Jumat, 12 Juni 2026

Menelusuri Rasa yang Mulai Langka: Peran Food Blogger Melestarikan Kuliner Tradisional Sunda

Food blogger Sunda


Di tengah gempuran makanan instan dan hidangan modern yang semakin mudah ditemukan, ada harta warisan rasa yang perlahan mulai tersisihkan, yaitu kuliner tradisional Sunda.

Banyak olahan kuline dari daerah Priangan tak lagi sering terhidang di meja makan sehari-hari, bahkan ada yang hanya tersisa kenangan bagi generasi tua.

Di sinilah peran food blogger kuliner Sunda menjadi sangat berharga. Bukan sekadar berbagi foto makanan, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini agar kekayaan kuliner ini tidak punah ditelan waktu.

Apa yang Membuat Kuliner Sunda Istimewa?

Kuliner Sunda identik dengan prinsip “sederhana, segar, dan alami”. Mengandalkan bahan-bahan dari alam sekitar, diolah dengan cara yang tidak merusak rasa asli, serta didominasi cita rasa gurih, segar, dan sedikit asam. Namun sayangnya, seiring berubahnya gaya hidup dan ketersediaan bahan baku tradisional, banyak hidangan khas ini mulai jarang dijumpai bahkan di daerah asalnya sendiri.

Beberapa contoh kuliner tradisional Sunda yang mulai langka dan patut kita lestarikan:


1. Nasi Tutug Oncom

Berbeda dengan nasi biasa, nasi tutug oncom dibuat dengan cara menumbuk nasi hangat bersama oncom yang sudah dibumbui dan dibakar. Rasanya gurih, sedikit renyah, dan sangat khas. Dahulu sering menjadi bekal para petani, sekarang bisa ditemukan di beberapa desa atau acara adat tertentu.

Kelangkaan ini dijadikan peluang usaha bagi sebagian pebisnis kuliner dengan menjual nasi tutug oncom baik secara luring maupun daring.

Di tempat saya masih ada yang jual nasi TO ini kalau datang ke car free day (yang berubah jadi pasar dadakan) setiap hari Minggu.

Alangkah baiknya jika masyarakat Sunda bisa memasak nasi tutug oncom ini sendiri dan menghidangkan nya di rumah, bukan?


Food blogger Sunda


2. Laksa Bogor Versi Tradisional

Bukan laksa dengan kuah santan kental yang banyak beredar sekarang, laksa Sunda asli menggunakan kuah dari rebusan ikan air tawar dan rempah sederhana. Isinya pun menggunakan beragam sayuran lokal dan leupeut, itu yang memberikan rasa segar yang tidak terasa berat.

Saya sempat mencicipi laksa Bogor original ini dulu, waktu masih ada baraya dari rerehan almarhum bapak. Saudara jauh bapak dari Tasik ada yang merantau ke Sukabumi dan anaknya menetap kerja di Bogor. Mertuanya yang asli Bogor menurunkan resep laksa Bogor ini kepada istrinya dimana dialah yang saya sebut kapi uwa.

Sekarang, mereka sudah tiada. Anak dan cucunya tidak ada yang bisa membuat laksa Bogor versi original itu.

 

3. Peuyeum Sampeu

Terbuat dari singkong yang difermentasi secara alami, peuyeum ini memiliki tekstur lembut dan rasa manis alami yang tidak memerlukan gula tambahan. Proses pembuatannya memakan waktu dan keahlian khusus, sehingga semakin sedikit orang yang mau membuatnya secara tradisional.

Waktu ibu saya masih ada, sering membuat peuyeum sampe. Di pasar tradisional sini masih banyak dijual ragi dan juga sampeu nya.

Peuyeum selain bisa dimakan begitu saja, juga bisa diolah lagi jadi kuliner lain, misalnya jadi colenak.

Sekarang banyak yang lebih memilih membeli peuyeum daripada buat sendiri. Tinggal main ke Padalarang, banyak dijual peuyeum di sana sebagai jajanan oleh-oleh khas dari Bandung. Tapi pedagang di sana bilang sekarang semakin sedikit yang menyukainya. Bisa dicirikan dengan menurunnya daya beli masyarakat.

 

4. Leuit Lauk Kacang

Hidangan khas yang menggunakan beras dari leuit (lumbung padi tradisional) yang dimasak dengan cara dikukus lama, disajikan dengan bumbu kacang yang diolah secara tradisional tanpa pengawet ini beneran sudah sangat langka.

Nenek saya pernah mengolah makanan seperti itu karena keterbatasan bahan dan pengetahuan. Maklum di kampung, di gunungnya juga karena saat itu sambil ngahuma. Tapi asli itu enak dan pasti sehat. Rasanya lebih lembut dan wangi dibanding olahan biasa. Sepertinya seumur hidup tidak akan pernah saya temukan lagi makan olahan itu di panghumaan.


Masih banyak lagi kuliner Sunda yang sudah mulai susah ditemukan. Geco, doclang, awug, buntil, apalagi ya...? walaupun sesekali kuliner yang mulai langka itu masih bisa saya beli kalau pas main ke cfd.


Food blogger Sunda
Awug atau dodongkal


Peran Food Blogger dalam Melestarikan Kuliner Tradisional

Di era digital ini, setujukah kalau food blogger memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi kuliner Sunda yang mulai langka tersebut?

Dengan adanya food blogger, kuliner Sunda yang mulai hilang itu, bisa kembali diperkenalkan. 

Memperkenalkan kepada generasi muda

Lewat tulisan, foto, dan video yang menarik, para food blogger bisa menjelaskan apa itu makanan tersebut, asal-usulnya, serta cara pembuatannya. Generasi muda jadi tahu bahwa selain makanan kekinian, ada warisan leluhur yang tak kalah lezat dan bernilai gizi tinggi.

Mencatat resep dan cara pembuatan

Banyak resep tradisional hanya diwariskan secara lisan dari ibu ke anak. Jika tidak didokumentasikan, bisa hilang begitu saja. Para penulis kuliner bisa berusaha mencatat langkah demi langkah pembuatannya. Mempublikasikannya agar tetap bisa diakses siapa saja.

Membantu pengusaha kecil dan penjual lokal

Dengan membagikan tempat-tempat yang masih menjual atau membuat hidangan ini, pengunjung akan datang dan mendukung usaha mereka. Ini menjadi dorongan agar para pembuat makanan tradisional tetap melanjutkan keahliannya. Ujungnya kuliner yang mulai punah itu kembali mudah dijumpai masyarakat.

Mengubah pandangan bahwa makanan tradisional itu kuno

Lewat penyajian konten yang menarik, ditunjukkan bahwa kuliner tradisional bisa tetap enak, sehat, dan cocok disantap kapan saja, tidak hanya saat ada acara upacara adat saja.

 ---

Kuliner adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari identitas budaya suatu daerah. Bicara soal kuliner tradisional Sunda yang mulai langka sebenarnya bukan sekadar ngomongin makanan, melainkan cerita tentang cara hidup, kebiasaan, dan kearifan lokal nenek moyang kita.

Melalui dukungan food blogger dan perhatian kita semua, rasa dari kuliner yang sangat berharga ini bisa terus hidup.

Mari mulai mencarinya, mencobanya, dan membagikan informasinya supaya anak cucu kita kelak masih bisa merasakan kelezatan warisan Sunda yang otentik.

Mana nih para food blogger suaranya? Kuliner langka apa yang pernah kamu ulas? Gak harus kuliner dari Sunda saja ya… kuliner khas Nusantara dari daerah mana saja boleh disebutkan supaya wawasan kita saling bertambah.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar