Kamis, 12 Januari 2023

Menjadi Manfaat dengan Diri Sendiri

Kalau sakit karena dipukul mungkin hanya terasa sesaat. Tapi jika sakit karena tajamnya omongan seseorang, rasanya sampai kapan pun pedihnya akan terasa.

Jadi ibu rumah tangga yang kerjaannya di rumah saja sebenarnya bukan keinginan saya. Jauh di lubuk hati paling dalam, saya berjuang bertahun-tahun merantau ke negeri orang tujuan awalnya ialah ingin punya modal untuk melanjutkan sekolah dan kelak mempermudah saya bisa mendapatkan pekerjaan. Jaman sekarang selain skill pendidikan terakhir pun ikut menentukan.

Tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan, semesta pun selalu kurang mendukung. Meski sampai sekarang niat itu selalu ada, tapi prioritas dan kendala yang begitu kuat selalu menjegal semuanya.

Membawa saya pada akhirnya harus pasrah dengan semua keadaan. Berujung terkurung dalam sekat tidak berbatas yang namanya rumah tangga. Kesibukan dengan keluarga dan sekitar membujuk saya harus bisa menerima semua ini dengan imbalan tak berhingga dari sebuah kata ikhlas.

Malu jika bertemu teman-teman yang karirnya sudah semakin moncer. Gaya hidup jangan ditanya. Meski tinggal di lingkungan pedesaan, soal lifestyle tanpa diminta mereka sudah lebih dahulu naik tingkat. Termasuk soal pendidikan. Alasan tuntutan karir dan pekerjaan mereka kembali melanjutkan sekolah. Tepatnya bukan melanjutkan sih, melainkan membeli ijazah.

Mereka sendiri ada yang bercerita. Otak sebenarnya sudah tidak mampu untuk berpikir apalagi membuat tugas dan segala macam demi mendapatkan nilai. Begitulah, ucapan warna-warni seperti balon, indah, tapi isinya angin.

Jalan menggunakan joki, jasa pembuatan makalah dan tugas serta memilih sekolah instan pun menjadi pilihan. Tak masalah selama mampu membayar. Tak mampu pun berusaha pinjam sana sini dulu karena yakin nanti bisa balik modal setelah pangkat dan golongan naik dengan sendirinya. Ya, namanya juga teman. Ada yang baik, ada juga yang munafik.

Kadang saya bertanya dan berandai-andai. Kenapa Tuhan bisa menempatkan banyak hal di luar kemampuan manusia. Andai semuanya berpihak kepada saya. Andai yang berkesempatan melanjutkan sekolah itu saya, pasti tidak akan saya sia-siakan kemampuan berpikir dan niat yang masih meletup-letup dalam dada ini.

Ada yang berkata bahwa impian yang saya miliki ini terlampau besar. Biar gak makan hati, saya bilang saja bahwa justru ia yang  berpikiran yang terlalu kecil.

Mungkin sebongkah berlian memang tidak pantas disandingkan dengan kerikil, makanya Tuhan memisahkannya...

Mereka memiliki kesempatan, tapi kenapa disia-siakan. Saya yang berjuang mati-matian mendapatkan kesempatan itu, kenapa harus merasa cukup dan menerima dengan semua ini? Apa harus menunggu jadi janda terlebih dahulu sehingga saya bisa mengambil keputusan tanpa rintangan? Astagfirullah...

Dasar tak puas dengan kondisi yang dimiliki, meski serba terbatas, saya tetap melakukan apa yang menjadi hobi dan pencapaian. Gak banyak berharap sih, niat untuk latihan dan terus berlatih saja. Ibarat pisau, setajam apa pun ia jika tidak diasah, suatu saat akan berkarat dan tumpul juga. Begitu juga dengan pikiran saya.

Menulis, membaca, membuat hal baru, mampir main ke Blog Sunglow Mama, sekecil apa pun itu selalu saya sempatkan di sela waktu luang yang saya miliki. Kadung mendapatkan julukan ibu rumah tangga yang kerjaannya di rumah saja, semakin lama saya semakin enjoy dengan kondisi ini.

Di rumah saja bukan berarti tidur, nonton atau tak mengerjakan apapun. Adanya internet yang bisa diakses Alhamdulillah telah memudahkan saya untuk merasa tetap jadi wanita karir meski tidak selalu menghasilkan uang.

Eh! Buat apa juga mencari uang, secara untuk semua kebutuhan sudah pasti ada yang menafkahi. Begitulah pemikiran saya menasihati diri jika kecewa mendapatkan job atau gagal menang lomba. Haha ...

Tapi sebaliknya, self reward pun selalu saya lakukan jika saya mendapatkan rezeki dan kepuasan dalam menjalankan hobi dan imbalan dari sebuah pencapaian. Bukan mau memanjakan tapi lebih ke mengapresiasi diri saja. Pelecut supaya semangat tetap bergelora dan rasa tidak percaya diri semakin menjauh. Membuktikan jika ternyata suatu saat saya juga mampu.

Tidak mengenyam sekolah tinggi bukan berarti kelar hidup loe. Selagi kita masih bisa bersyukur, mencari peluang dan menjadikannya sebagai lahan usaha insyaallah kemudahan Nya itu nyata.

Di rumah saja, tapi receh demi receh bisa saya kumpulkan. Who knows, mereka yang dulu menyepelekan dan mengiris hati ini dengan ketajaman lidahnya setengah menutup muka meminjam uang kepada saya. Bukankah perjalanan hidup indah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu untuk berbagi? Lihat! Begitu elegan bukan cara Tuhan memperlihatkan kepada kita kenapa semua hamba itu harus menjaga lisan dan pikiran?

Tidak lagi peduli dengan tetangga yang nyinyir bilang saya tidak bergaul dengan masyarakat terdekat, tak masalah tetangga acuh mencap saya kaum rebahan yang pekerjaan nya menjajah suami. Kehidupan ini hanya saling memandang. Mereka tidak perlu tahu bagaimana bahagianya saya. Saya lebih baik menyibukkan diri bagaimana mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan ini di hadapan Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar