Ketika main ke rumah adik, istrinya bertanya, kenal gak sama A. Katanya dia Minggu lalu berangkat kerja ke Taiwan.
Saya berpikir sebentar. A yang mana ya? Perasaan teman yang bernama A hanya ada satu, saat SMA. Rumahnya dulu tetangga kampung di Sukanagara. Tapi kemudian pindah ke Cianjur Kota. Sementara saudara lainnya masih di kecamatan yang sama dengan saya.
“A yang mana sih? Emang tahu dari mana di ke Taiwan?” nyerah, saya akhirnya balik bertanya ke adik ipar.
“Nih ini akun adiknya. A itu kakaknya.” Katanya sambil memperlihatkan sosial media seorang perempuan. Oh, dia H. Memang adiknya A, teman sekolah dan teman bermain di rumah. Meski beda kampung, tapi jarak sekitar 300 meter tak menjadikan halangan buat saya dan A untuk saling mengunjungi dan bikin acara layaknya remaja yang lagi senang-senangnya, dulu.
“Oh iya ini A, teman teteh dulu. Ke Taiwan juga rupanya... Hehehe!” entah senyum sinis dari mulut saya ini terlihat oleh istrinya adik saya atau tidak.
“Emang sekarang gak berteman?” curiga juga rupanya adik ipar saya ini.
“Enggak.” Saya memutus obrolan. Dalam hati saya mengira si A malu kali dia. Makanya gak berteman di sosial media atau hubungi lewat nomor hp. Padahal nomor ponsel saya sejak pulang dari Taiwan gak pernah ganti. Gak mungkin A gak tahu nomor saya atau akun sosial media saya. Secara melalui H adiknya itu, saya sudah beberapa kali menanyakan kabar A, kasih nomor saya untuk disampaikan ke A dan minta A menghubungi saya. Tapi sepertinya bukan H tidak menyampaikan, tapi A nya sendiri yang menghindari saya. Malu, dugaan saya semakin kuat apalagi sekarang itu kabarnya A berangkat juga ke Taiwan. Hal yang pernah dinyinyirin nya terhadap saya.
Kami memang bukan berasal dari keluarga berada. Hanya jika saya tidak punya ayah, memiliki satu adik, A masih memiliki orang tua lengkap dan adik tiga orang. Jika saya mendapatkan beasiswa, A tidak. Malah sering dipanggil guru pembina karena A sering bolos, dan melakukan kenakalan remaja pada umumnya saat itu. Mungkin itu juga yang menyebabkan A pindah ke Cianjur kota?
Lulus sekolah kami masih sering ketemu. Saya masih bolak balik ke polres, dan sebagainya untuk mengurus surat perlengkapan berangkat jadi TKW. Saat ketemu di kota itu dia nyinyiri saya. Seolah jadi TKW ini begitu hina.
Saat itu, banyak perempuan dari Cianjur berangkat jadi TKW ke negara Timur Tengah. Banyak dari mereka yang memiliki cerita tragis dan menyedihkan. Saat itu kan pemberangkatan buruh migran Indonesia belum ada pembenahan seperti sekarang. Belum ada BP2TKI atau dulu BNP2TKI.
“Ti, kade ke maneh balik ti luar negeri mawa budak nu cureuleuk, anak onta. Hahaha!” Kata A saat itu mengejek saya. (Ti, awas nanti kamu pulang dari luar negeri membawa anak yang bulu matanya lentik, anak onta.) Kami memang sering bercanda. Tapi untuk saya sepertinya itu sudah diluar candaan seorang teman baik lagi. Karena maksudnya A, bicara begitu secara tidak langsung bilang nanti pulang dari luar negeri, saya membawa anak (sebagaimana TKW lainnya saat itu banyak yang hamil di luar nikah dan melahirkan di kampung, anaknya mirip orang Arab). Anak onta, cemoohan mereka yang nyinyir pada anak hasil hubungan ibunya dengan pasangan di tempat kerja di Timur Tengah.
Jadi serendah itu A menganggap saya? Atau seperti itu harapan A kepada saya? Kalau mengikuti nafsu, ingin marah dan tak berhubungan lagi dengannya.
Padahal saya sudah jelaskan kalau saya (pertama kali) menjadi TKI bukan ke Timur Tengah melainkan ke Singapura. Dan saat itu peraturan kerja di Singapura lebih baik dibandingkan negara di Timur Tengah. Tidak ingin jadi masalah saya abaikan saja. Sampai saya berangkat kerja demi bisa mengangkat derajat dan perekonomian keluarga saya di kampung.

Singapura dan Hongkong telah saya selesaikan kontrak kerjanya. Selanjutnya saya ingin bekerja ke Taiwan. Namun proses ke Taiwan tidak secepat sebelumnya. Karena ada pembenahan jadi pemberangkatan buruh migran ditunda beberapa bulan.
Selama menunggu proses itu saya gunakan untuk istirahat dan bersilaturahmi dengan teman dan saudara. Saat saya main ke Bekasi, saudara saya bilang kalau A kontrakannya dekat. Bahkan saudara saya mengajak saya main ke sana.
Ternyata A hidup dengan suami ke duanya. Anaknya dari suami pertama diurus ibunya di Cianjur. Bisa dibilang kehidupan A tidak lebih baik. Secara tidak langsung saya tahu kalau A banyak hutang termasuk ke saudara saya yang di Bekasi ini.
“Kamu kapan berkeluarga, Ti? Ingat umur... Sudah kaya ya sekarang?” saya merasa A kembali mencemooh saya. Tapi saya abaikan. Saya jelaskan kalau saya sedang menunggu proses kembali bekerja ke Taiwan.
“Kerja lagi? Cari duit segede pintu ya. Jangan lupa cari jodoh juga,” sinisnya diakhiri senyum. Saya tahu, di kampung saya dibilang perawan tua. Tapi apa salah saya?
“Ya, selagi sehat dan jodoh belum ketemu, saya ingin ngisi waktu dengan hal bermanfaat. Bekerja sambil belajar. Supaya kelak berumah tangga, sudah punya modal.”
Itu saja yang saya sampaikan. Beruntung saudara saya ngajak pulang sehingga bisa meninggalkan kontrakan A lebih cepat.
Sepulang bekerja dari Taiwan, saya kembali main ke Bekasi ke rumah saudara. Kabar A kembali saya dengar. Masih ada dekat tempat tinggal saudara hanya katanya sudah berganti beberapa kali kontrakan.
“Kehidupannya memprihatinkan. Nanti ada waktu kita main lagi ke rumahnya...” jelas saudara saya.
Benar saja, ketika main ke rumah A, dia sedang hamil dari suaminya ini anak ke tiga. Kondisinya seperti lemah. Mungkin sakit juga. Sementara dua anak lainnya yang masih kecil-kecil juga ada bersamanya. Pada kurus dan dekil. Kondisi kontrakan yang sempit dan berantakan, bikin miris lah pokoknya.
Saat mau pulang, A pinjam uang ke saya katanya buat bayar listrik. Tidak tega, saya kasih uang semampunya. Buat bayar listrik sekaligus jajan anaknya.
“Tenang Ti, nanti kubayar. Gak sampai jutaan mah mampu bayar lah...” pongahnya masih belum sirna. Ada banyak juga ucapan lainnya yang bikin saya tidak enak, meski kami berteman saat itu sudah lebih dari sepuluh tahun.
Gengsi dan malu, mungkin itu yang dirasakan jika mengingat setiap ucapan A sejak lulus sekolah dulu kepada saya. A yang katanya mau kuliah, A yang katanya mau nikah dengan pacarnya yang kaya, dan masih banyak lagi. Tapi kenyataannya?
Saya tidak mengungkit semua itu. Bukankah semua ini sudah takdir? Termasuk saya yang di usia 30 belum juga menikah. Saya enjoy saja.
Hingga sepuluh tahun kemudian, tepatnya sekarang, saya mendapatkan kabar dari adik ipar melalui unggahan H, adiknya A, jika A berangkat kerja ke Taiwan.

Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Pasca gempa Cianjur kehidupan di kota memang banyak yang jungkir balik. Mungkin termasuk keluarga A. Karena melihat sosial media H, adiknya A, keluarga mereka juga menerima sumbangan pakaian layak pakai dan sebagainya. Entah ada masalah lainnya apa lagi, saya tidak ingin bahas disini. Yang pasti mungkin A itu sudah merasa mentok hingga akhirnya jadi TKW juga...
Rasanya tidak salah dulu setelah lulus sekolah saya memilih langsung bekerja jadi TKW. Kondisi perekonomian yang susah karena krisis moneter buat cari pekerjaan dalam negeri memang sulit.
Sungguh jika membandingkan kehidupan saya dan A rasanya pilihan saya ini lebih merasa beruntung.
Meski saya merasa tersakiti oleh ucapan dan sikap A tapi saya tidak dirugikan. Yang ada justru diuntungkan karena kenyinyiran A dulu, saya jadi termotivasi untuk bisa menjadi yang terbaik bagi keluarga dan diri saya sendiri.
Rasanya tidak terbayangkan bagaimana kehidupan saya sekarang jika moment yang sebenarnya tidak sedang berpihak pada saya dulu itu, saya ambil hati dan akhirnya menjebak saya dalam ketidakbebasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar