Punya teman masuk daftar buronan itu kebat-kebit gak karuan. Apalagi kalau lagi santai tiba-tiba ketemu pakde (polisi) bawaannya pengen langsung kasih info, jangan keluar, atau bisa ketangkap!
Semasa di penampungan, instruktur, petugas dari Depnaker dan berbagai organisasi perburuhan selalu mewanti-wanti, baik buruk nanti di negara penempatan, jangan kabur. Jangan kabur. Karena kalau kabur, itu sama saja dengan ilegal dan tentunya jadi masalah.
Saya sama sekali tidak kepikiran untuk kabur. Bukan berarti majikan baik. Tapi ya tak ingin cari masalah saja.
Pertama masuk Taiwan, saya bekerja di enam tempat, termasuk salon majikan. Padahal job saya di perjanjian kerja adalah menjaga nenek jompo.
Capeknya jangan dikira. Banyak pekerja yang sudah lama memberitahu kalau pekerja sebelum saya di majikan ini seringnya kabur. Mungkin karena tidak tahan. Secara saya akui saya pun tidak kuat. Bukan dengan pekerjaan nya, tapi sikap dan temperamen majikannya. Tapi saya sama sekali tidak kepikiran untuk kabur. Kalau jaman sekarang istilahnya saya memilih bermain cantik. Hehe!

Saya lapor ke KDEI. Juga saluran pengaduan konseling pekerja asing di Taiwan. Mengatakan jika job saya tidak sesuai dengan kontak kerja.
Tidak berapa lama, datang petugas KDEI, petugas konseling dan agency memeriksa. Benar, saya bekerja diluar job. Akhirnya saya dipindahkan tanpa banyak drama. Dan pastinya hak saya juga tetap terpenuhi.
Lain lagi dengan dua orang teman saya. Sebut saja A dan B. Mereka sudah seperti saudara karena kami sama-sama berasal dari Cianjur. Merasa tidak betah di majikan dan tergiur dengan janji manis kawan-kawannya yang lebih dulu jadi kaburan, A dan B ini pun ikut kabur!
Ya ampun, saya sedih banget. Kecewa berat pada awalnya. Merasa A dan B ini kok rapuh banget? Kenapa mereka berubah sikap? Padahal sejak di kampung, ke balai latihan kerja dan sampai pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) hingga di pesawat (karena kami terbang bareng) sudah saling sepakat, bagaimanapun jangan sampai kabur. Tapi nyatanya?
A kabur karena tergoda ajakan temannya yang bilang mending ikut kerja bareng dia di pabrik. Gaji besar, libur setiap Minggu dan tanggal merah. Pokoknya bebas. Sikap A benar-benar berubah. Tanpa cerita dulu, tahu-tahu ia sudah keluar dari majikan saja.
Tapi buktinya kadang dapat kerja, kadang tidak. Kadang punya uang kadang tidak. Padahal makan dan tinggal mereka itu tetap harus dibayar.
B kabur karena punya pacar (orang Indonesia juga) dan mengajak tinggal di kota tempat dia bekerja supaya dekat. Saat itu B kerja di Taipei sementara pacarnya kerja di Kaohsiung. Ibarat B di Jakarta, pacarnya di Surabaya. Berat di ongkos kalau mereka mau kencan. Akhirnya B kabur. Mencari kerja di Kaohsiung demi bisa dekat dengan pacarnya itu.
Lalu apakah A dan B sukses? Boro-boro!
Saya kesal sama mereka. Kalau gak ingat orang tua kami saling titip-menitip dan kami saling menyanggupi, gak ingin saya membantu mereka. Karena pada akhirnya, setelah mereka memilih kabur, mereka banyak masalah dan meminta tolong ke saya. Hello, pengen getok kepalanya deh saking gemesnya!
Saat liburan, kami gak bisa ketemuan bebas karena dikit-dikit mereka bilang takut ada pakde. Saat sakit, mereka minta tolong beli obat dan lainnya karena mereka kaburan, gak lagi punya asuransi. Dan saat mau pulang pun mereka harus kerja keras mengumpulkan uang untuk bayar denda dan biaya tiket sendiri. Belum masuk penjara dulu.

Padahal kalau tidak kabur, sakit ada asuransi. Pulang yang beli tiket ya majikan. Ini mereka kabur, bukannya punya penghasilan lebih yang ada malah menyusahkan.
Lebih parahnya lagi, karena sudah sistem biometrik, A dan B masuk daftar blacklist, ga bisa bekerja masuk Taiwan lagi.
Saat saya finish kontrak dan pulang kampung, A dan B juga tidak lama menyusul pulang. Kami ketemuan dan saya keluarkan unek-unek kekesalan serta kekecewaan selama ini.
Saat saya mau balik kerja ke Taiwan, gak tega juga melihat mereka nganggur di kampung, akhirnya kami nyari solusi, biar A dan B bisa sama-sama bekerja kembali.
Karena tidak bisa bekerja lagi ke Taiwan, A memilih daftar di perusahaan jasa tenaga kerja (PT) di Bekasi. Sementara B, memilih tetap bekerja ke luar negeri namun bukan ke Taiwan melainkan ke Hong Kong. Ya meski beda bahasa tapi kebudayaan rada mirip. Gaji juga tak begitu jauh beda.
Sekarang kami semua sudah kembali ke kampung halaman. Saya dan B menetap di Cianjur sementara A masih kerja di Bekasi. Kalau libur saja kami ketemuan di Cianjur.
Cerita kaburan dan perubahan sikap mereka saat ini malah jadi bahan guyonan kalau kami bertemu. Ya meskipun saya dulu sempat kesal dan kecewa, tapi kami tetap berteman bahkan serasa saudara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar