Jumat, 01 Juli 2022

Belajar Ditinggalkan Anak

Pandangan saya kabur tidak hanya karena kabut yang cukup tebal menyelimuti langit Sukanagara, melainkan ditambah air mata yang maksa banget, sungguh tidak bisa saya tahan. Dalam boncengan suami saya hanya bisa memejamkan mata sambil berpegangan erat. Jalanan aspal berlubang membuat tubuh kami selalu berguncang, bahkan sesekali hampir terloncat. Tapi kami tetap diam dengan pikiran masing-masing. Suami fokus memilih jalan pulang. Saya anteng membayangkan Fahmi, putra kami yang tampak senang baru saja kami tinggalkan. Bertolakbelakang dengan kesedihan yang saya (dan mungkin juga suami) rasakan.

Liburan kenaikan kelas Fahmi sudah dimulai sejak tanggal 26 Juni lalu. Sejak itu ia sudah bilang, mau nginap di neneknya di Sukanagara. Saya hanya mengiyakan, sambil menyarankan untuk minta izin dulu kepada ayahnya.

Saya tidak yakin Fahmi akan berani berlibur sendiri jauh dari orang tua. Secara selama ini, ia tidak pernah jauh dari kami. Sembilan tahun lebih usianya, belum pernah berpisah jauh dari saya. Tapi kini ia yang meminta sendiri. Mungkin melihat teman-teman sekolah dan mengajinya setiap liburan sekolah selalu bercerita senang nginap di nenek. Akhirnya ia terprovokasi...

Hari Minggu ia sudah bertanya kapan mau ke Sukanagara, tempat neneknya yang berjarak sekitar setengah jam dari tempat kami tinggal.

“Gak sabar tidur di mama disana dingin gak perlu pakai kipas atau AC,” celotehan itu tidak henti-hentinya.

Sukanagara beberapa tahun lalu, dinginnya masih kuat. Siang hari saja anak-anak dipakaikan jaket, kaya musim dingin di negara empat musim saja

Fahmi ke neneknya memang memanggil mama, ke saya ibunya memanggil ibu. Sukanagara kecamatan tempat ibu saya tinggal adalah wilayah perkebunan teh (dulu perkebunan Nusantara milik pemerintah/PTPN VIII. Sekarang sudah dipecah dan beralih tangan dimiliki pihak swasta). Karena itu udaranya di sana cukup dingin dan segar.

Senin, Selasa, Rabu, Fahmi terus merengek. Saya gak bisa bagaimana sementara ayahnya hanya diam saja. Sampai Rabu malam, Fahmi memberanikan diri bilang lagi ke ayahnya, kalau Ami mau nginap di mama boleh gak? Ayahnya jawab ya terserah. Saat itu juga percakapan nya itu langsung disampaikannya ke saya. Akhirnya Kamis pagi saya siapkan semua pakaian dan keperluannya. Melihat sikap dingin ayahnya, saya berinisiatif mau mengantarkan Fahmi sendiri saja. Naik angkutan umum elf, tak apa. Toh Fahmi juga katanya gak masalah. Meski kalau naik angkutan umum ia bisa mabuk perjalanan mengingat jalan di Cianjur Selatan ini cukup aduhai. Aduhai rusaknya...

Setelah berpamitan dan berjalan sekitar lima puluh meter menuju jalan raya tiba-tiba ayahnya mengatakan mau mengantarkan. Kami pun akhirnya berboncengan menaiki sepeda motor.

Sampai di rumah ibu saya, Fahmi tampak gembira. Ketemu neneknya, paman dan bibi serta sepupunya, Amanda dan Lutfi, semua gembira. Kecuali ayahnya, hanya diam. Saya duga mungkin pak suami merasa tergugah mengingat kedua orang tua yang sudah meninggal dan saudaranya yang tidak cukup dekat dengan Fahmi. Beda dengan saudara dari pihak ibunya, Fahmi sangat akrab. Mencoba memahami itu, saya gak banyak ngomong, langsung pamit dan menitipkan Fahmi kepada ibu dan adik saya.

Tinggal seorang nenek dari pihak ibu yang masih ada diketahui Fahmi

Jumat Sabtu, saya hanya berdua dengan suami di rumah. Sungguh sebuah kebiasaan yang tidak pernah kami alami sebelumnya. Rumah jadi terasa lebih sepi. Terlebih suami yang memang sifatnya pendiam, tidak ada Fahmi, ia seolah tenggelam dengan dunianya sendiri. Kitab-kitab kuning dan logat yang selalu dipelajari sejak lama kini semakin berserak jadi temannya.

Tenggelam dalam dunia kitab kuning dan melogat

Saya pun demikian, mencoba menyibukkan diri dengan anteng megang hp. Memantau blog dan sosial media. Sesekali saya chat Fahmi bertanya hal receh mengenainya dan ia menjawab dengan antusias. Tandanya ia memang senang nginap di rumah neneknya.

Yang bener aja, neneknya diajarin main FF

Tapi lama-lama jenuh juga. Akhirnya saya coba mau lihat berita atau nonton film kekinian. Tapi karena sebelumnya memang tidak pernah nonton, jadi malah bingung, mau nonton apa? Hihihi...

Search sana sini akhirnya ketemu blog review drakor, Lendyagassi. Nah kebetulan banget secara tidak langsung saya sudah mengenal Lendy ini. Meski ketemu langsung baru satu kali saat acara review kuliner nasi bakar di Cimahi, tapi kalau interaksi di dunia maya cukup intens.

Lendy yang sekarang tinggal di Bandung, setelah sebelumnya menghabiskan masa sekolahnya yang selalu berpindah-pindah, mulai TK di YKPP Pertamina, Pangkalan Brandan, Medan, lalu SD kelas 1-3 di Al-Azhar Cirebon sebelum lanjut ke SDN Jemur Wonosari I/413 Surabaya hingga SMP dan SMA ditamatkannya di Surabaya itu ketika pindah ke Bandung bercerita sempat merasa sedih, karena di Bandung gak punya siapa-siapa. Teman, saudara, gak ada satupun yang di Bandung. Jadi apa-apa mengandalkan suaminya.

Kenangan Blogger Bandung di Nasi Bakar Hejo Cimahi

Namun Lendy sendiri mengakui, ia tidak terlalu susah adaptasi karena diberi keberkahan lingkungan rumah yang ramah. Hidup bersama orang Sunda membuatnya berubah perlahan-lahan, jadi lebih kalem, gak meledak-ledak heboh kaya dulu di Surabaya, hehehe ...

Lendy yang lulusan Universitas Airlangga, Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, sekarang malah merasa sudah lebih nyaman banget tinggal di Bandung. Sudah punya banyak teman kajian yang saling memberi semangat, saling mendukung dan saling mendoakan. Bahkan ia sudah punya banyak makanan favorit khas Bandung seperti mochi, batagor Kingsley, dan masih banyak lagi.

Mungkin mood yang bagus itu yang mendukung Lendy semakin produktif dalam menulis review drama dan Film Korea hingga kalau perlu referensi terkait drakor udah pada tahu langsung saja ke blognya Lendy.

Benar dong, saya pun sekarang punya informasi detail mau nonton film Korea apa, dimana nontonnya, serial tayang kapan saja, sampai review-nya semua cukup lengkap ada di blognya Lendy.

Paling tidak, sampai Fahmi pulang liburan dari rumah neneknya, semoga saya tidak begitu kesepian lagi.

Baru ditinggal beberapa hari liburan, bagaimana nanti ditinggal melanjutkan sekolah sambil masuk pesantren ya?

Kebersamaan kami yang diabadikan Kang Gugel. Kemana-mana hampir selalu bareng. Pas anak pergi baru kerasa sepi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar