Permata tersembunyi tempat bermain saat bocah di Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Akhir bulan lalu sepupu rasa adik kandung akhirnya resmi menikah. Bocah jangkung anak pertama dari adik bungsu ibu saya yang sejak kecil sudah menghabiskan masa bermain bersama di Pasar Minggu Jakarta Selatan itu akhirnya berpamitan memohon doa restu untuk memulai hidup baru kembali ke ibu kota.
“Main ke rumah ya Teh, biar sekalian nanti lihat perayaan HUT Jakarta. Fahmi pasti suka jajan kerak telor dan naik komedi ombak kaya kita dulu, hehehe!” Ceritanya selalu terngiang. Meski telah berumah tangga, tapi sifat manjanya memang tidak hilang seketika.
Saya mesem-mesem saja. Gayanya pake ngajak melihat keseruan acara HUT Jakarta ke-495, padahal sejak dulu ia paling takut melihat ondel-ondel. Hihi... kalau gak nangis pasti ngumpet dan baru keluar setelah ondel-ondel yang berbentuk boneka besar terbuat dari rangka anyaman bambu dengan pakaian serta aksesoris yang menyerupai manusia raksasa itu pergi tidak terlihat lagi.
Sebenarnya ondel-ondel ini bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta rakyat atau acara lainnya. Akhir-akhir ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak penyambutan tamu atau pajangan khas di gedung atau perkantoran di ibu kota. Yang bikin anak-anak takut mungkin penampakannya yang tidak lazim. Secara dalam pertunjukan, boneka ini digerakkan dari dalam oleh seseorang. Dan kita tahu setiap ada perayaan apa pun di DKI ondel-ondel sebagai seni budaya Betawi selalu hadir. Termasuk saat perayaan HUT Jakarta. Saya jadi penasaran apakah sepupu saya masih ketakutan kalau ketemu ondel-ondel?
Saya dan sepupu dulu sempat menghabiskan masa kecil di Pasar Minggu, Jakarta Selatan bersama-sama. Saat itu ibu saya masih kerja di sana. Bibi adik ibu paling kecil pun mendapatkan jodohnya juga saat ikut merantau di Jakarta. Mereka menikah dan dua tahun kemudian lahirlah Wahyu, sepupu saya itu.
Pasar Minggu dua puluh lima tahun lalu belum seramai sekarang. Saya dan Wahyu yang saat itu bertempat tinggal berdekatan tidak betah di rumah. Bukan karena tidak ada Internet Rumah, karena jaman itu memang belum ada. Tapi karena dekat tempat tinggal kami, saat itu masih banyak lahan kosong dan ada rawa. Kami sering bermain di sana. Main lumpur dan mencari ikan di pinggir perairan.
Dulu setiap sore kalau cuaca cerah, kami suka memanjat pohon, melihat kereta pengangkut batubara yang lewat pada jam-jam tertentu di bawah sana. Saat itu melihat ular besi yang melintas dengan suaranya yang sesekali menjerit ibarat menyaksikan keajaiban yang sulit digambarkan.
[caption id="attachment_12560" align="aligncenter" width="300"]

Kereta api pengangkut batubara. Sumber translogtoday.com[/caption]
Saat musim buah-buahan, kami sering ikut memanen rambutan di lahan kosong yang diurus paman. Lalu berlomba mengumpulkan buah yang berjatuhan dan masih bagus untuk kemudian kami jual. Kalau banyak, paman membawanya ke pasar tradisional di dekat Stasiun Pasar Minggu. Kalau sedikit, biasanya hanya dibagikan ke tetangga atau penghuni kontrakan depan ujung jalan masuk ke Pejaten, perkampungan yang kami tempati.
Jika tiba masa liburan sekolah, yang biasanya bertepatan dengan perayaan HUT Jakarta, kami suka diajak paman main melihat pasar malam. Kebahagiaan kami tidak bisa dilukiskan. Bisa menyaksikan keramaian dan berbagai atraksi, juga sekaligus membeli jajanan khas pasar malam sepuasnya.
Jika paman saya libur kerja ia selalu berkirim surat ke kampung. Alat komunikasi sederhana yang kami jangkau saat itu masih menggunakan jasa pos. Tidak seperti sekarang sudah banyak Internet Rumah. Paman sengaja paling tidak setahun sekali mengajak semua keponakan baik yang ada di Jakarta maupun yang di Cianjur dan Ciamis main ke kebun binatang Ragunan. Jaraknya dari tempat tinggal kami saat itu terbilang dekat. Hanya satu kali naik angkutan umum.
“Mumpung liburan, mumpung kita masih tinggal di sini. Nanti kalau suatu saat kita pindah, anak-anak mau main ke kota bakalan susah dan mahal,” selalu begitu yang saya dengar alasan yang dikemukakan paman. Ayah Wahyu ini memang sangat suka memanjakan semua keponakannya.
Benar apa kata paman. Setelah kami besar dan berumah tangga, memiliki kehidupan masing-masing, kebersamaan dengan saudara sepupu yang pernah terjalin itu menjadi momen yang sangat berharga. Kebun Binatang Ragunan, Stasiun Pasar Minggu, dan beberapa tempat bermain saat kecil dulu lainnya yang tinggal kenangan menjadi hidden gem masa kecil kami saat masih tinggal di Jakarta.
Sekarang saya tinggal di Cianjur bagian selatan. Sepupu lain ada yang tinggal di luar provinsi bahkan luar pulau. Namun komunikasi dan kebersamaan kami tentu saja tetap terjaga berkat adanya WiFi Cepat dan Internet Rumah IndiHome milik Telkom Group.
Sepupu saya semua bekerja, jadi kami tidak memiliki banyak waktu untuk bisa berkumpul dan silaturahmi seperti dulu. Acara penting seperti saat pernikahan Wahyu kemarin itu yang bisa mempertemukan kami. Selebihnya kami mengandalkan jaringan Internet Rumah untuk berkomunikasi dan silaturahmi setiap hari.
Jika satu sama lain kangen akan masa kebersamaan kami dulu sewaktu masih di Pasar Minggu, maka kami akan saling tukar cerita dan saling kirim foto, menggali kenangan yang lucu-lucu saat masa kecil itu melalui group keluarga.
[caption id="attachment_12556" align="aligncenter" width="174"]

Mengenang masa-masa perayaan HUT Jakarta saat kami masih bocah dan diajak paman melihat keseruan karnavalnya[/caption]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar