Minggu, 17 Desember 2023

Kiat Menghadapi Pemilik FOPO (Fear Of Other People's Opinion)

Mungkin kita bisa berikhtiar supaya terhindar dari FOPO (fear of other people opinion). Tapi bagaimana cara kita menghadapi orang yang justru pemilik fopo itu sendiri? Terlebih orang tersebut adalah orang terdekat kita, keluarga sendiri, atau teman dan sahabat karib?

“Mustahil ada kemajuan tanpa perubahan. Orang yang tidak dapat mengubah cara berpikirnya tidak akan bisa mengubah apa-apa.”

Saya setuju dengan kalimat penyemangat tersebut. Terlebih setelah menyambungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain yang sudah dialami dengan kaitannya kondisi fopo ini.

Nasib Diperbudak Penilaian Orang

Waktu kerja di luar negeri, karir majikan perempuan lebih tinggi daripada karir majikan pria. Saya kira dibalik semua itu tidak ada masalah berarti. Tapi ternyata semakin lama semakin memahami jika majikan pria (seperti) tidak ada keinginan untuk mengembangkan diri dan karir nya dengan alasan terlalu takut dengan omongan orang lain.

Majikan perempuan sering bilang, kalau Sir (Tuan) itu merasa gak pede untuk melanjutkan pendidikan ambil gelar demi meningkatkan karir karena dirinya sudah merasa jatuh lebih dulu mana kala sering mendapatkan ucapan (walau hanya candaan) dari teman dan lingkungannya.

Sir berasal dari keluarga sederhana. Saya sendiri tahu bagaimana kehidupan keluarga besarnya di desa. Mungkin keberuntungan yang membawa Sir bisa mendapatkan beasiswa hingga bisa melanjutkan kuliah.

Nekat melamar kerja ke sebuah perusahaan besar karena tuntutan saudara kandung dan orang tuanya yang membutuhkan biaya hidup. Sir sebagai tulang punggung keluarga banting tulang mencapai pekerjaan saat ini karena tidak ingin keluarganya mati kelaparan.

Beda dengan kondisi majikan perempuan (Mom) ia berasal dari keluarga berada. Sejak kecil sudah berada dalam lingkungan nyaman, terpenuhi kebutuhan dan curahan kasih sayang yang melimpah. Saya sendiri merasakan langsung bagaimana Ama dan Akong (ayah ibu Mom) begitu sayang dengan keluarga majikan saya, termasuk saya setelah saya bekerja ikut mereka.

Jangankan kepada anak menantu dan cucu, terhadap saya saja yang hanya pekerja asing, mereka sangat menyayangi. Saya dianggap anak terkecil mereka. Mengingat usia saya dan Mom anak bungsunya hanya berjarak sekitar 4 tahun.

Jika karir Mom melesat jauh, Sir justru seolah diam di tempat. Saat itu, bahkan kecakapan sir dalam dunia internet bisa dibilang setara dengan saya. Sungguh jauh sekali bukan? Saya yang pekerja asing, tak pernah mengenyam pendidikan (adanya ponsel dan internet saja saya ketahui saat bekerja di negeri orang) tapi bisa menyesuaikan diri dan semangat belajar ketika Mom memberikan kesempatan untuk itu.

Sementara Sir, meski warga negara setempat, punya kesempatan dan kesetaraan lebih, justru seolah tak tertarik. Saya kadang suka greget sendiri kalau ia pulang kerja, lalu membuat laporan di rumah secara manual. Bahkan saya sering melihat bagaimana Sir kesulitan input data melalui komputer untuk dikirim ke atasannya.

Saya baru percaya kenapa Sir seperti itu ketika Mom bilang Sir tak ingin belajar banyak karena gak pede. Berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah, sering mendapatkan omongan seperti “buat apa susah-susah belajar, miskin mah miskin saja...” seperti itulah kata-kata dari keluarga dan lingkungan Sir yang bikin ia seolah tak memiliki keinginan untuk maju.

Salutnya, meski jenjang karir lebih tinggi istrinya, Sir menutupi kekurangan nya itu dengan tanggung jawab dan perhatian kepada istri dan anak-anak secara maksimal. Ibarat istilah kisah percintaan anak jaman now, Sir terlalu bucin sama istri dan anak-anak.

Mereka kan kerja shift. Kadang bareng, kadang tidak. Saat tidak bekerja Sir tak pernah lengah mendampingi anak. Menemani belajar di rumah, antar sekolah dan les, sampai bikin makanan kesukaan dan hal kecil lainnya. Apapun akan Sir lakukan untuk menyenangkan istri dan anak-anak.

Begitu juga Mom. Tahu suaminya gak pedean dengan omongan orang (beda dengan Mom yang selalu percaya diri dan memiliki pemikiran anjing menggonggong kafilah berlalu) ia selalu memposisikan diri berada di pihak suami. Bagaimana cara agar Sir nyaman dan tak minder.

Takut Dengan Omongan Orang Lain? Tanda Kamu Alami FOPO

Seperti yang dialami Sir, dulu tak kepikiran kalau itu adalah FOPO, Fear of Other People Opinion.

Kindisi seperti itulah, ketika seseorang mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu karena merasa takut akan opini atau anggapan orang lain atas tindakan yang dilakukan, bisa jadi mengalami yang namanya FOPO si Fear of Other People Opinion tadi.

Rasa khawatir akan opini orang lain atas diri sendiri tentu saja normal ya. Tapi kalau kekhawatiran dan rasa takut itu kemudian malah membatasi diri untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, tentu ketakutan itu akan menjadi sebuah masalah.

Bagi orang yang tidak fopo bisa saja mengatakan dengan entengnya ngapain sih mikirin perkataan orang, kalau saya mah sabodo wae lah.

Tapi bagi mereka yang mengalami bisa saja memiliki perasaan takut akan opini atau anggapan dari orang lain atas dirinya itu. Mau berupa tindakan, penampilan, cara dalam melakukan sesuatu, dan sikap lainnya.

Rasa takut akan opini orang lain itu muncul antara dorongan keinginan untuk terlihat ideal di depan orang-orang, sekaligus dorongan keinginan untuk diterima di tengah orang-orang tersebut. Bagaimana pergolakan batin orang tersebut, pastinya tidak mudah.

Orang yang punya rasa takut akan opini orang lain tentangnya ini tidak jarang memutuskan tidak melakukan sesuatu, yang awalnya sudah dia niatkan untuk dilakukan. Padahal, bisa jadi tindakan tersebut bisa menjadi jalan bagi dirinya untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik lagi. Akibatnya, perkembangan diri maupun karir bisa jadi stagnan alias tidak berkembang. Seperti yang dialami Sir, majikan saya.

Akibat dari FOPO

Hidup dengan rasa takut akan opini orang lain, akan membuat seseorang sulit untuk mengembangkan dirinya. Bagaimana akan berkembang jika untuk melakukan suatu hal atau tindakan saja dirinya harus berpikir seribu kali untuk melakukannya, bahkan walaupun akhirnya tindakan itu tidak jadi dilakukan.

FOPO juga kadang bikin orang tidak jadi dirinya sendiri. Diri yang ditampilkan di depan orang lain merupakan versi lain dari dirinya yang memang diperuntukkan untuk sesuai dengan ekspektasi orang lain. Secara takut akan omongan orang itu tadi kan. Padahal, karakter atau pun pembawaan aslinya berbeda dengan versi dirinya yang dikenal oleh orang kebanyakan tersebut.

Sifat fopo juga bisa jadi semakin mengikis kepercayaan diri yang dimiliki oleh seseorang. Orang tidak akan merasa percaya diri untuk melakukan suatu hal yang dia senangi, karena merasa takut akan dikritisi oleh orang lain atas tindakan yang dilakukannya tersebut. Lama kelamaan, tentu saja kepercayaan diri yang dimilikinya akan semakin menipis bahkan mungkin hilang?

Kiat Menghadapi dan Mengatasi FOPO

Dari interaksi antara majikan saya dimana yang satu memiliki fopo dan satunya lagi selalu percaya diri, plus ditambah pendapat Mom selaku orang yang memposisikan diri bagaimana seharusnya menghadapi pasangan yang fopo berat, bisa diambil langkah-langkah berikut yang mungkin bisa jadi alternatif jika kita mengahadapi orang fopo:

✔️Beri pemahaman kepada orang fopo untuk berpikir bahwa di luar sana itu tidak semua orang peduli pada diri kita

✔️Ajak untuk tidak lagi merasa takut akan opini orang lain atas diri kita. Kenapa takut, toh kita tidak hidup bergantung kepada mereka yang beropini, bukan? Anggap saja kita ini seorang penulis lepas, yang bisa bebas mengekspresikan apapun...

✔️Terus ajak untuk meyakinkan diri bahwa tidak semua orang peduli dan punya waktu untuk menilai bagaimana tindakan orang lain. Ada banyak hal yang penting untuk dilakukan orang lain tersebut, dibanding harus memberikan opini negatif atas tindakan orang lain di sekitarnya. Termasuk ikut campur urusan kita

✔️Jangan lagi berpikiran untuk menilai orang lain. Selamat tidak merugikan jalani saja kehidupan masing-masing. Tidak jarang, rasa takut akan opini orang lain disebabkan karena diri sendiri kerap kali menilai bagaimana cara orang lain bertindak, berpenampilan, berpikir, dan sebagainya. Oleh sebab itu, jika tidak ingin dihantui dengan rasa takut akan opini orang lain tersebut, mulai dari sekarang fokuslah pada diri sendiri dengan tidak menilai bagaimana orang lain.

✔️Yakinkan kalau semua orang itu wajar melakukan kesalahan. Justru takut berbuat salah atau pun melakukan suatu hal yang membuat malu, merupakan pemicu FOPO.

✔️Atasi fopo dalam diri dengan mengajak untuk bisa menerima kenyataan. Bahwa kesalahan atau pun sedikit rasa malu merupakan normal adanya dan merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari kehidupan.

✔️Ajak untuk selalu bisa ikhlas memaafkan. Apapun perlakuan orang, bikin kita sakit hati minder atau takut, langsung buka hati untuk memaafkannya. Dengan ikhlas memaafkan, tidak lagi mengingat, hati akan lebih damai dan pikiran akan lebih tenang.

Kiat menghadapi fopo

Yuk! Tingkatkan percaya diri

Fear of Other People Opinion membayangi banyak hal dalam kehidupan, tidak terkecuali aktivitas seseorang. Ada orang yang merasa takut untuk memulai, disebabkan karena takut orang-orang di sekitarnya akan menilai bahwa dirinya belum mampu untuk take action dan lain sebagainya.

Sejatinya, tidak ada larangan bagi pemula untuk memulai apapun...

Tidak perlu merasa FOPO, kita bisa mulai mengubah pola pikir sekarang juga dengan rasa percaya diri.

Btw, akhir-akhir ini saya justru merasa malas untuk posting apa saja tentang keseharian (kecuali job). Selain merasa malu oleh tetangga dan lainnya, juga semacam ada pikiran takut dihujat atau buruknya tanggapan orang lain yang mengetahui keseharian saya akan opini atau unggahan saya di media sosial. Tak heran setiap hari saya lebih banyak rebahan, baca novel online, atau baca buku tentang perempuan. Yang kesemuanya saya simpan sendiri.

Dikit-dikit pamer, dikit-dikit cerita di status buat apa kalau bukan mau sombong? Seperti itulah ketakutannya. Padahal saya yakin kalau seseorang memutuskan untuk mengunggah apa pun bukan berarti mau pamer. Toh, unggahannya juga sama sekali tidak melanggar aturan apa pun atau menyinggung siapa pun...

Nah, apakah sikap yang saya lakukan ini juga termasuk fopo?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar