Selasa, 28 Mei 2024

Masih Perlukah, Pendidikan Karakter untuk Orang Dewasa?

"Teh, bisa nggak ya pendidikan karakter ini juga untuk orang-orang dewasa? Khususnya yang memegang jabatan. Biar mereka nggak akhlakless seperti yang banyak terjadi sekarang..."

Sebuah komentar berisi pertanyaan masuk dari Blogger Bandung, Teh Triani Retno.

Sebuah pertanyaan yang mewakili kegelisahan masyarakat pada umumnya, dimana selama ini kita sudah banyak membahas pendidikan karakter yang mayoritas ditanamkan pada anak sejak dini, tapi yang bermasalah ternyata juga para manusia dewasa terutama yang memiliki jabatan dan kekuasaan, seperti para pejabat itu...

Pemegang Jabatan Akhlakless

Sudah bukan rahasia lagi kalau pejabat di negara dongeng mah bebas. Segala cara dapat mereka lakukan termasuk cara curang dan keji sekalipun demi bisa mendapatkan yang diinginkan. Padahal sifat tercela seperti itu jelas bertolak belakang dengan pendidikan karakter dimana semuanya justru mengajarkan tentang kebaikan akhlak.

Jadi wajar kalau muncul kegelisahan dan harapan dari sebagian orang yang memperhatikan, bisa gak sih pendidikan karakter ini diterapkan juga kepada orang dewasa yang bermasalah seperti itu? Ya biar mereka lurus akhlaknya. Karena ternyata bukankah justru dari orang dewasa ini permasalahan hidup yang negatif itu bermunculan?

Kayanya kalau orang dewasa yang bermasalah ini dikenakan pendidikan karakter, permasalahan paling tidak bisa diatasi?

Yah, kalau merujuk ke pertanyaan, bisa gak sih? Jawabnya jelas bisa.

Bisa banget. Karena sebenarnya karakter ini adalah akhlak. Jadi kalau sudah dewasa, bahasannya bukan lagi penanaman atau pembiasaan melainkan lebih ke soal kedisiplinan aturan dan tata tertib.

Kalau masih usia anak kita kan arahkan dan biasakan, nah, kalau sudah dewasa, ya jerat dengan undang-undang dan pelanggaran yang dilakukan. Alias beri hukuman yang setimpal.

Seperti nilai kejujuran yang sering diiklankan KPK, sasarannya orang dewasa bahkan ada yang udah lansia juga kan? Mereka yang didisiplinkan dengan pendidikan karakter versi dewasa, bukan lagi diarahkan atau dibiasakan, tapi justru diberi hukuman dan denda sampai sanksi sosial dimiskinkan yang memalukan.

Itu baru contoh kecilnya saja… karenanya di artikel Pendidikan Karakter selanjutnya ini bahasan kita meloncat dulu. Kita berlari ke soal Masih Perlukah, Pendidikan Karakter untuk Orang Dewasa? Setelah sebelumnya selalu membahas pendidikan karakter untuk anak usia dini dan para pelajar.

Manusia dan Segala Ulahnya

Kalau saja bukan bersumber dari media terpercaya, sepertinya tidak akan menganggap dengan bermunculan berita seolah di luar nalar. Seperti anak aniaya ibu kandung, saudara saling menyakiti, dan masih banyak terjadi kasus yang berkaitan dengan krisis pendidikan karakter terhadap individu lainnya.

Faktanya kasus-kasus tersebut sering terjadi pada tempat-tempat yang kita kira aman untuk berlindung dan orang-orangnya di dalamnya tidak mungkin memiliki krisis etika. Seperti keluarga di rumah, sekolah atau pesantren, kantor atau instansi terkait.

Tak jarang kejadian paling miris justru terjadi di lingkungan tempat pendidikan seperti di universitas atau pondok pesantren. Mulai dari pelecehan seksual yang diakukan oleh teman sebaya, guru atau dosen, bahkan guru atau pemilik pesantren.

Selain pelecehan yang sering terjadi dan memakan korban adalah kasus bulliying. Tak jarang berujung penganiayaan dan memakan korban jiwa.

Sangat disayangkan sekali bukan di tempat yang seharusnya kita kira aman ternyata belum tentu aman di dalamnya. Padahal di tempat pendidikan tersebut kita belajar mengenai pendidikan karakter. Lantas, apakah pendidikan karakter yang didapatkan tidak mampu untuk diterapkan?

Pendidikan Karakter untuk Semua Orang

Pendidikan karakter saat ini mutlak perlu diberikan bukan hanya disekolah saja, tapi di rumah dan di lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter tidak hanya untuk anak usia dini hingga remaja saja, orang dewasa pula masih membutuhkan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter yang diartikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan watak, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan kemampuan seseorang untuk memberikan keputusan baik-buruk, menjaga sesuatu yang baik tersebut serta mengaplikasikan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pendidikan Karakter untuk Orang Dewasa

Pendidikan Karakter untuk Orang Dewasa

Sehingga pendidikan karakter pada orang dewasa menjadi dasar dalam pengembangan kedisiplinan manusia dan karakter bangsa, dimana di dalamnya pendidikan karakter untuk orang dewasa di sini memiliki tujuan, di antaranya:

  • Menumbuhkan kemampuan afektif orang dewasa sebagai manusia dan warga negara yang mempunyai nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
  • Mendisiplinkan kebiasaan dan perilaku orang dewasa untuk selalu berbuat yang terpuji dan searah dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya dan karakter bangsa.
  • memupuk jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab orang dewasa sebagai generasi penerus bangsa.
  • Menumbuhkan selalu potensi menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan menuju insan yang berakhlakul Karimah
  • Menumbuhkan lingkungan pekerjaan dan tempat tinggal sebagai lingkungan aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
  • Pendidikan Kedisiplinan dan pendidikan karakter untuk orang dewasa bertujuan untuk menyiapkan individu untuk menjadi Warga Negara yang lebih baik, yakni memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sebagai Warga Negara. Nilai budaya digunakan sebagai dasar terhadap konsep dan arti dalam berkomunikasi antar anggota masyarakat.
  • Dan masih banyak lagi tujuan diberikan pendidikan karakter untuk orang dewasa lainnya, ya.

Strategi Melaksanakan Pendidikan Karakter untuk Orang Dewasa

Strategi Pendidikan Karakter  mempunyai tujuan untuk mengembangkan seluruh kemampuan mewujudkan self-concept yang menunjang kesehatan mental seseorang.

Konsep tersebut memberi kesempatan pada semua masyarakat untuk bersama mengembangkan kejujuran dan kedisiplinan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kejujuran Modal Dasar Akhlak Baik

Jujur adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa benda maupun tanggung jawab.

Orang yang melaksanakan amanat disebut al-Amin, yang artinya orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Tidak semua orang bisa berbuat jujur. Karena jika iya, maka di dunia ini tidak perlu ada polisi atau pengadilan.

Jika jujur adalah suatu sikap yang lurus hati, menyatakan yang sebenarnya, tidak berbohong, atau tidak mengatakan yang menyalahi apa yang terjadi sesuai fakta, maka tidak akan ada penyelewengan dana di perusahaan, penyalahgunaan jabatan di sebuah lembaga, dan kejadian buruk lainnya seperti fenomena yang terjadi sekarang ini.

Jujur sebuah sikap yang sulit untuk dilaksanakan di tengah gempuran pola hidup anak jaman sekarang yang mengedepankan kebebasan berpendapat yang disalahgunakan.

Ada beberapa macam kejujuran diantaranya:

Jujur Berkata

Jujur dalam perkataan wajib bagi manusia untuk menjaga lisannya tidak berkata kecuali benar dan jujur.

Jujur Niat

Jujur dalam tekad dan memenuhi janji manusia harus menepati janjinya karena janji itu adalah hutang.

Jujur Berbuat

Jujur dalam perbuatan yakni seimbang antara lahiriah dan batiniah.

Bayangkan, bukankah dunia akan lempeng jika semua orang bisa berbuat jujur seperti itu?

Cara Menjadi Orang Jujur

Cara Menjadi Orang Jujur

Kepercayaan seseorang terhadap yang lain sangat berharga nilainya. Jika kita sudah percaya, maka segala bentuk akan diberikan untuk bisa menjalin hubungan dengan lebih leluasa.

Kejujuran adalah sifat pertama yang bisa diketahui oleh orang lain. Kejujuran juga fondasi mempererat hubungan dan menjadi orang kepercayaan.

Berpegang teguh pada kejujuran adalah suatu sifat yang jarang dimiliki seseorang. Dengan hanya kejujuran seseorang bisa menjauhi sifat bohong dan pengkhianatan.

Berikut cara menjadi orang jujur:

Berterus Terang

Orang yang jujur biasanya terbebas atau dijauhi dari yang namanya kebohongan. Dengan berterus terang, kita tidak perlu takut akan tertangkap jika melakukan kebohongan. Katakan saja kebenaran yang ada, walaupun itu menyakitkan atau merugikan.

Jangan Ragu

Jangan pernah ragu untuk mengambil sikap kejujuran. Kejujuran terkadang menyakitkan. Itu benar. Dengan keraguan dan kebimbangan untuk menimbang dan memilih, kita berada diantara kebohongan dan kebenaran untuk melangkah ke depan. Maka yakinlah untuk ambil jalan yang benar tanpa ragu.

Berhenti Membandingkan Diri Sendiri

Orang akan berbohong ketika mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain untuk menunjukkan siapa yang lebih baik. Dipikirnya dengan menutupi kekurangan bisa bersaing dengan orang lain?

Padahal itu tidak akan semakin lebih baik untuk menutupi kebenaran. Maka dari itu, terima diri kita apa adanya, jika tidak puas akan kualitas diri, cobalah untuk memperbaikinya alih-alih berbohong menutupi kekurangannya.

Mengubah Kebiasaan Diri

Dengan menghilangkan kebiasaan diri seperti memulai kebohongan untuk menyenangkan atau menenangkan orang lain. Mulailah dengan mengatakan sebenarnya. Setidaknya kita sudah berusaha untuk jujur akan situasi yang dihadapi.

Menjadi Lebih Baik

Dengan tidak menyembunyikan diri dari lingkungan, karena itu merupakan dasar keberadaan seseorang untuk bisa diakui dan dipercaya.

Dengan berperilaku jujur, kita bisa mengenal lawan bicara atau terbuka agar orang lain bisa mengenal lebih dalam tentang diri kita.

Jangan Berlebihan

Jangan pernah memulai memiliki kebiasaan melebih-lebihkan cerita atau informasi untuk disampaikan kepada orang lain.

Sangatlah penting untuk menjauhi sifat ini dan sampaikan cerita sesuai dengan keasliannya saja walau kadang jadi tidak seru.

Berhenti Membuat Orang Lain Terkesan

Tidak perlu menggunakan kebohongan untuk membuat orang lain menyukai kita. Dengan kebohongan itu, kita akan dituntut kepada kebenaran untuk membuktikannya dan akan menguras banyak waktu dan pikiran untuk menyelesaikannya. Nanti malah capek sendiri dan terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya.

Orang lain akan lebih melirik kita jika kita memiliki sikap yang jujur dan sopan santun.

Maafkan!

Segera maafkan diri atas kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat. Sulit untuk bisa menerima diri kembali menjadi lebih baik, maka lakukannya penebusan agar orang-orang kembali mempercayai diri kita sendiri. Dengan memulai mempercayai diri bahwa kita tidak akan melakukannya lagi kesalahan tersebut.

Baik Buruk itu Pilihan

Baik Buruk itu Pilihan ...

Itu baru satu nilai saja yang kita bahas mengenai sikap jujur --dari pendidikan karakter-- yang harus diterapkan kepada orang dewasa, supaya bisa terhindar dari akhlak buruk, seperti penyelewengan kekuasaan di perusahaan.

Untuk berbuat jujur saja sangat susah, apalagi menjadi pribadi yang lebih baik? Tapi bukan berarti tidak bisa atau tidak mungkin ya... Baik buruk itu pilihan. Jadi kembali kepada diri masing-masing saja.

Tapi dapat disimpulkan kalau pendidikan karakter sangat penting serta masih diperlukan bagi seluruh kalangan baik anak usia dini, remaja sampai orang dewasa, guna membentuk individu yang berkarakter baik, berbudi pekerti serta memiliki moral yang baik demi menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik pula.

Masih ada banyak nilai dan sikap lainnya yang masih jadi bagian dari pendidikan karakter yang harus diterapkan kepada orang dewasa supaya tidak fakir akhlak. Itu kita bahas di lain kesempatan, ya.

Supaya semakin tertantang untuk menjalankan hidup lebih baik, coba baca dan resapi dulu artikel Pendidikan Karakter untuk Manusia yang Sempurna.

Setelah itu, diharapkan kita semua akan semakin tertantang untuk terus berlomba-lomba berbuat dalam hal kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar