Senin, 18 April 2022

Sakit Parah Dulu, Baru Tengok Kemudian?

Ada banyak ucapan yang bilang, “Berbahagialah bagi yang masih punya ibu, karena ada wujud ibu yang masih bisa dipeluk.”  Dalam arti selagi masih ada kesempatan, membahagiakan orang tua itu jadikan sebagai setinggi-tingginya tujuan dalam kehidupan...

Mungkin kita tidak banyak waktu luang. Jangankan menghabiskan waktu bersama keluarga, buat me time saja susah. Apalagi ritme masyarakat di perkotaan, berangkat pagi, pulang malam sekali. Pun sekarang, saat pandemi, saat apa-apa banyak dilakukan di rumah saja, tapi tetap saja sebagian waktunya tersita akan pekerjaan.

Sibuk dengan pekerjaan dan karier, sampai tidak sempat lagi melihat senyum di wajah orang tua tercinta. Padahal niat awal bisa kerja adalah untuk membanggakan mereka, bukan?

Dan kita tidak tahu, berapa lama lagi waktu yang kita punya untuk mengukir senyum di wajah mereka?

Padahal, setiap orang tua tentu tidak pernah mengatakan pada anaknya betapa banyak yang harus mereka korbankan untuk membesarkan buah hati kesayangannya.

Malam yang tadinya bisa dilewati dengan tenang tak apa terganggu dengan tangis bayi mungil kehausan. Orang tua juga harus berhemat demi memastikan kaleng susu anak masih cukup sampai akhir bulan. Semua ini disimpan jadi rahasia karena mereka tak ingin kita sebagai anaknya merasa berhutang pada mereka.

Jika bapak bekerja hingga berhari-hari lamanya tidak pulang, bisa jadi karena pekerjaan tambahan yang diambil demi bisa menambah penghasilan karena perlu uang untuk beli baju anak yang terlalu cepat kekecilan.

Selepas masa kecil, kebutuhan kita pun kian memuncak. Tidak hanya urusan beli popok dan membayar uang imunisasi saja, orang tua juga harus memikirkan besaran uang sekolah yang harus dibayar tepat pada waktunya.

Tak lagi mikirin belanja untuk kesenangan sendiri. Pendapatan yang tidak seberapa harus diatur sedemikian rupa agar semua keperluan bisa terbayar. Tak hanya demi memenuhi kebutuhan hidup. Orang tua pun membanting tulang agar bisa mengatakan “iya” pada setiap keinginan yang dipinta anaknya.

Setiap anak meminta sesuatu, orang tua tak akan langsung bilang ‘tidak’, tapi sebisa mungkin akan berusaha membelikannya untuk sanga anak. Tidak ada alasan yang lebih dalam, keduanya hanya ingin mencetak rasa bahagia di wajah anaknya yang mereka begitu cinta. Mereka tak ragu mengencangkan ikat pinggang dan mematikan keinginan pribadi demi menggenapi hidup sang buah hati.

Walau harus menahan rasa lapar dan mengesampingkan semua kehendak, tapi itu semua tidak akan dilihat sebagai bentuk kerugian. Pengorbanan dan ketulusan mereka seringkali terpancar lewat kalimat mengalahnya...

“Abiskan saja, ibu masih kenyang kok.”

“Kakak dulu beli baju, ntar kalau ada yang cocok Bapak juga mau...”

Semua itu dilakukan karena rasa cinta yang begitu dalam untuk kita, anaknya. Mereka memprioritaskan semua yang berkaitan dengan sang anak di atas segala hal. Sebesar apapun keinginan atau kebutuhan orang tua, bila itu berbenturan dengan kepentingan si buah hati maka mereka tak akan ragu memundurkannya.

Orang tua jelas tidak meminta imbalan. Namun di hari mereka yang sudah semakin senja, tidak inginkah kita menorehkan senyum di wajah mereka?

Coba ingat sangat banyak jejak perjuangan orangtuamu di dalam diri kita. Baju yang dikenakan, rumah yang di tinggali, bahkan sampai lembaran ijazah dengan namamu itu semua adalah bukti rasa cinta mereka kepada anaknya.

Kini anaknya sudah bermetamorfosis jadi pria atau wanita dewasa. Bukankah kita juga telah memiliki kemampuan untuk membahagiakan mereka? Di tubuh yang semakin renta, mereka butuh pundak buah hati yang kuat untuk bersandar hingga waktu menutup mata itu tiba. Seharusnya kita bisa mengisi kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Waktu mereka tidak akan lagi lama. Membahagiakan mereka adalah kewajiban yang harus dituntaskan selagi nafas masih bersamanya.

Sibuk kerja, sibuk kuliah, sibuk dengan istri dan atau suami, bikin tak lagi cukup waktu untuk bercengkerama dengan orang tua. Setiap hari sibuk membahagiakan pasangan, sampai lupa, bahwa mereka orang tua kita ingin pula kamu ajak bicara, mendengarkan cerita anaknya.

Di akhir pekan sering sudah sibuk dengan aneka janji pergi bersama teman terdekat atau pasangan. Menghabiskan malam sampai pagi hari dilakukan, demi melepas penat karena harus berjibaku dengan target pekerjaan yang memusingkan. Lagi-lagi kamu lupa, bahwa di rumah sana ada orang tua yang kebahagiaannya menjadi tugasmu yang tidak boleh terlupa.

Memang bukan salahmu menghabiskan banyak waktu meraih cita-cita dan berteman sebanyak-banyaknya. Orang tua juga akan merasa senang melihat keberhasilan yang diukir oleh anaknya. Namun yang jadi pertanyaan, sudahkah kamu menyediakan cukup waktu dan tenaga untuk membahagiakan mereka? Selagi masih ada waktu tersisa, bahagiakanlah mereka sebaik yang kita bisa.

Orang tua jelas tidak akan menuntut banyak dari anaknya. Tapi perhatian dan kasih sayang yang diberikan akan jadi bentuk balasan yang paling dirindukan. Sungguh saya ingin dekat dengan orang tua dan bisa membahagiakannya selagi masih ada masa tersisa. Tapi bagaimana setelah berkeluarga kepatuhan ini seolah terbagi.

Setelah berkeluarga, saya akui kondisi ibu saya sering terabaikan. Dengan anak dan suami sering jalan-jalan atau makan malam di luar, tapi belum pernah sama sekali kali saya bisa ajak ikutkan kehadiran ibu di saat jalan-jalan dan makan malam seperti itu. Saya tidak lupa, sesungguhnya saya ingin sekali untuk mengajak ibu bergabung dengan keluarga kecil ini. Tapi apa kuasa saya?

Jika kesannya, setelah punya istri, ibu kita sudah terabaikan, ini terbalik. Justru setelah saya bersuami, ibu sendiri jarang dikunjungi dan jarang di ajak bareng keluar rumah bersama.

Sungguh jika mengingat ibu sendiri, saya sangat merasa sedih karena mungkin termasuk anak yang sangat rugi.  Sebagai seorang anak saat ibunya masih hidup seharusnya dijadikan kesempatan untuk memuliakan ibunya sebagai cara mendapatkan tiket untuk ke Syurga.

Ah, lagi-lagi jika mengingat ibu, terlebih dengan kondisi yang sakit-sakitan seperti sekarang ini saya hanya bisa mengatakan kalau saya sangat sedih. Tanpa ada kekuatan untuk berada disisinya sementara sang pemberi izin juga diam-diam saja...

Haruskah nunggu sakit parah dahulu baru diperbolehkan menengoknya kemudian?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar