Sudah sejak Awal Februari, pihak sekolah anak saya memberikan informasi jika Fahmi diikutsertakan dalam beberapa lomba dalam rangka Pentas Pendidikan Agama tingkat kecamatan. Lomba Cerdas Cermat (LCC), Musabaqoh Hafidz Qur’an (MHQ) dan Solat Berjamaah.
Waktu sebulan menuju hari H, saya dan suami pun memforsir Fahmi untuk lebih giat menghafal dan mengulang. Untuk LCC, saya yang mendampingi Fahmi, secara untuk pengetahuan umum saya kira tidak harus memiliki ilmu khusus.
Untuk MHQ, ayah Fahmi yang mendampingi. Bersama anak mengaji lainnya, Fahmi diperbanyak test hafalan serta ilmu tajwidnya. Sementara untuk solat berjamaah, Ustadz Firman, guru agama di sekolahnya yang mendampingi. Masih ada Ustadz Yudi di sekolah agama Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang juga siap membimbing.
Saya lihat Fahmi cukup antusias. Apalagi memang sudah banyak yang hafal. Jadi tinggal melancarkan, memperbaiki yang dirasa kurang dan terus berlatih.
Tidak lama, beberapa hari kemudian anak kembali membawa surat pemberitahuan, jika ia terpilih lagi mewakili sekolah untuk Kompetisi Sains Nasional atau di daerah saya disebut Olimpiade Sains Nasional (OSN). Fahmi dipersilahkan mau mengikuti kompetisi matematika atau IPA.
Jujur, untuk pengetahuan sains, sebenarnya putra saya tidak begitu meminatinya. Secara keseharian saja saya bisa menilai Fahmi agak kesulitan. Mungkin ia terpilih mewakili sekolah, karena tidak ada lagi siswa lain yang bersedia. Daripada Pentas PAI, untuk OSN ini Fahmi tampak keberatan.
Ayahnya meski guru matematika tidak bisa memaksa jika anak memang tidak berminat. Seperti itu juga informasi yang kami sampai kepada guru wali kelasnya.

Tidak apa tidak menang juga, yang penting sudah mencoba. Paling tidak Fahmi dan kami sudah mendapatkan pengalaman. Seperti itu kesepakatan kami bersama pihak sekolah. Supaya tidak kecewa jika hasilnya tidak sesuai harapan.
Itu saya dan suami sampaikan mengingat melihat Fahmi tidak begitu serius dalam mempelajari latihan soal untuk OSN. Bahkan sempat berpindah dari soal latihan matematika yang diperdalam, kemudian ganti memilih IPA. Saya kira Fahmi mulai tertekan. Beda dengan saat mempelajari materi dan hafalan untuk pentas PAI, ia tampak senang dan semangat.
Hari Rabu seminggu sebelum Pentas PAI dilaksanakan, jam istirahat sekolah tiba-tiba Fahmi pulang diantar teman-temannya. Fahmi menangis, tapi menunduk menyembunyikan wajah. Tas dan perlengkapannya dibawakan teman lainnya.
“Maaf, Mama Ami. Tadi Hilda tidak sengaja menabrak Ami. Jadi Ami jatuh dan menangis. Bibirnya berdarah. Hilda tidak sengaja. Hilda dikejar Rafan dan menabrak Ami. Maaf ya Mama Ami ...” Hilda, teman sekelas Fahmi yang badannya paling tinggi dan besar menangis di depan saya, meminta maaf dan menjelaskan kenapa Fahmi diantar pulang sebelum waktunya.
Begitu juga teman-teman lain ikut meyakinkan jika Ami terjatuh karena ketidaksengajaan.
Oh, saya baru paham. Fahmi pulang karena bibirnya berdarah jatuh di sekolah. Saya mengerti bagaimana sikap Fahmi kalau banyak orang, ia tidak akan banyak bicara. Maka saya segera mengajak Fahmi masuk, dan berterima kasih kepada teman-temannya yang sudah membantu. Termasuk kepada Hilda, saya bilang tidak apa, karena tidak sengaja dan niat baik ia yang langsung meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
Setelah teman-temannya pergi, Fahmi yang seragamnya basah dan kotor segera berganti baju. Baru saya lihat benar jika bibirnya beneran berdarah dan bengkak. Fahmi pasti malu dengan kondisi wajahnya itu. Apalagi saat bicara lafal nya tidak jelas, pengaruh dari bibir yang tidak bisa mengatup karena kulit bagian atas bibirnya ada yang pecah.
Deg!
Tiba-tiba saja saya terkejut dan begitu khawatir. Jika bibir Fahmi masih sakit dan ia bicara tidak jelas, bagaimana dengan perlombaan Pentas PAI yang akan diikuti semingguan lagi? Mana lomba yang diikutinya semuanya mengharuskan ia bicara jelas dan sesuai panjang pendeknya.
Ya Allah, semoga pertolongan Mu segera datang untuk menyelesaikan permasalahan anak saya ini.
Keesokannya Fahmi tidak sekolah. Tentu saja alasannya malu karena jontor di bibirnya malah seperti makin menjadi. Makan minum saja begitu kesulitan. Dengan telaten saya obati dan kasih semangat supaya tetap percaya diri dan tidak minder. Saat mengaji pun ia memilih ngaji di kamar bersama saya. Malu dilihat teman mengaji lainnya, jika ngaji di Pondok Ngaji Al Hidayah, katanya.

Perasaan saya makin tidak menentu. Jika di rumah saja dan sekolah Fahmi enggan keluar, bagaimana nanti kalau saatnya lomba Pentas PAI tiba? Untuk membatalkan keikutsertaannya tidak mungkin, selain persiapan sudah matang, pun tidak ada calon peserta lain karena semua sudah diarahkan sesuai minat dan kemampuannya. Waktu seminggu lagi pun tentu saja tidak akan cukup.
Saya hanya bisa berdoa dan berikhtiar supaya Fahmi cepat sembuh...
H-1 Lomba Pentas PAI dilaksanakan, guru kelas, pihak sekolah dan guru agama Fahmi terus menghubungi meminta kesediaan Fahmi untuk ikut lomba meski kondisi bibirnya belum sehat benar.
Setelah berlatih lagi, diketahui jika Fahmi belum bisa melafalkan dengan benar huruf m, p, dan b. Suara yang diucapkannya masih terdengar ngosom. Seolah sedang memakan sesuatu. Itu disebabkan karena bibir atasnya belum bisa tertutup sempurna.
Kami semua pasrah, begitu juga Fahmi. Ia setuju tetap ikut lomba meski kondisinya seperti itu. Hasilnya, biar dewan juri yang menentukan.
Keesokannya, saya dan suami meluangkan waktu mengantarkan dan mendampingi Fahmi ikut lomba. Pertama lomba MHQ bertempat di Masjid Al Anshoriyah. Dari lima pertanyaan dan tugas Dewan Juri, Fahmi ada kekeliruan di soal suruhan no 5 dalam QS. Al Qoriah
Tentu saja ayahnya sebagai pelatih dan pendamping merasa menyayangkan hal itu. Karena setiap hari QS itu selalu jadi prioritas dalam hafalan. Tapi hasilnya malah melenceng. Itulah ketentuan Allah SWT. Kami sebagai manusia hanya bisa berusaha.
Setelah Fahmi tampil, kami langsung menuju lokasi Lomba Solat Berjamaah di Masjid Kampung Nanggewer. Agak kecewa ternyata guru pendamping belum mendaftarkan ulang dan mau tidak mau Fahmi menjadi peserta dengan nomor terakhir! Diperkirakan ashar baru bisa pentas.

Kasihan banget Fahmi, Rafan dan Hana teman satu kelas Fahmi yang menjadi mamum dalam lomba Solat Berjamaah ini. Mereka diajak pulang dulu gak mau. Memilih diam di lokasi meski kurang nyaman. Akhirnya saya dan suami yang izin pulang. Dan meminta guru pendamping untuk menemani mereka. Terlebih mereka bertiga belum makan.
Bada ashar, sekitar pukul 16.00 Fahmi dan temannya baru mendapatkan giliran pentas. Meski tidak ada yang menonton, hanya guru pendamping, saya dan suami, namun semangat Fahmi tampak tidak berkurang. Ia terlihat tetap khusyu membaca niat solat, surat wajib, surat pendek pilihan dan bagian-bagian solat lainnya. Cuaca hujan di luar masjid tak menyurutkan semangat ketiganya.
Selesai Fahmi mengucap salam, selesai pula perlombaan Pentas PAI yang diikuti Fahmi hari itu. Juri dan panitia bersama kami saling berpamitan. Menerjang hujan demi bisa pulang untuk beristirahat segera.
Malamnya, pesan masuk dari guru agama di sekolah Fahmi mengabarkan jika pada lomba MHQ, Fahmi mendapatkan juara 2. Selisih nilai dengan juara satu hanya 0,4. Hal itu lagi-lagi membuat ayah Fahmi merasa sangat menyayangkan. Andai saja Fahmi tidak jatuh, andai saja Fahmi mau lebih fokus dengan hafalan, mungkin perbedaan 0,4 itu bisa dimenangkan.
Tapi tentu saja juara 2 pun sangat kami syukuri. Ini perlombaan pertama yang Fahmi ikuti setelah masuk sekolah karena saat covid-19 perlombaan sejenis tidak diadakan. Semua perlu proses. Pengalaman ini semoga jadi pelajaran untuk kedepannya supaya bisa lebih baik lagi.
Sebagai orang tua, saya banyak belajar pada orang tua lain yang selalu berbagi informasi bagaimana hari-hari dilalui memiliki anak yang belajar menghafal Al-Qur’an. Salah satunya Blogger Lampung Mba Naqiyyah Syam, melalui akun sosial media nya saya tahu Mbak Naqi memiliki putra yang mondok dan fokus menjadi penghafal Al-Qur’an. Bagaimana suka duka dan lantunan doa yang selalu dipanjatkan nya.
Fahmi memang bukan Kak Faris, putra pertama dari Penulis Lampung yang sudah mengikuti lomba MTQ tingkat Provinsi itu, bahkan sekarang sudah bisa memimpin solat tarawih di bulan Ramadan 1444 H. Tanpa ada niat mau membandingkan, tapi setidaknya doa yang sama pun saya panjatkan mengingat memiliki putra putri yang hafal Alquran adalah harapan semua orang tua Muslim.

Lomba solat berjamaah dalam Pentas PAI pun ternyata Fahmi mendapat peringkat ke dua. Alhamdulillah. Meski peserta terakhir tapi ternyata tetap bisa memberikan nama baik untuk sekolahnya. Sementara untuk lomba OSN, Fahmi tidak masuk juara sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar