Jumat, 20 Mei 2022

Kekuatan Hati bukan Gelas-gelas Kaca

Kamu tahu barang yang terbuat dari kaca atau gelas? Kalau sudah retak apakah barang tersebut masih bisa digunakan?

Kalau orangnya rajin dan ulet, bisa saja, tapi kalau tak mau ribet, buat apa dipertahankan? Mending beli yang baru saja. Toh diperbaiki bahan kaca atau gelas itu tetap akan ada bekasnya, bukan? Alih-alih bisa berfungsi dengan baik, yang ada justru bisa melukai dan mencelakakan.

Memang, serpihan kaca atau gelas yang retak itu, atau bahkan yang sudah hancur itu andai dikumpulkannya kembali, disusun sedemikian rupa, dilem, disatukan sebagaimana awalnya dan dibentuk seperti semula, akan kembali ke bentuk awal. Meski dikerjakan oleh tangan profesional sekalipun, sesuatu yang sudah rusak, tetap saja ada bekasnya ya?

Begitu juga dengan hati manusia. Hati manusia tidak bisa dilihat begitu saja karena sebagaimana peribahasa, hati dan perasaan itu lebih dalam dari dalamnya lautan. Tidak bisa diselami.

Andai hati dan perasaan yang dijaga sedemikian rupa itu sudah tersenggol, baik disengaja maupun tidak, menimbulkan keretakan, kemudian menunggu waktu hancur, apakah bisa sedemikian pula bisa kita perbaiki sehingga kembali kepada kondisi semula?

Saya rasa tidak. Terhadap sang pemilik hati yang tangguh dan kuat sekalipun. Jika sudah disakiti, rasa sakit hati itu pasti ada dan membekas.

Banyak psikologi mengatakan perbaiki masalah keretakan hati dengan ikhlas dan memaafkan. Bisa saja, tapi dengan memaafkan dan mengikhlaskan, bukan berarti bisa melupakan, bukan?

Malah bisa jadi, keretakan yang memunculkan luka itu akan kembali menganga dan memunculkan perih yang baru manakala sang pemilik hati mengingat semua peristiwa penyebab kelukaan hatinya itu. Jadi bisa saja bibir mengucap saya sudah memaafkan dan mengikhlaskan namun ketika mengingat peristiwa itu luka yang sudah mengering bisa kembali terkuak.

Begitu dalamnya luka hati yang bisa dialami siapa pun menjadi pelajaran untuk kita bahwa jangan sampai mempermainkan perasaan apalagi sampai melukai hati. Terlebih kepada orang terdekat yang sangat kita kasihi.

Keluarga itu, dilempar kejauhan, digapai malah tidak tersentuh. Artinya ada masalah atau tidak, keluarga akan tetap berada dalam lingkungan kita dan mau tidak mau karena itu kita akan bersinggungan seterusnya. Bayangkan jika ada kelukaan diantaranya, lalu bagaimana cara memaafkan dan mengikhlaskan jika persitiwa yang menjadi penyebab masalah kelukaan akan dengan mudah muncul depan mata?

Satu hal yang bisa kita usahakan sebelum semua terlanjur kejadian, ialah mencoba tidak membuat keretakan dalam sebuah hubungan. Andaikan tanpa sengaja harus kejadian pun sebisa mungkin segera memperbaikinya, dan tentu saja tidak mengulanginya.

Kaca itu, sekali retak saja dibentuk kembali untuk jadi seperti semula sangatlah susah. Bagaimana jika keretakan yang dibuat dilakukan sampai berkali-kali? Orang bodoh saja rasanya yang lalu berniat menyatukan semua serpihan kaca itu untuk dibentuk kembali seperti semula.

Sama seperti hati, meski bukan terbuat dari kaca, namun jika sekali dilukai, mungkin masih bisa diperbaiki. Luka yang kedua kali kita coba perbaiki lagi. Sampai tiga kali, dan seterusnya, coba saja perbaiki terus, meski hasilnya bisa disimpulkan sendiri bagaimana? Bayangkan bagaimana hasilnya kain yang sudah koyak, ingin dibentuk jadi pakaian yang menutup aurat?

Hati, jiwa, dan perasaan adalah hal yang tidak bisa dicoba-coba dalam menjaga dan melindunginya. Sekali mendapatkan kelukaan maka sekian lama bekas lukanya akan tetap tertinggal.

Namun pada kenyataannya, seseorang tidak bisa lepas dari penyakit hati yang dampaknya bisa menyakiti hati yang lain. Muhasabah bisa jadi salah satu cara untuk memperbaiki hati, melatih dan membersihkannya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar