Rabu, 15 Juni 2022

Fenomena “Budug” di Pesantren

Di pesantren tradisional yang masih sederhana pengelolaannya, ada rahasia umum yang sudah terjadi sekian lama dan turun-temurun mengenai fenomena budug alias buduk, atau penyakit kulit skabies yang menyebabkan gatal-gatal, kudis atau korengan.

Bahkan di Pondok Pesantren terkenal sekelas Cipasung Tasikmalaya, pun skabies atau budug ini jadi masalah kesehatan paling sering diderita para santri di sana. Sudah lama sih berita itu, entah sih kalau sekarang. Semoga makin pada sehat saja ya santrinya.

Saya bukan santri, tapi hidup di lingkungan santri. Fenomena budug anak santri sering saya lihat, meski tidak semua santri mengalaminya. Atau ada yang mengalaminya, tapi tidak sampai lama, apalagi parah.

Semuanya sebenarnya menurut saya tergantung dari pola hidup santri itu sendiri, dan manajemen pesantren yang seharusnya memperkuat kebiasaan dan pola hidup para santri.

Saya bisa bilang santri yang kena skabies rata-rata yang secara kasarnya bisa dibilang jorok. Maaf, memang tidak semua pesantren jorok. Pun anak santri pastinya lebih paham, kalau Pak Kiyai selalu menegaskan jika kebersihan itu sebagian daripada iman, bukan? Dan saya lebih percaya itu, kalau hidup bersih penyakit pun bisa kita hindari.

Tapi ada juga santri yang menerapkan pola hidup bersih, namun tetap saja kena skabies. Apa penyakit kulit skabies di pesantren dan tempat sejenis seperti panti asuhan ini ibarat sebuah “syarat” untuk lulus nyantri?

Geli juga dengan istilah, “Belum nyantri kalau belum merasakan budug”, ya Allah, segitunya? Jadi mereka sengaja tidak mengupayakan kesembuhan atau kebersihan demi terhindar dari skabies ini hanya bisa lulus dari istilah yang menurut saya tidak berdasar itu?

Sepertinya masyakarat kita juga sudah termakan dengan stigma kalau para santri yang hidup di pondok pesantren “wajib” hukumnya untuk kena penyakit gatal. Hehehe, memang pada mau?

Kembali kepada santri dan manajemen pesantren, mau sembuh dari skabies, atau mau nrimo dengan segala penyakit yang sudah menahun bahkan jadi “slogan” di pesantren itu?

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang cara kerjanya ia menginfeksi permukaan kulit seseorang.

Kalau santri menjaga kebersihan diri, pakaian, tempat tidur dan tempat tinggal, insyaallah kuman atau bakteri akan menjauh dan penyakit kulit itu bisa dihindarkan.

Tapi ya namanya di pesantren, tidak seperti di rumah sendiri. Banyaknya karakter santri, sifat dan kebiasaan yang campur baur membuat kebiasaan menjaga kebersihan yang dipertahankan lama-lama kalah tergerus apalagi dibarengi dengan kemalasan dan cemoohan.

Santri yang sehat, jika keseringan kontak secara langsung, terjadi sentuhan fisik antara yang sudah kena budug dan yang belum, adanya penularan pun tidak bisa dihindarkan. Apalagi ditambah kebiasaan santri, apa-apa selalu dipakai bersama. Itu memungkinkan penularan akan dengan mudah terjadi.

Bahkan Gene Netto, seorang tenaga pengajar yang kerap berbagi opini terkait dunia pendidikan, menuliskan artikel khusus  terkait skabies di lingkungan pesantren ini.

Bahwa tidak semua orang paham kalau penyakit kulit itu disebabkan oleh sebuah “parasit”. Sejenis hewan yang mungkin hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Serangga itu menggigit kulit, masuk ke dalam pori, membuat terowongan di bawah kulit, dan bertelur. Dalam waktu singkat, bisa berkembang biak ratusan sampai ribuan ekor, di bawah kulit yang secara kasat mata tidak bisa dilihat.

Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Begitu juga dengan skabies. Jadi tentu saja, skabies alias budug di pesantren pun ini BISA diobati.

Obatnya seperti disampaikan Gene Netto adalah Scabimite. Membunuh serangga penyebabnya itu sendiri. Menjaga kebersihan point utamanya. Ganti kasur, rutin menjemur atau menyedot debunya dengan vacum cleaner, rutin ganti seprei, demikian juga pakaian harus dalam kondisi bersih. Segera pisahkan pakaian yang sudah dipakai tapi belum sempat dicuci dalam ember tertutup misalnya. Kalau bisa simpan di ruangan khusus.

Santri yang kena skabies maupun yang tampak sehat, periksa ke tenaga medis. Saat diobati dibutuhkan antibiotik dan salep antibiotik untuk kulit yang sudah terinfeksi. Ikuti saja anjuran dokter. Selesai. Ya, ikhtiar sudah, tinggal tunggu hasilnya. Bukan pasrah diam saja karena merasa kalau belum budug, belum lulus jadi santri. Sungguh itu pemikiran yang salah.

Jadi ilmu untuk atasi masalah budug di pesantren ini sudah ada sejak dulu. Para dokter tahu. Para orang tua di rumah juga pasti tahu. Mungkin yang belum tahu adalah ustadz, santri, dan pengelola pondok tempat santri menginap.

Bayangkan kalau seorang anak kecil di pesantren, yang dirinya kena skabies sampai parah hingga menimbulkan luka terbuka, merah, terinfeksi, bernanah, dan gatal terus setiap hari? Lalu sebagian pengelola pesantren tertawa saja, dengan entengnya bilang "Belum kena kudis, belum menjadi santri!". Apakah para orang tua ridho putra putrinya diperlakukan demikian sementara kita di rumah, sangat menjaga kebersihan dan kesehatan mereka, bukan?

Saya tidak menyudutkan pesantren manapun. Karena dari awal sudah saya sebutkan semua kembali kepada para santri dan manajemen pesantrennya itu sendiri. Toh semakin banyak pondok pesantren modern yang berdiri, yang manajemen pondok santrinya sangat terjaga dan higienis, mereka nyatanya baik dan sehat saja. Tetap lulus mondok meski tidak kena skabies lebih dulu.

Yang kita tekankan adalah pola hidup sehat. Tanamkan rasa kasih sayang yang luas terhadap anak kecil di pesantren. Jangan sampai termakan oleh stigma lama. Sakit emang penderitaan dan "ujian dari Allah", tapi kenapa dibiarkan? Kenapa tidak ada kemauan untuk belajar ilmu dari dokter?

Penyakit skabies ini bisa diobati. Harganya cukup terjangkau. Kenapa mau dilestarikan? Sikap sebagian santri senior yang mengatakan: “Saya dulu menderita, jadi bukan masalah kalau kamu menderita juga!” Dari mana sikap itu? Ayat atau hadits mana mendidik Muslim dewasa untuk hidup seperti itu? Sekali lagi bukankah jelas kebersihan itu sebagian daripada iman? Seharusnya pengajar santri lebih memahami itu. Bukan sebaliknya.

Kita bisa berantas penyakit skabies dari semua pesantren dan panti asuhan kalau kita bersatu dan tidak menerima kondisi dimana anak dibiarkan menderita.

Baca juga bahasan lebih menarik lainnya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar