Ada banyak alasan kenapa ibu rumah tangga di kampung dan desa sekitar tempat saya tinggal selalu berbondong-bondong –meskipin cuaca hujan -- datang ke acara pasar malam (yang di tempat saya tinggal disebut dengan istilah korsel) di lapangan desa Pagelaran setiap sore hingga malam.
Jadi mau apa mereka ke pasar malam? Selain mau nonton, yang jelas mereka tuh mau berbelanja. Bukankah wanita dan belanja itu sudah sepaket? Ya, meski ada hal lain yang menjadi alasan mereka, para emak-emak baik yang berdaster maupun bergamis hingga yang berpakaian kerja selalu datang ke pasar malam yang di kampung kami identik dengan sarana pesta rakyat, tempat hiburan masyarakat pedesaan dan dunia permainannya anak-anak hingga dewasa.
Setidaknya, ini menurut pengamatan saya, hasil obrolan dengan beberapa ibu rumah tangga sepulangnya dari pengajian, hingga komen-komen dan bisik-bisik di beberapa group mulai group kampung, group wali murid, sampai group wali santri.
Jadi, apa alasan yang bikin mayoritas para ibu di tempat saya tinggal begitu semangat belanja ke pasar malam?
Pamer Penampilan
Ini dikatakan salah satu tetangga saya. Katanya kapan lagi bisa jalan-jalan, ngubek lapangan sambil memperlihatkan apa yang dikenakan, aksesoris dan segala macamnya kepada banyak orang. Haha, apakah ini termasuk sifat sombong? Bisa ya bisa enggak. Tergantung niat masing-masing kali ya.
Tapi yang saya lihat sih, memang yang main ke pasar malam ini, mau belanja atau tidak, rata-rata mereka berpenampilan terbaik. Baju bagus, aksesoris lengkap, dan bekal lebih dari cukup pastinya.
Mudah Tergiur
Meski tidak saling panas-memanasi, tapi banyak yang datang ke pasar malam karena tergiur untuk membeli sesuatu yang gak perlu, akhirnya di rumah numpuk barang yang masih terbungkus tapi tidak dipakai. Mubadzir kan jadinya? Ada yang begitu?
Saya berusaha menghindarinya. Beli apapun itu sesuatu hal yang dibutuhkan aja, kecuali makanan, ya itu mah baru yang diinginkan. Dan harus dihabiskan.
Tapi memang ada yang saya lihat buibu beli berbagai macam perabotan, alasannya karena katanya murah dan lucu-lucu. Glek! Jadi emang belum tentu dipakai tuh barang, tapi main belanja borongan aja. Ya ga apa-apa juga sih, toh uang juga uang mereka ini ya. Hehehe...
Memperbaiki Mood
Orang kampung mana tahu istilah memperbaiki mood. Tahunya ke pasar malam itu ya buat hiburan aja. Cuci mata. Tanpa mereka sadari sebenarnya ya mereka juga sedang mencari cara melepaskan penat, jenuh, bosan dan semua itu tanpa mereka sadari sebenarnya sedang memperbaiki atau justru menyalurkan hormon yang ada dalam diri mereka.
Tanpa mereka pahami jika saat di pasar malam dengan semua keseruan dan kemeriahannya jadi sempat lupa dengan kesedihan, lupa sejenak dengan kebosanan dan tak ingat permasalahan rumah tangga lainnya.
Mereka secara tidak langsung telah memperbaiki suasana hati dengan belanja dan atau memuaskan diri dengan jajan sampai kenyang. Meski ketika pulang ke rumah, masalah itu tetap ada.
Sayang Keluarga
Tidak hanya anak-anak dan atau remaja yang main ke pasar malam, tapi juga orang tua hingga kakek nenek semua tumplek plek... Itu kejadian Minggu pertama dan ketiga. Karena Minggu kedua hujan terus mengguyur, tak banyak warga yang main ke acara pasar malam.
Saat belum ada pasar malam, setiap sore itu jadwal saya nyapu halaman depan. Tapi sejak ada pasar malam, saya tak lagi nyapu di depan karena pernah sekali nyapu seperti biasa, eh, bukannya cepat selesai, yang ada malah sering bersalaman dan saling sapa dengan rombongan buibu dan nek-nenek yang pulang pergi ke pasar malam yang hampir tiada hentinya itu.
Saya pikir rajin amat ya mereka, bela-belain datang ke pasar malam padahal jalan jauh, bahkan ada yang harus pakai tongkat. Tapi apa kata mereka? “Maksain ini demi cucu...”
Haha, segitunya cari alasan. Demi cucu, demi membelikan hadiah buat sanak keluarga, sampai dijadikan alasan berbelanja ke pasar malam setiap hari.
Terbawa Trend
Pasar di kecamatan tempat saya tinggal hanya ada dua kali dalam seminggu. Yaitu hati Selasa dan Jumat. Barang yang dijual ya itu-itu saja. Jarang banget ada produk baru. Sekalinya ada pasar malam, dengan blow up kebutuhan terbaru untuk persiapan anak masuk sekolah, maka diserbulah pasar malam dengan dalih yuk kita melihat-lihat berbagai produk baru persiapan anak masuk sekolah...
Tuntutan Profesi
Belanja kerudung model kekinian, sendal dan sepatu baru, tas yang sedang ngetrend, pokoknya apapun yang bisa menunjang sehingga penampilan jadi makin menarik, pasti diburu kaum bergaji di daerah ini.
Murah tapi meriah. Kawe sekalipun tak masalah toh di kampung, mereka tidak bisa membedakan mana produk asli mana tiruan. Yang penting saat ke tempat kerja bisa bergaya. Itu bisik-bisik seorang ASN yang menjunjung tinggi penampilan katanya demi kesan baik dan kesopanan.
Diskon Besar
Mumpung murah, itu yang sering saya dengar dari obrolan ibu-ibu sepulang dari pasar malam di depan rumah. Mungkin tidak hanya di perkotaan istilah cashback, diskon, promo, dan sejenisnya itu karena ke daerah kamipun kini buibu sudah ketularan suka diskon meski barang yang mereka ambil sebenarnya sedang tidak dibutuhkan.
Banyak buibu yang berburu belanja wajan anti lengket dengan harga 35k saja setelah didiskon 75% berdasarkan tulisan besar yang tertera di stand penjualnya.
Mudah Terpengaruh Orang Lain
Di kampung saya mendadak banyak influencer. (Influencer itu orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain, kan?) Padahal mereka tidak punya akun sosial media, tidak punya blog gaya hidup sehat. Karena para influencer nya itu ya siapa lagi kalau bukan para tetangga. Ya, tetangga lah para influencernya...
Jadi setiap ketemu, entah di mana pun ketemunya, mereka satu sama lain saling menceritakan dan bahkan memperlihatkan apa saja yang sudah dibeli dari pasar malam. Kekuatan influencer memang tidak bisa disepelekan ya. Buktinya setelah bertetangga, dapat info ini itu, sore hari atau malam harinya langsung deh ikutan beli. Biar punya barang bagus dan murah seperti yang dimiliki tetangganya eh influencernya.
Refreshing
Kalau ini sih saya juga sepakat dan merasakan. Masyarakat di pedesaan memang haus hiburan. Apalagi selama pandemi hampir semua kegiatan hiburan dibatasi ya kan... Keluar dari aktivitas sehari-hari yang membosankan, tentunya sangat menyenangkan. Anggap saja belanja di pasar malam ini sama dengan liburan singkat tanpa harus mempersiapkan banyak hal.
Kepuasan Diri
Ini saya akui juga. Beberapa kali saya main ke pasar malam. Meski alasan nganter anak (tuh kan...) tapi saya sendiri merasakan kebahagiaan, kepuasan dan beneran enjoy feel free...
Jadi main ke pasar malam ini ibarat menjemput kebahagiaan, me time. Meski saya tidak mementingkan keinginan daripada kebutuhan karena sampai sekarang saya belum belanja apapun, kecuali jajan makanan yang sekali habis, dan besoknya beli lagi. Hihi... Jangan ditiru kalau saya salah satu buibu gagal diet
Begitulah serba serbi hasil pantauan saya terhadap para pengunjung pasar malam alias korsel dari teras rumah selama kurang lebih tiga mingguan ini. Gak di perkotaan gak di pedesaan, semuanya memang harus hiburan dan suka belanja ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar