Rabu, 29 Maret 2023

Drama Ngebolang ke Kalimantan

Kenapa jadi pengen punya rumah di Balikpapan...?

Terkejut dini hari dapat pesan dari Kiting, anak gunung ketemu di jalan yang sekarang sudah saya anggap seperti adik sendiri, kalau ia berada di pom bensin Pagelaran sedang istirahat.

Dulu ketemu Kiting waktu mau naik Gunung Gede. Fahmi anak saya yang biasanya tidak mudah kenal orang baru, sama Kiting yang berasal dari Bogor saat itu langsung nempel. Malah naik ke puncak sampai turun lagi Fahmi terus bareng Kiting. 

Kami tukeran nomor ponsel, kirim pesan dan saling kirim foto selama pendakian. Hingga merencanakan pendakian bersama lagi, ke Pangrango dan Kerinci. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Bisa dibilang Kiting ini jalannya Fahmi menuju puncak karena setelah bersama Kiting, selama mendaki Fahmi tidak lagi rewel. Lebih mandiri dan gak manja.

Kiting pernah main ke rumah dan nginap. Sejak itu Kiting dan Fahmi udah seperti kakak dan adik saja. Cocok. Saya dan suami pun menganggap Kiting seperti ke adik sendiri. Kami merencanakan banyak kegiatan alam bersama. 

Sayang banget pandemi keburu melanda. Rencana pendakian yang sudah kami jadwalkan pun terpaksa kami hentikan. Tapi komunikasi kami tentu saja tetap berlanjut melalui pesan dan telepon.

Melalui sosial media saya mengetahui selama ini Kiting melakukan traveling ke berbagai daerah. Mulai Kepulauan Seribu, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Sumatera. Semua foto dan video yang dia share bikin kami iri. Haha ... Jujur jiwa petualangan kami meronta-ronta.

Sampai tadi subuh kami dikejutkan kedatangan Kiting bersama adik sepupunya, Faiz yang sengaja datang dari Cileungsi Bogor ke Pagelaran Cianjur Selatan.

Sudah kami duga kalau kedatangan mereka ini sebenarnya tidak direncana. Benar saja. Kiting bilang awalnya ia dan Faiz mau ke Bandung. Eh, saat di Cikalong istirahat kejebak hujan angin. Akhirnya belok ke Cianjur kota dan lurus ke selatan. Sampailah di Pagelaran, tempat saya tinggal.

Saya dan keluarga senang banget Kiting datang bersilaturahmi. Kami ngobrol banyak meluapkan kerinduan selama hampir tiga tahun tidak ketemu. Fahmi yang sudah akrab, saking lamanya gak jumpa, sempat tidak mengenali lagi Kiting. Segitunya, sampai mereka perlu adaptasi lagi untuk bisa akrab kembali.

Hujan yang tidak ada hentinya mendukung kami untuk terus ngobrol dan makan di rumah saja. Seru dan takjub mendengar kisah petualangan Kiting selama ia ngebolang.

“Covid-19 kan sekarang udah ga ada, ayo Teh, kita agendakan lagi jalan kemana...” Kiting menawarkan idenya.

Disambut Fahmi yang juga antusias. “Iya, Ibu. Udah lama kita gak naik gunung dan nyebrang laut lagi,” rajuk Fahmi.

Berbagai rekomendasi lokasi pun diajukan Fahmi, Kiting dan Faiz. Disertai guyonan dan candaan, sampai ketawa terbahak-bahak dibuatnya.

“Kayanya kalau jalan ke Kalimantan semua bisa dapet,” usul pak suami.

“Dapat apa emangnya, Yah?” Tanya Fahmi.

“ Ya Kalimantan itu masih banyak lahan yang belum terjamah manusia. Masih banyak hutan alami. Jadi kalau melancong ke Kalimantan, kita bisa menemukan banyak spot. Ya lautan, sungai, hutan, bahkan keanekaragaman adat istiadat dan budaya penduduk lokal. Sekali jalan, semua dapat.” Jelas suami. Semua manggut-manggut, paham.

“Sebelum Kalimantan padat seperti Jawa, kalau libur ayo kita ngebolang ke Kalimantan,” usul Kiting.

Benar juga. Kelak Ibu kota negara pindah ke Kalimantan tidak menutup kemungkinan Pulau Kalimantan akan jadi pusat pertumbuhan penduduk dan perekonomian negara. Peluang itu bisa jadi incaran para investor.

Jadi ingat obrolan dengan blogger asal Kalimantan, ada Mbak Aisyah Dian dari Blogger Balikpapan yang menginformasikan jika kondisi sekarang di sana masih sepi pasca pandemi.

Padahal saya pikir di Balikpapan, sebagai kota pusat bisnis dan industri, memiliki perekonomian terbesar di seluruh Kalimantan, kesempatan untuk membuka usaha dan bisnis sangat besar.

Secara dilihat dari sisi kependudukan, Balikpapan adalah kota terbesar kedua di Kalimantan Timur setelah Kota Samarinda. Prospek bisnis properti di sana sudah pasti terlihat. Cari rumah di Balikpapan terbersit seketika dalam benak ini. Grand City Balikpapan milik pengembang Sinar Mas Land bisa jadi pilihan terbaik di Kalimantan Timur.

Kota Balikpapan semakin berkembang pesat dilihat sebagai salah satu dari 3 gerbang menuju ibu kota Indonesia yang baru nanti. Selain dengan keberadaan Pelabuhan Semayang sebagai tersibuk kedua setelah Pelabuhan Samarinda dan Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang merupakan yang tersibuk ketiga di Kalimantan, setelah Banjarmasin dan Pontianak.

Harga rumah di Balikpapan semakin hari pasti semakin tinggi. Beli rumah di Balikpapan selain sebagai hunian pribadi bisa juga sebagai bahan investasi.

Saya kepikiran buka usaha kuliner di sana. Cari ruko di Balikpapan sepertinya bisa jadi langkah alternatif sebelum memutuskan beli ruko di Balikpapan. Harga ruko di Balikpapan sudah pasti sangat bersaing. Apalagi di Balikpapan ini wisatanya dikuasai pantai atau mall saja, fokus masyarakat udah bisa diprediksi dimana.

Blogger- blogger Balikpapan saja sering ngadain event dan di lokasi itu mereka akan ngumpul. Saya sering baca cerita perjalanan dari Mbak Aisyah Dian, Mbak Anisa, Kak Rosana, Mbak Yosi, Mbak Lidha dan masih banyak blogger di Kalimantan lainnya.

Tahu dari cerita mereka jika asal usul Balikpapan berawal dari sebuah perkampungan nelayan di tepi Selat Makassar pada abad ke-19. Pengeboran pertama sumur minyak di kota ini dimulai pada 10 Februari 1897, yang kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan.

Berdasarkan survey persepsi masyarakat dengan ribuan responden, kota Balikpapan dinobatkan IAP (organisasi profesi perencanaan wilayah dan kota tertua dan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara) sebagai salah satu kota paling layak huni di Indonesia tahun 2014 dan 2017. Gak salah dong kalau tinggal di Kalimantan jadi salah satu keinginan kami?

Eh, jangan dulu tinggal deh, setidaknya ngebolang aja dulu, seperti usulan Kiting, supaya bisa eksplorasi Kalimantan lebih banyak.

“Apa yang bikin kamu ngebet pengen ngebolang ke Kalimantan, Ting?” penasaran saya kepada Kiting.

“Saya pengen punya mandau buat bekal tawuran, haha!” Selorohnya konyol, bikin kami semua tertawa.

“Bohong deh, jangan percaya ya Faiz dan Fahmi,” Ralat Kiting spontan melihat saya melotot. Baru sadar dia, kalau candaannya bisa jadi salah paham untuk sepupunya Faiz dan Fahmi yang masih anak sekolah.

“Saya mau coba pake baju adat Kalimantan. Ada baju adat Ta’a dan Sapei Sapaq, ada juga baju takwo, Teh. Hehe...!” Ujar Kiting asal.

Faiz dan Fahmi ngakak menertawakannya. “Anak punk pakai baju adat, ayam juga ketawa kali,” celoteh Faiz. Kami kembali tertawa bersama. Ada-ada saja mereka itu. Dasar bocah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar