang kita.
Melalui dukungan food blogger dan perhatian kita semua, rasa dari kuliner yang sangat berharga ini bisa terus hidup.
Mari mulai mencarinya, mencobanya, dan membagikan informasinya supaya anak cucu kita kelak masih bisa merasakan kelezatan warisan Sunda yang otentik.
Mana nih para food blogger suaranya? Kuliner langka apa yang pernah kamu ulas? Gak harus kuliner dari Sunda saja ya… kuliner khas Nusantara dari daerah mana saja boleh disebutkan supaya wawasan kita saling bertambah.



Menarik sekali melihat bagaimana makanan Sunda bukan hanya soal rasa, tetapi juga budaya dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap hidangan biasanya punya cerita tersendiri, mulai dari cara penyajian sampai tradisi yang mengiringinya. Kuliner memang bisa menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk mengenal sebuah daerah. Jadi makin banyak referensi makanan yang ingin dicoba
BalasHapusIya. Kadang ada lho kisah awal mula dari suatu makanan tradisional. Mungkin juga termasuk makanan sunda. Makanya, food blogger Sunda tuh harapanku juga nggak hanya soal bahas rasa dan melestarikan resepnya. Tapi, juga mengumpulkan cerita-cerita awal mula makanan tersebut.
HapusResep Teh Okti pami tos aya food blogger mukbang-mukbang kuliner tradisional nya. Seueur pisan eta kuliner tradisional Sunda. Pami ka daerah biasanya sok janten menu utama. Semisal ka Cianjur nya piraku we teu ngagaleuh taucho sakantenan lewat nga ayam bakar cianjur nya. Atanapi pami ka Cirebon nya piraku we teu makan siang empal gentong, kitu oge pami ka tasik, piraku teu ngaraosan tutug oncom asli nya
BalasHapusMencatat resep dan cara pembuatan. Penting nih. Biar makanan tradisional Sunda bisa terus lestari sampai generasi mendatang dan nggak hilang begitu saja di telan jaman. Biar anak muda juga kenal sama makanan tradisionalnya.
BalasHapusWah, artikelnya bikin nostalgia! Ternyata banyak juga kuliner Sunda yang mulai jarang ditemui. Semoga makin banyak food blogger yang mengangkat kuliner tradisional, supaya warisan rasa ini tetap lestari dan dikenal generasi berikutnya
BalasHapusNomor satu favorit saya tuh... Nasi tutug oncom... Enaknyaaa
Aku belum pernah mencoba semua kuliner tsb kecuali peuyeum krn biasanya dibawain sebagai oleh2 dan enak sie..ini semacem tape singkong klo di sini...
BalasHapusDan bener bangt food blogger bisa membantu meleatarikan kuliner degn membagukan rekomendasi tempat maupun resep2 kuliner tradiaional tsb
Kadmag lidah orang tuh gak suka makanan tradisional... Tapi pasti ada satu kalau mau mencoba mencicipi.. Nah supaya mau mencicipi memang perlu ada yang menawarkan seperti food blogger
BalasHapusWah, nasi tutug oncom saya suka, selain nasi liwet. Waktu tinggal di Bandung, masih sering makan makanan itu. Eh, tapi di Jakarta juga ada seh, bahkan bisa pesan online. Pernah beberapa kali pesan online soale pas lagi kangen masakan sunda, he..he..
BalasHapusMakanan khasnya yang khas banget biasanya hanya "dirindui" orang-orang yang punya kenangan dengan masakan tersebut, ya seperti kita kaum 80 an ketas, sekarang anak2 gen z kebawah lebih senang makanan yang viral ini itu lah. Mungkin udah saatnya kita mengenalkan kembali atau menyajikannya secar modern ..lewat tulisan atau lainnya.
BalasHapusSetuju mbak. Kuliner legendaris begini ini tak cuma soal rasa, tapi rekam jejak cara hidup masyarakat di kondisi serba terbatas. Sayang banget kalau resep dan prakteknya hilang bareng generasi yang masih ingat caranya.
HapusEmang orang Sunda kak? Aku juga loh. Paling suka sama awug. Kalau ke bandung pasti cari awug hehe
BalasHapusBaru tahu ternyata Bogor juga punya Laksa sendiri ya.. Jadi pengen icip juga teh. Saya sebagai orang Sumatera tentunya akrab dengan laksa versi kuah santan. Semoga kelak ada food blogger atau vlogger yang bersedia mengulas lebih detail lengkap dengan reepnya jadi bisa coba masak sendiri.
BalasHapusperan foodvloger itu penting banget, bukan sekadar ngonten tetapi juga memberikan iterasi tentang masakan tradisional. Kekurangan kita itu ya kurang mempromosikan makanan sendiri, misalnya seperti di korea, hampir di setiap film atau drama secara tidak langsung mereka mengenalkan kuliner lokalnya.
BalasHapussetuju banget sama tulisannya, Teh. Food blogger selain mempromosikan berbagai kuliner modern juga sebaiknya berusaha untuk lebih banyak memperkenalkan kuliner lokal ya yang mungkin saat ini semakin sulit untuk ditemukan agar lebih banyak dikenal dan siapa tahu bisa populer lagi
BalasHapusSetuju, kuliner Sunda itu memang punya daya tarik yang bikin kangen. Senang sekali membaca ulasan yang mengangkat kekayaan rasa makanan lokal seperti ini. Selalu seru kalau bahas makanan yang autentik!
BalasHapusWaah satupun belum ada yang pernah diicip. Paling peyeum yaa, dulu pernah nyicip waktu studi tour jaman kuliah (puluhan tahun lalu).
BalasHapusTapi aku setujuu kuliner tradisional wajib lestari harus tetap kekal. Dizaman invansi kuliner resapan dari luar (korea,thailand) yang menjamur dimana2 justru makanan tradisional ngga kalah lezat dan udah pasti lebih sehat (minim micin)
Sebagai pecinta makanan jadul aku berdoa jangan sampe punaah deh,
Kehadiran food blogger membuat makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman dan identitas. Semoga semakin banyak generasi muda yang ikut menulis dan mendokumentasikan kuliner daerahnya agar tidak hilang ditelan zaman
BalasHapusDi era serba digital seperti sekarang, food blogger punya peran besar dalam mengenalkan kembali kuliner tradisional Sunda kepada generasi muda. Lewat cerita, foto, dan pengalaman yang dibagikan, makanan khas daerah bisa tetap dikenal dan tidak hilang ditelan zaman. 😊
BalasHapusBelum pernah makan Leuit Lauk Kacang.
BalasHapusSenang sekali masih ada yang konsisten mempromosikan makanan kearifan lokal yang kini mungkin kian sulit diperoleh.. tapi dengan adanya food blogger, kita bisa mendapat informasi yang dibutuhkan.
Wah, baca artikel ini bikin aku auto lapar sekaligus bangga sama kekayaan kuliner Sunda :)))
BalasHapusNgebahas food blogger Sunda .. bukan cuma dari sisi makanan yang enak-enak, tapi juga dari cerita di balik tiap hidangan ya teh Okti, mulai dari kesegaran lalapan, sambal yang selalu jadi bintang utama, sampai karakter masakan Sunda yang sederhana tapi ngangenin.
Emang ya, kuliner Sunda itu punya charm sendiri: nggak terlalu ribet bumbunya, tapi justru di situ letak nikmatnya ! Looove looove masakan Sunda! Dan yang paling aku suka dari tulisanmu adalah vibe-nya yang hangat, kayak diajak ngobrol santai sambil makan nasi hangat, ayam goreng, sambal, plus lalapan lengkap! Hayuk atuh da, ngariung sambil ngaliwet!
Food blogger ini jadi salah satu cara buat pelatih usaha memasarkan produknya, karena brand awareness itu masih diperlukan biar masyarakat juga kenal, dan disitulah kita sebagai blogger khususnya dengan niche kuliner bisa turut mendukung juga ya
BalasHapusbuntil juga kuliner Sunda Teh? Sugan teh makanan asli Jawa karena mengenal buntil ketika belanja gudeg
BalasHapusJadi penasaran apa beda buntil Jawa dengan buntil Sunda
apalagi sekarang banyak makanan Sunda yang dibumbui gula
aneh tapi nyata :D
Sebagai seorang food blogger and food photographer, masakan Sunda tuh punya karakter kuat. Baik dalam presentasi atau sajiannya dan tentu saja rasanya. Identik dengan masakan rumahan yang bikin kita ingat akan ibu dan keluarga di rumah. Di masa kini, banyak banget restoran Sunda yang punya sentuhan premium. Khususnya untuk sisi plating yang semakin estetik dan indah untuk direkam lewat lensa kamera.
BalasHapusResto Sunda di mana-mana. Selain orang Sunda juga banyak yang cocok dengan kuliner Sunda. Tapi, memang masih sedikit atau bahkan belum ada yang membahas kuliner Sunda secara detil. Menarik tuh Teh Okti kalau memang menjadi food blogger khusus kuliner Sunda
BalasHapusBeneran loh Teh, saya baru tahu ini kalau di Bogor ada L:aksa yang khas Bogor. Duh kuliner yang Nyunda, selalu sedap dan ngangenin.
BalasHapusMenurut saya di tiap sajian kuliner di daerah itu juga menceritakan dan mewakili budayanya masing ya. Itulah keanekaragaman Indonesia yang membedakan dari negara lain.
BalasHapusHal yang sama pun terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kalau pengen makan kuliner tradisional harus nunggu hari minggu saat car free day, karena biasanya ada yang jual kuliner khas tradisional.
BalasHapusPeluang ini akhirnya dimanfaatkan di beberapa kampun di dekat saya tinggal, dengan menggelar acara "Kampung Tempo doeloe"