Kamis, 16 Mei 2024

Pengamalan Pendidikan Karakter dalam Konsep Merdeka Belajar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengeluarkan keputusan reformasi sistem pendidikan Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar. Tujuannya untuk menggali potensi terbesar para guru sekolah dan murid, serta untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri di Indonesia.

Saatnya Mandiri Belajar Tinggalkan Kebiasaan Monoton

Sebagaimana kita tahu dan mungkin mengalaminya, bahwa sudah sekian puluh tahun sistem pendidikan negara kita hanya terpaku pada guru menerangkan, murid menyimak. Itu saja.

Sebagaimana dikatakan Mas Menteri selaku orang pertama di Kemendikbudristek bahwa memang tidak akan mudah mengganti kebiasaan yang sudah turun temurun selama puluhan tahun dijalankan masyarakat Indonesia itu.

Sejak dulu sistem belajar di sekolah Indonesia berpusat pada satu arah. Guru memberikan materi, murid menerima.

Saya pun masih ingat dengan jelas, sejak masuk sekolah, kesehariannya hanya menghafal dan menghafal. Rumus dihafal, teori dihafal.

Sampai Buku Atlas, serasa dikuasai sendiri secara dari sana sumber hafalan ilmu pengetahuan sosial kebanyakan berasal. Mulai menghapal nama negara, nama ibukotanya, sampai siapa presiden atau perdana menteri yang sedang menjabat.

Sejarah Indonesia mulai jaman kerajaan, sampai jaman kemerdekaan hingga pemberontakan, semua harus diingat termasuk tanggal dan tokohnya karena akan keluar di soal ujian.

Ada yang pernah mengalami seperti saya itu?

Sungguh kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ibarat kegiatan yang sangat monoton bila dilihat dari dunia pendidikan yang sudah terbuka ini. Meskipun tentu saja ada juga sisi baiknya, tapi tidak heran pada jaman itu banyak anak malas mengikuti mata pelajaran tertentu karena bosan dan merasa tidak ada hal baru.

Upaya Memerdekakan Sistem Belajar

Sekarang jamannya sudah berubah. Murid sudah bisa lebih kritis dan kreatif. Banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh murid mulai dari literasi, numerasi, sampai karakter. Saat itulah sebenarnya murid memerlukan kesempatan untuk memerdekakan dirinya dalam belajar.

Adanya perubahan ke Merdeka Belajar, tentu saja masih belum bisa diterima banyak pihak. Bahkan bagi yang belum tahu sudah menjudge duluan kalau Merdeka Belajar itu kegiatan tanpa pemikiran yang matang.

Padahal konsep Merdeka Belajar banyak memberikan ruang dan kesempatan kepada guru dan murid untuk mempraktikkan dan mengamalkan pendidikan karakter yang selama ini sudah diajarkan sejak dini.

Merdeka Belajar Bagian dari Pendidikan Karakter

Ingat, belajar itu bukan hanya kegiatan menghafal dan bukan mengingat saja. Belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Bisa ditunjukkan seperti berubah pengetahuannya, perubahan pemahamannya, perubahan pada sikap dan tingkah lakunya menjadi lebih baik, berubah lebih banyak pada  keterampilannya, adanya perubahan pada kecakapan anak dan kemampuannya, perubahan pada daya reaksinya, perubahan daya penerimaannya dan perubahan aspek lainnya yang ada pada diri si pembelajar tersebut.

Merdeka Belajar memfasilitasi guru dan anak dengan kebebasan berpikir dan berdiskusi sehingga guru bisa terus mendampingi anak dengan maksimal dan anak bisa tumbuh secara optimal.

Sementara kita tahu, kalau sikap mau menerima pendapat orang lain, mau berdiskusi, mau bekerja sama dan masih banyak lagi sikap baik lainnya, itu semua adalah cerminan dari nilai-nilai pendidikan karakter yang bisa kita temukan dalam konsep Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar dan Pendidikan Inklusif

Boleh dikatakan sistem Merdeka Belajar itu sejalan dengan semangat pendidikan inklusif. Dimana layanan pendidikan ini membebaskan mengikutsertakan anak dengan kebutuhan khusus (ABK) belajar bersama anak normal (non-ABK) dengan usia sebayanya di kelas reguler. Semua memiliki kesempatan dan hak yang sama. Tanpa diskriminasi, tanpa intoleransi.

Diskusi menjadi salah satu bentuk adanya kemerdekaan siswa saat belajar yang diterapkan kepada anak. Diskusi menjadi media komunikasi dalam sistem Merdeka Belajar antara guru dan siswa dalam mencerna materi yang dipelajari. Sehingga, siswa dapat lebih leluasa memahami materi secara lebih mendalam dari berbagai sudut pandangnya.

Melalui sistem Merdeka Belajar siswa dan atau mahasiswa di kampus merdekanya, bisa memilih pelajaran yang diminati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Dengan adanya kebebasan seperti itu diharapkan para siswa dan mahasiswa bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul, yang mampu mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangsihnya yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa.

Merdeka Belajar Hasilkan SDM Unggul Pendidikan Karakter

Merdeka Belajar Melahirkan SDM Unggul

Pentingnya memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan solusi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Sebagaimana disampaikan Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim bahwa: “Apapun kompleksitas masa depan, kalau SDM kita bisa menangani kompleksitas maka itu tidak menjadi masalah” (FORWAS Edisi ke-3/2019).

Tentu saja SDM unggul ini adalah pribadi yang intelektual yang memiliki keunggulan  pendidikan karakter kompetitif dan komperatif, serta siap menghadapi era globalisasi.

Apalagi saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan eksternal berupa hadirnya Revolusi industri 4.0 yang bertumpu pada cyber-physical system. Dengan kemajuan teknologi, basis informasi, pengetahuan, inovasi, dan jejaring, yang menandai era penegasan munculnya abad kreatif.

Dan SDM kita juga memiliki tantangan yang bersifat internal, berupa gejala melemahnya mentalitas anak-anak bangsa sebagai dampak maraknya simpul informasi dari media sosial.

Nah, menghadapi tantangan itu semua tentu harus diimbangi dengan pendidikan karakter dan pendidikan formal yang bermutu supaya dapat menjamin tumbuh kembangnya SDM yang berkualitas, yang bisa bertindak cepat, tepat, dan mampu beradaptasi dengan baik dalam mengantisipasi sekaligus mengatasi dampak negatif dari gelombang perubahan besar tersebut, bukan?

Namun sayangnya kondisi pendidikan kita belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Salah satu indikatornya  berdasarkan data skor PISA (Programme for International Students Assessment) tahun 2015 pada tingkat literasi yang meliputi tiga aspek; membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan sains, masih berada pada peringkat 10 besar terbawah yaitu peringkat ke-62 dari 72 negara anggota OECD (Orgnization for Economic Cooperation and Development).

Bahkan tingkat literasi negara kita masih kalah dari negara Vietnam (Kompasiana, 16/12/ 2018). Sungguh sangat disayangkan ya.

Karena itu Kemendikbudristek selaku leading sektor pendidikan nasional yang berperan penting dalam mewujudkan kualitas SDM Indonesia, menindaklanjutinya dengan mengeluarkan berbagai kebijakan penting, diantaranya kebijakan pendidikan Merdeka Belajar ini.

Merdeka Belajar Pengamalan dari Pendidikan Karakter

Merdeka Belajar dan Pendidikan Karakter

Program Merdeka Belajar yang searah dengan pendidikan karakter  akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana arahan bapak presiden dan wakil presiden.

Merdeka Belajar mungkin hanya sebagai langkah awal dari sekian banyak gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton.

Merdeka Belajar menjadi salah satu program menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia dengan suasana yang menyenangkan. Happy untuk peserta didik dan happy juga untuk para guru.

Supaya pemahaman kita semakin banyak terkait Merdeka Belajar dan Pendidikan Karakter, baca juga yuk, ulasan mengenai Profil Pelajar Pancasila dan Pendidikan Karakter. Informasinya sangat penting sehingga kita juga bisa menjadi Pelajar Pancasila, lho!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar