Jumat, 29 April 2022

Yuk Ketahui Bagaimana Merawat Diri dan Mencegah Kecacatan Kusta Secara Mandiri

 

Yuk Ketahui Bagaimana Merawat Diri dan Mencegah Kecacatan Kusta Secara Mandiri

 

Hingga saat ini, pasien kusta atau lepra dan penyandang disabilitas karena kusta di Indonesia, masih menghadapi berbagai kesulitan terkait akses terhadap layanan kesehatan yang layak di tengah masyarakat. Ditambah lagi minimnya informasi tentang tata cara perawatan dan penanganan pasien kusta, karena belum apa-apa, banyak orang yang sudah ketakutan duluan dengan penyakit yang diakibatkan oleh kuman Mycobacterium leprae ini.

Padahal, perlu diketahui jika penyakit kusta adalah penyakit menular yang justru sangat sulit untuk menular. Jika diobati dengan benar sesuai prosedur, penyakit kusta bisa disembuhkan.

Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita.

Stigma Buruk Kusta

Sayangnya banyak masyarakat masih mempercayai mitos dan stigma buruk terhadap kusta. Menganggap penyakit ini adalah penyakit kutukan, penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Di kalangan sebagian orang yang pemikirannya masih kolot, kusta dianggap najis dan berbahaya, karena dapat menular. Oleh karena itu anggapannya seorang penderita kusta harus diasingkan dari masyarakat. Padahal jelas semua stigma itu tidak benar.

Adanya tekanan dari masyarakat seperti itu menyebabkan kesembuhan penderita kusta semakin sulit dijangkau. Ditambah, sebagaimana disampaikan dr. M Riby Machmoed MPH, Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia (sebuah organisasi non-pemerintah yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta)  saat acara Talk show di Ruang Publik KBR, ditemukan fakta jika tidak semua unit layanan kesehatan memahami informasi tentang kusta dan masih tingginya stigma terhadap kusta di kalangan tenaga kesehatan itu sendiri, sehingga orang dengan kusta tidak mendapatkan layanan yang optimal dan malah jadi enggan untuk berobat.

Hal ini tentu akan memperparah kondisi si penderita, karena selain berisiko menyebabkan disabilitas, orang dengan kusta yang tidak diobati akan dapat menularkan bakteri kusta kepada lingkungan sekitarnya. Malah makin berbahaya dong ya...

Pencegahan Preventif Kusta

Bagaimana upaya pencegahan preventif pada kusta dilakukan? Hal ini harus kita tahu secara mendasar sehingga apabila ada keluarga atau tetangga dekat mengalami gejala penyakit kusta, bisa segera mengambil langkah yang tepat. Seperti apa dinamika yang terjadi pada upaya edukasi perawatan diri dan pencegahan disabilitas pada kusta?

Kenali Gejala Kusta

Yang harus kita ketahui lebih dulu adalah bagaimana gajala kusta ini bisa terjadi. Sebelum sampai di gejala penyakit kusta, harus kita ketahui dulu jika kusta ini terbagi menjadi dua, yaitu kusta kering dan kusta basah.

Gejala kusta kering ditandai dengan adanya:

  • Adanya bercak di kulit kurang dari lima buah
  • Mati rasa di kulit, termasuk kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan, atau rasa sakit
  • Muncul lesi pucat, berwarna lebih terang, dan menebal di kulit
  • Kulit tidak berkeringat (anhidrosis)
  • Muncul luka tapi tidak terasa sakit
 

Adapun gejala penyakit kusta basah ditandai dengan:

  • Adanya bercak di kulit lebih dari lima buah
  • Mati rasa di kulit, termasuk kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan, atau rasa sakit
  • Muncul lesi pucat, berwarna lebih terang, dan menebal di kulit
  • Kulit banyak mengeluarkan berkeringat sehingga tampak basah dan mengkilat
  • Muncul luka tapi tidak terasa sakit. Kerusakan saraf yang ditimbulkan cenderung lambat. Namun jenis kusta basah lebih mudah menular dibandingkan kusta kering.
 

Langkah Pertama Saat Mengetahui Menderita Kusta

Lalu apa yang harus dilakukan ketika menemukan gejala kusta? Segera ke puskesmas terdekat untuk melakukan pemeriksaan dan jika benar itu gejala kusta ikuti prosedur pengobatannya. Untuk kusta kering berobat selama enam bulan dan kusta basah berobat selama dua belas bulan.

Ketika masa pengobatan selesai, orang yang pernah menderita kusta (OYPMK) tidak boleh lost kontak begitu saja dengan petugas medis, paling tidak lakukan konsultasi minimal tiga bulan sekali untuk tetap memantau dan mengecek kecacatan, syaraf, dan sebagainya. Sehingga peluang untuk menularkan semakin kecil dan bisa ditangani segera.

Ibu Sierli Natar S.Kep Wakil Supervisor (Wasor) TB/Kusta dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, menjelaskan jika penularan penyakit kusta bisa terjadi bila belum diobati. Maka pengobatan ini salah satu pemutus rantai penularan kusta. Menularnya kuman kusta pun hanya ke orang sehat yang kekebalan tubuhnya memang rendah.

 

Ibu Sierli menjelaskan bagaimana kondisi tenaga medis di lapangan di kota Makassar ketika menghadapi penderita kusta. Bahwa ketika ada penderita yang tidak terima jika ia menderita kusta, maka petugas selalu mendampingi dan memberikan pengertian jika kusta bisa disembuhkan dan tidak berbahaya jika mengikuti prosedur pengobatannya.

Begitu juga jika pemahaman setiap tenaga medis terhadap penyakit kusta tidaklah sama. Namun pelayanan maksimal selalu diupayakan.

 

Bantu OYPMK Percaya Diri

Cara menanamkan rasa percaya diri kepada penderita kusta yang dilakukan tim medis di Makassar dengan:

Melihat kemampuan para penderita, lalu beri keterampilan dan terus beri semangat untuk bisa berkarya

Dengan meningkatkan pelayanan. Berikan pasien pelayanan pengobatan terbaik sehingga pasien tidak merasa didiskriminasikan dan saat tidak ada patugas medis, penderita bisa melakukan pengobatan secara mandiri.

Sesuai tingkatannya, pengobatan terhadap penderita kusta terdiri dari tingkat 1 untuk gejala hilang rasa, dan pengobatan tingkat 2 untuk organ yang sudah bengkok, luka dan cacat lainnya.

 

Cara Mandiri Pengobatan Kecacatan Kusta

Jika kesempatan bertemu tenaga medis tidak ada, penderita kusta dengan kecacatan bisa melakukan upaya pengobatan mandiri, di rumah saja dengan cara:
  • Rendam bagian luka dengan air biasa sekitar 20 menit
  • Gosok bagian pinggirnya dengan batu apung
  • Olesi dengan minyak kelapa
  • Tutup dengan kain yang bersih
Untuk luka atau cacat tertentu, seperti misalnya tangan bengkok, lakukan perhatian ekstra misalnya dengan pengurutan yang terarah, dan sesuai prosedur pengobatan.

Lama pengobatan tergantung dari tingkatan cacatnya. Pengobatan seperti ini bisa jadi harus dilakukan seumur hidup. Karena kalau tidak, bisa menimbulkan penularan baru. Di sini pasien dituntut untuk bisa melakukan pengobatan mandiri.

 

NLR Indonesia

Jika dilihat berdasarkan data dari NLR Indonesia, di Indonesia sendiri angka penderita kusta terus mengalami penurunan.

Perlu diketahui jika NLR adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia dengan menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi) demi mencegah kecacatan atau disabilitas kusta.

dr. Riby Machmoed MPH dari NLR Indonesia menjelaskan penurunan angka kusta secara nasional dari tahun ke tahun mulai 2019 dengan jumlah penderita mencapai 19.900 menurun pada tahun 2020 menjadi 13.180.

Kasus baru pada tahun 2019 ada sekitar 17.400 maka pada tahun 2020 ada 11.173. Demikian pula untuk angka kecacatan, berdasar penilaian global indikator jika pada tahun 2019 ada 4.18 per 1 juta penduduk, maka pada tahun 2020 hanya 2.13 per 1 juta penduduk.

Demikian juga untuk penderita kusta anak angkanya terus mengalami penurunan. Sekarang ada sekitar 1126 kasus padahal tahun sebelumnya lebih dari itu.

Adapun Provinsi tertinggi penderita kustanya diduduki Jawa Timur, lalu Jawa Barat dan Papua. Urutan keempat dan kelima dipegang oleh Jawa Tengah dan Papua Barat

 

Kesembuhan Kusta Tanggung Jawab Bersama

Sosialisasi terkait kusta dan meluruskan stigma yang tidak benar terus dilakukan tapi kenapa penyebaran tetap ada? Jawabannya kembali ke sumber daya manusia itu sendiri.

Kita bisa lihat sendiri bagaimana orang Indonesia dalam menghadapi program pemerintah seperti apa. Masih banyak yang menyepelekan alih-alih memberikan dukungan.

Kusta tidak bisa hilang hanya diperjuangkan oleh salah satu pihak saja. Melainkan perlu kerja sama demi tercapainya kesembuhan baik dari si penderita itu sendiri, pihak keluarga, tim medis, dan dukungan masyarakat.

Perlu dicatat, seseorang dapat tertular kusta jika mengalami kontak dengan penderita dalam waktu yang lama. Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita. Kusta juga tidak ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya.

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah kusta. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan pencegahan yang paling baik untuk mencegah komplikasi sekaligus mencegah penularan lebih luas. Selain itu, menghindari kontak dengan hewan pembawa bakteri kusta juga penting untuk mencegah kusta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar