Jumat, 21 Juli 2023

Membungkam Iri dengan Self Esteem

Apa kabar teman yang selalu juara rangking satu saat sekolah? Apakah sekarang tetap berprestasi dan menjadi unggulan?

Di group lawas sesuatu yang berbau nostalgia kerap muncul pertanyaan itu.

Tersentil gak sih?

Saya iya. Secara saya, alhamdulillah sejak kelas satu SD sampai lulus SLTA, selalu menjadi rangking satu. Bahkan mendapatkan bonus juara lainnya, seperti peraih NEM tertinggi di Kotamadya Bandung tahun kelulusan 1992-1993, serta beasiswa waktu lulus SMP dan saat SMU.

Semuanya masih jaman orde baru. Jadi cukup sulit mendapatkan semua itu. Tidak seperti jaman reformasi, apalagi jaman Pak Jokowi, semua anak didik yang memenuhi persyaratan, walau tidak mendapatkan rangking, tetap mendapatkan gelontoran dana.

Tetangga saya, satu bulan bisa mendapat uang dari pemerintah lebih dari nominal sebulan gaji PNS golongan III. Anaknya tiga semua dapat, keluarga sebagai penerima PKH juga dapat, mertuanya yang memang janda juga dapat. Dikumpulkan, per bulan bisa bayar cicilan kendaraan roda 4 karena biaya makan, mereka punya sawah dan usaha sendiri.

Pun karena kakaknya ketua rukun tetangga, setiap ada program bantuan berupa pupuk, sembako, atau lainnya, selalu menjadi yang terdepan mendapatkan antrian. Dengan begitu sangat senang sekali bukan hidupnya? Padahal ia yang usianya lebih muda dari saya, dulu saat sekolah, jangankan dapat rangking, yang ada ia sempat tidak naik kelas beberapa kali.

Bisa dibilang kehidupan saya yang dulu sering juara, kini kalah telak di hadapan mereka.

Saya dan keluarga tidak mendapatkan apa pun, hanya karena mereka melihat suami setiap hari perlente, sepatu selalu bening disemir, datang ke sekolah dan memiliki SK mengajar di di sana. Padahal kebutuhan kami sering lebih besar daripada pemasukan.

Sedih? Sering banget. Kecewa? Gak juga karena saya merasa saya tetap bisa baik-baik saja selama saya masih sehat dan mampu berusaha. Walau tahu sendiri sebagai ibu rumah tangga di daerah terpencil, langkah saya tidak bisa sebebas ibu bekerja di perkotaan sana.

Cobaan dan ujian semakin menempa saya untuk tetap bisa menerima keadaan. Tetap bisa bersyukur dan membersihkan diri dan pikiran dari prasangka tidak baik, supaya hati saya tetap bisa merasa lapang dan berbahagia.

Secara sisi spiritual saya terus belajar untuk bisa qonaah. (Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang)

Membungkam iri dengan self esteem

Sementara dari sisi psikologi, saya ditempa untuk menemukan self esteem. (Self-esteem bisa didefinisikan sebagai seberapa besar kita menghargai dan menyukai diri sendiri, terlepas dari apapun kondisi yang kita alami)

Mungkinkah saya sudah memiliki rasa self esteem ini sehingga saya merasa kuat saat melihat kelebihan orang lain?

Entahlah , tapi jujur, melihat setinggi apa pun pencapaian orang itu tidak berpengaruh pada kepercayaan diri dan tetap menganggap diri saya juga berharga. Ya, tentu saja dengan kapasitas dan nilai serta kondisi yang berbeda, ya. Bukan hanya untuk diri saya saja, tapi juga suami dan anak.

Dulu, saya selalu memotivasi suami untuk segera ambil kuliah lagi, ikut berbagai pelatihan dan seminar, dengan harapan, memuai prestasi dan keberadaannya dilihat orang. Siapa tahu karir kedepannya lebih mudah, gak harus tugas di pelosok wae.

Tapi melihat passion suami yang memang di bawah ekspektasi saya, saya sadar, saya tidak akan bisa mengubah itu semua. Jadi buat apa mati-matian berjuang kalau ujungnya bakalan kecewa terus sakit hati? Lebih baik dari sekarang belajar bisa nrimo, lalu mensyukuri apa yang kami dapat (Tentu saja bukan berarti kami tidak berusaha).

Begitu juga terhadap anak. Ingin mengarahkannya sedemikian rupa dengan harapan anak bisa berprestasi dan membanggakan. Saya tidak ingat kalau anak juga punya keinginan dan kenyamanan. Saya lupa kalau saya tidak ingin dipaksa, begitu juga dia.

Disini saya merasa self-esteem ini penting, untuk mengerem keinginan saya yang kadang diluar batas.

Sebaliknya self esteem juga menjadi supporter sejati, karena saat saya merasa ada yang menilai saya rendah, saya tidak akan down. Asal jangan sampai jadi low self-esteem saja, dimana kita berada di titik merasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu, atau tidak bisa berperan penting dalam pengembangan diri. Itu tidak boleh.

Jangan sampai kena low self esteem yang bisa mengarah pada rasa tidak aman dan tidak memiliki motivasi. Secara baik dari sisi agama maupun dunia, orang putus asa dan pesimis itu jelas dilarang.

Lalu bagaimana apakah teman-teman sudah memiliki rasa self esteem? Atau belum tahu tentang self esteem ini?

Merasa bangga dengan prestasi kita, itu wajarlah ya. Merasa senang menerima pengakuan terhadap prestasi yang telah kita capai itu juga normal. Yang tidak boleh adalah jangan sampai kita gila prestasi hingga takabur memuji diri sendiri secara berlebihan.

Saat kita suka dengan tantangan baru itu tandanya sisi self esteem pada diri kita berjalan dengan baik. Tinggal kita bangun supaya self esteem kita menjadi kebaikan yang bermanfaat.

Bagaimana caranya? Dilansir dari Forbes, beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga self esteem agar tetap positif yaitu:

  • Fokus saja pada diri sendiri dan pekerjaan
  • Memahami apa kelebihan dan kekurangan kita
  • Percaya pada kemampuan diri sendiri
  • Bersyukur dan terus berusaha

Insyaallah jika kita sudah memahami self esteem itu sendiri, maka dengan sendirinya self esteem positif akan mengikuti.

Siapapun akan merasa damai saat self esteem yang sehat sudah kita genggam. Bagaimana tidak, jika pandangan hidup kita jadi positif, sudah bisa menghargai diri sendiri, mencintai diri sendiri, menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri, bukankah semua itu kehidupan kita akan lebih baik?

Membungkam iri dengan self esteem

Bulan Juli ini, teman satu angkatan saya posting berbagai macam pencapaian mereka. Mulai yang lolos tes PPPK dan mendapatkan SK di Prawatasari dari Bupati Cianjur; yang meningkat pangkat dan kedudukannya jadi lebih tinggi; yang berhasil membeli kendaraan terbaru; bahkan yang pamer pencapaiannya bisa traveling ke tempat yang belum tentu orang lain bisa ke sana; dan masih banyak lagi pencapaian mereka lainnya.

Sementara saya? Hehe, saya cukup mendoakan saja, semoga mereka bisa amanah dan bertanggung jawab dengan semuanya itu.

Tulisan ke-2 three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Self Esteem”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar