Minggu, 16 Juli 2023

Anak Bermasalah: Ubah Dengan Growth Mindset

Anakku pemalu, apa bisa diubah dengan growth mindset?

“Anak perempuan mah curang. Masa karena calonnya ada Agisna, lalu dipilih oleh mereka semua. Emang anak perempuan berani kalau diajak tawuran sama anak sekolah luar?”

Cerita Fahmi sambil menggerutu. Sambil makan siang, sepulang sekolah ia begitu semangat menceritakan tentang hari pertamanya di sekolah. Hari pertama masuk itu diisi dengan pemilihan ketua kelas.

Ada tiga orang yang mencalonkan dan dicalonkan. Sebagian mereka masih pengurus kelas seperti dikelas lima dulu, seperti Indra dan Farel. Namun pada kelas enam ini ada anak perempuannya yang juga dicalonkan Pak Deni selalu guru dan wali kelas mereka.

Sementara itu, sejak kelas satu, anak perempuan di kelas Fahmi memang jumlahnya lebih banyak dibanding anak laki-laki. Anak laki-laki ada sepuluh orang (awalnya ada 13 lalu pindah sekolah) sementara anak perempuan ada 18 (awalnya ada 21).

Tidak dikira, seluruh anak perempuan, memilih calon ketua kelas yang perempuan, dalam hal ini Agisna. Otomatis melalui pemilihan ketua kelas dengan cara ala-ala pemilu ini menjadikan Agisna sebagai pemenang terpilih dengan total pemilih 18. Karena setelah itu, anak perempuan mengaku kalau semua memang memilih Agisna. Wkwk... kompak sebagai Team Female nih sepertinya.

Sementara anak laki-laki, juga memilih calon laki-laki dengan jumlah pemilih yang dimenangkan Indra ada empat, Farel ada Enam (sepuluh pula sesuai dengan jumlah anak laki-laki).

Pemilihan Ketua Kelas 6 SDN Pagelaran 1 2023/2024

Semua memang sepakat kalau hasil pemilihan itu sah. Setuju kalau Agisna jadi ketua kelas mereka. Termasuk Fahmi, putra saya. Hanya, menurut Fahmi, anak perempuan memilih ketua kelas bukan berdasarkan kemampuan atau kesiapannya. Melainkan dari sisi gender alias mentang-mentang sesama perempuan lalu dipilih dimenangkan. Tanpa mereka tahu, tugas ketua kelas nanti apa dan bagaimana. Bukan mencari pemenangnya saja.

Seperti itukah pemikiran Fahmi putra saya?

Hem, masuk akal juga sih pemikiran Fahmi itu. Tapi tidak ingin berlaut jadi permasalahan, langsung saya kasih pengertian, bahwa tidak masalah jika Agisna sendiri siap, berarti ia emang mampu untuk menjadi ketua kelas, mampu jadi pemimpin upacara, mampu menjadi kepala regu kelak saat kemah pramuka, dan sebagainya.

“Kalau pun Agisna belum siap, kan bisa dibantu Farel dan Indra, atau siapapun wakilnya karena nanti yang diambil bukan nama perseorangan, melainkan nama kelas dan sekolah. Ami paham?”

Putera semata wayangku itu mengangguk tanda mengerti.

“Tapi tetap kan Bu, kalau dalam mencari ketua atau apapun itu kita harus melihat kesiapan, ilmu dan kemampuannya. Bukan karena teman dekat atau teman sebangku, apalagi melihat dari jenis kelamin?”

“Ya. Tentu saja. Itu baru benar,” puji saya sambil mengacungkan ibu jari. Fahmi tampak manggut-manggut, puas dan segera menyelesaikan makan siangnya.

Saya akui sedikit bangga mulai melihat pola pikir anak sendiri yang perlahan muncul. Meski masih anak-anak (bahkan usia Fahmi sebenarnya lebih muda dua tahun dari teman sekelas lainnya karena Fahmi masuk kelas 1 SD saat berusia 5 tahun, sementara teman sekelasnya minimal usia 7 tahun) tapi pemikiran seperti itu memang sudah memperlihatkan jika apa yang saya tanamkan sejak dini, mulai perlahan terlihat hasilnya.

Sejak mengetahui jika putra kami memiliki sifat pemalu, maka saya segera mencari tahu bagaimana supaya ia tidak merasa memiliki kekurangan meski sifat pemalu itu sama sekali tidak salah.

Saya pun mulai mengenal tentang growth mindset, yang konon katanya bisa membantu seseorang dalam menghadapi permasalahan dan tantangan.

Growth mindset ini sendiri adalah pola pikir berkembang yang ada dan bisa dipakai oleh kita, selaku manusia. Pola pikir ini bisa membuat kehidupan kita semakin maju atau justru sebaliknya.

Tentu saja kita mengakui jika kehidupan di dunia ini terus mengalami perubahan, bukan? Nah, jika pola pikir kita tidak berkembang, hal itu bisa membunuh diri kita sendiri. Dalam artian, kita akan jalan di tempat dan bahkan ketinggalan dengan risiko kegagalan yang cukup besar dalam meraih kesejahteraan hidup. Siapa pun pasti tidak ingin hal itu menimpa dirinya.

Yang saya dapatkan pointnya jika growth mindset sebagai cara berpikir ini bisa berkembang terhadap diri sendiri sehingga dapat mempengaruhi perasaan untuk meningkatkan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki.

Growth Mindset bisa berasal dari kemampuan dasar yang seseorang atau keterampilan dan kebiasaan baru yang bisa dikembangkan. Sehingga menghasilkan sesuatu yang positif karena percaya bahwa kecerdasan dan bakat yang dipunya bisa berkembang seiring berjalannya waktu lewat dedikasi dan kerja keras.

Nah, mengacu pada pemikiran itulah, sejak masuk sekolah saya selalu sounding kepada Fahmi, mengenai pola pikir dan pilihan dan mengambil keputusan. Semua tak luput dari upaya demi bisa menjadikan anak saya terasah antara bakat dan kecerdasannya.

Memiliki growth mindset tentu sangat baik untuk kehidupan. Jika pola pikir kita berkembang, berarti percaya dengan kecerdasan dan bakat yang dimiliki. Kita juga bisa lebih menghargai proses yang dilalui. Tak hanya kemampuan dasar saja, growth mindset juga bisa dilakukan jika kita ingin mengembangkan keterampilan baru. Mungkin itu jika kelak anak punya pilihan lain, seperti akan kemana melanjutkan sekolah setelah lulus SD tahun depan.

Ya, sebagai orang tua kami tidak akan memaksa anak untuk melanjutkan sekolah apa harus ke SMP atau Tsanawiyah. Tetapi lebih ke melihat dulu kemana anak nyamannya. Sehingga saya, suami dan anak sudah lama sepakat akan hal itu.

Hal itu bisa terwujud karena mindset yang kami bina sudah mempengaruhi perasaan dan pola kerja kami, sebagai manusia.

Tidak salah kalau Psikolog Carol Dweck dari Universitas Stanford dalam artikel ilmiah penelitian nya menyebutkan beberapa manfaat dari growth mindset itu seperti:

  • Mampu mendorong seseorang untuk percaya diri
  • Bisa meningkatkan kecerdasan dan bakat seseorang
  • Bisa memunculkan semangat belajar sepanjang hidup
  • Bisa melihat umpan balik sebagai sumber informasi dan kesempatan untuk belajar
  • Tidak takut menghadapi tantangan
  • Bisa jadi jalan dalam mengurangi kelelahan
  • Meminimalisir masalah psikologis, seperti depresi dan kecemasan, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Untuk bisa menerapkan growth mindset pada anak pemalu seperti Fahmi putra saya, memang tidak mudah. Prosesnya tidak semudah mengajari anak toilet training, atau mengancingkan kemeja sekolahnya sendiri.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan para orang tua untuk membangun growth mindset berdasarkan banyak referensi yang pernah baca

Hal yang selalu saya ajarkan pada anak, mulai dari hal sederhana seperti:

1. Mengakui Ketidaksempurnaan

Anak harus paham dengan sifat yang dimilikinya. Misalnya anak saya pemalu. Ia harus tahu jika ia memang pemalu dan jangan sampai orang lain mengolok ia sebagai anak pemalu. Sebagai pembelajar growth mindset, kita harus bisa mengakui akan ketidaksempurnaan. Sehingga anak saya paham, pemalu itu bukan hal memalukan.

Saya juga selalu menekankan supaya anak paham jika tidak tahu dan tidak pandai, itu hanya bersifat sementara. Jika hal itu sudah dipahami, mereka tidak perlu malu untuk membuktikan bahwa mereka lebih pintar dari saat ini.

2. Menghadapi Tantangan

Setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan. Namun kita tidak perlu menyerah begitu saja demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Masih ada peluang di depan mata jika kita mau berkembang, sehingga bisa mendorong diri untuk meningkatkan kemampuan melalui usaha dan pengajaran yang baik dan ketekunan.

Anak saya memang pemalu. Tapi bukan berarti gak bisa belajar apalagi gak bisa berprestasi. Tapi seandainya ada yang lebih pintar dan lebih bisa dari kemampuannya, tidak boleh iri dan harus menyadari jika ia harus lebih banyak belajar dan berlatih lagi.

Ubah pola pikir dari 'Saya tidak bisa melakukan ini' menjadi 'Saya bisa melakukannya jika saya berlatih'. Secara tak langsung, pemikiran itu bisa meningkatkan kemampuan kita karena terus berpikir positif.

3. Menghargai Proses

Kebanyakan orang hanya bisa menghargai proses ketika mereka berhasil. Ini tentu bertentangan dengan pola pikir growth mindset.

Seharusnya, kita harus menghargai proses dan upaya yang dilakukan. Mau bagaimana pun hasilnya, hal itu bisa lebih bermanfaat karena bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita lakukan.

Pemilihan ketua kelas yang diceritakan Fahmi di awal artikel ini, mungkin diluar ekspektasi mereka. Kenapa yang terpilih anak perempuan? Apa karena jumlah anak perempuan lebih banyak dari anak laki-laki?

Tugas saya menerapkan growth mindset yang selama ini kami terapkan, yaitu tadi dengan memberikan pemahaman jika tidak ada salahnya ketua kelas perempuan, toh anaknya siap dan pemilihannya juga sah. Semua harus menghormati proses itu.

Pemilihan Ketua Kelas 6 SDN Pagelaran 1 2023/2024

4. Keluar dari Zona Nyaman

Jika ingin berkembang, kita harus berani keluar dari zona nyaman. Hal ini tentu mampu menumbuhkan pola pikir yang berkembang sehingga mampu menghadapi tantangan yang memungkinkan untuk tumbuh.

Karena itu sejak usia tiga tahun setengah saya dan suami sudah mengajak anak mendaki gunung (pertama kali Fahmi menaklukkan Gunung tertinggi di Jawa Tengah Gunung Slamet). Perlu digarisbawahi, bawa anak balita naik gunung itu bukan untuk gaya-gayaan lho ya. Melainkan proses dari kami, untuk putra tercinta supaya bisa hidup dan terbiasa dengan kondisi apa adanya bahkan minus.

Di rumah gerah dikit nyalakan kipas angin. Minum pengen susu uht atau juice. Tapi saat hidup di alam dengan segala keterbatasan ia harus bisa menahan nafsu dan keinginan. Gerah, nikmati saja hingga datang angin yang bertiup bersemilir. Haus? Jika persediaan air mineral habis, jangan takut untuk minum air mentah dari mata airnya langsung. Seperti itu sebagian contoh konkretnya.

Pemilihan Ketua Kelas 6 SDN Pagelaran 1 2023/2024

Tidak hanya teori, pola pikir growth mindset ini juga seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti kisah pendiri Gojek, Nadiem Makarim. Saat awal mendirikan perusahaannya itu, ia mengalami penolakan bertahun-tahun. Tapi karena pola pikirnya yang berkembang, Gojek pun mampu bersaing dan menjadi perusahaan besar.

Seseorang bisa melatih cara berpikir positif dengan growth mindset. Itu dapat membantu untuk terus berkembang sehingga menghasilkan sesuatu yang baik untuk kehidupan.

Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya berhasil. Bahkan negara pun sangat concern akan tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa.

Keluarga menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak, sehingga akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang diinginkan. Orang tua lah yang punya kendali, dibantu para guru, dan orang terdekat lainnya.

Itu saja sedikit cerita pola asuh terkait growth mindset yang saya pelajari dan terapkan di keluarga kami. Sebenarnya ceritanya masih panjang karena mendidik anak itu tidak ada ujungnya, tidak ada batasnya. Hanya saya bukan ahli, hanya berdasarkan pengalaman saja. Maka hanya garis besar itu yang bisa saya sampaikan

Oya, jelang momen Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli nanti, izinkan saya mengucapkan “Selamat mendidik anak hingga menjadi generasi yang berprestasi dan membanggakan dengan tidak mengabaikan hak anak itu sendiri, ya...”

Tulisan pertama three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Growth Mindset”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar