Kamis, 20 Juli 2023

Begini Rasanya Jadi Korban Implementasi Kurikulum Merdeka

Dikirim oleh-oleh liburan dari sepupunya anak saya tampak gembira. Sementara itu kebalikannya, hati saya justru merasa sedih. Bagaimana tidak, selama dua minggu lebih liburan  kenaikan kelas, mulai libur Lebaran Iduladha hingga Tahun Baru Hijriyah 1445 ini Fahmi sama sekali tidak kemana-mana.

Padahal sebelumnya saya sempat membayangkan, liburan kali ini saya ingin ajak Fahmi silaturahmi ke keluarga besar dari kakek nenek dari pihak saya di Tasikmalaya. Almarhum bapak saya berasal dari Kampung Naga di Neglasari Salawu. Keluarga besar dari bapak banyak yang tinggal di Sukaratu, Langkob, bahkan Cilawu Kabupaten Garut.

Kesempatan silaturahmi ini susah didapat mengingat waktunya tidak bisa sehari pulang pergi. Apalagi tahun depan, Fahmi lulus sekolah dasar dan berencana masuk pondok. Kita tahu sendiri setelah anak masuk pondok, waktunya akan lebih banyak dihabiskan disana.

Sepertinya tak ada lagi waktu untuk main atau rencana kemana dulu secara kalaupun ada libur nanti pasti dihabiskan dengan kami yang tentu saja juga akan merindukannya.

Tidak hanya rencana silaturahmi ini yang harus gagal. Melainkan ajakan naik gunung dari Kiting, adik kami dari Bogor juga dilewatkan begitu saja. Padahal sejak turun dari Kerinci 2019 lalu, Fahmi belum sempat mendaki lagi karena keburu pandemi.

Seandainya Fahmi anaknya tidak begitu pemalu, mungkin ia bisa menghabiskan liburan dengan teman-teman di kampung ini dengan berenang di tempat yang dekat, atau ke pasar malam sekadar main selayaknya anak-anak pada umumnya.

Fahmi memang tidak punya banyak teman. Ia tidak punya teman satu angkatan di TK karena tidak masuk TK. Fahmi masuk SD langsung hanya bermodalkan ajaran saya sendiri di rumah yang ala-ala menerapkan sistem homeschooling.

Walaupun saya bukan lulusan institut ilmu keguruan, hanya berdasarkan bahan bacaan dan referensi dari beberapa teman yang berpengalaman melalui blog homeschooling yang mereka buat, tapi fakta sudah membuktikan Fahmi bisa mengungguli mereka yang lebih dahulu masuk sekolah TK.

Jadilah Fahmi masuk SD pada usia lima tahun, berani bersaing dengan teman satu kelasnya yang usianya dua tahun lebih di atasnya. Ya, hanya teman sekelas itulah yang Fahmi punya saat ini. Itu pun banyak yang tidak dekat karena sifat pemalu nya itu.

Sempat ketemu Farid dan Fikri teman di sekolah agama. Saya bujuk mereka mau main bersama, berharap Fahmi tidak bosan. Menawarkan mereka berenang, main ke pasar malam, atau apalah...

Tapi semua kesempatan itu tidak diambilnya sama sekali dengan satu alasan, malu. Ya Fahmi baru mau berenang, atau main ke pasar malam, itu kalau dibarengi saya atau ayahnya.

Fahmi memang beda. Disaat anak lain tanpa disuruh udah kabur duluan main sepuasnya, Fahmi tetap betah di rumah bermain game atau nonton. Disuruh main dengan teman-temannya keukeuh tidak mau karena katanya malu. Begitulah anakku yang pemalu...

Seandainya saat liburan sekolah ini ayah Fahmi tidak mendapatkan banyak tugas dan pelatihan dari sekolah terkait implementasi kurikulum merdeka mungkin ceritanya akan lain lagi.

Ya, kami tidak bisa menikmati liburan, tidak bisa menemani anak semata wayang kami untuk bepergian, karena ayahnya “tertawan” dengan berbagai webinar dan pelatihan baik yang didelegasikan kepadanya dari sekolah negeri tempat pak suami bertugas, maupun dari yayasan pesantren dan sekolah lanjutan dimana pak suami mengabdi terpilih memegang bidang kurikulum.

Jadilah dua minggu liburannya itu selalu dihabiskan dengan duduk manis di depan laptop. Mengikuti serangkaian pelatihan dari satu webinar ke webinar lain mulai dari yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan, departemen agama, sampai ikatan guru dan persatuan guru.

Dan mungkin karena tahun ajaran ini bertepatan dengan masanya implementasi kurikulum merdeka diterapkan, maka dimana -mana tenaga pengajar disibukkan dengan sosialisasi dan pelaksanaan kurikulum terbaru ini. Sesekali saya intip, bagaimana suami mengakses beragam referensi untuk membantu pendidik yang merdeka. Menggunakan email berakhiran belajar.id atau madrasah.kemenag.go.id. Cukup seru juga, sih.

Kurikulum merdeka yang menerapkan sistem merdeka belajar pada anak didik belum bisa diterima secara menyeluruh terutama oleh pihak pendidik dan siswa di daerah seperti sekolah tempat suami mengajar. Dalam kurikulum merdeka posisi guru adalah penggerak merdeka belajar. Guru penggerak merdeka belajar dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas secara efektif, tetapi juga membangun hubungan efektif kepada peserta didik dan komunitas sekolah.

Karena itu banyak sekali pekerjaan rumah yang diemban suami demi bisa menyampaikan pesan dari atasan hingga bisa diterima banyak kalangan di daerah.

Mau bagaimana lagi selain saya sebagai istri dan Fahmi puteranya harus bisa menerima jika waktu liburan kali ini sama sekali tidak bisa kami jadikan waktu berlibur. Toh ini tak akan selamanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar