Selasa, 19 April 2022

Ginjal Teman yang Gagal

Ginjal teman yang gagal

Lagi beli jeruk peras depan Kaum Pagelaran terdengar suara pengumuman orang meninggal dunia. Tapi tidak jelas siapa, suara pengeras dari masjid kalah oleh bisingnya kendaraan yang sore itu seakan tumpah ruah ke jalan. Cuaca cerah membuat masyarakat happy bisa ngabuburit full dan bikin jalan semakin sesak.

Saya baru tahu kalau yang meninggal adalah kawan satu angkatan saya, namanya Yudi, dari status sosial media Rina yang diunggahnya. Saya kenal dengan Yudi ini, waktu sekolah di Sukanagara dan sering main ke Pagelaran, tapi tidak terlalu dekat. Kami sering ketemu karena anak Pagelaran seangkatan Rina saat itu kompak sering main.

Dari Rina saya tahu, kalau Yudi meninggal dunia setelah mengalami gagal ginjal. Ginjal adalah sepasang organ yang bekerja dengan cara membersihkan darah, mengeluarkan kotoran, serta membuang kelebihan cairan dari tubuh. Kotoran dan cairan tersebut kemudian dialirkan ke kandung kemih untuk dibuang sebagai urine.

Namun, untuk beberapa kondisi, ginjal bisa saja mengalami gangguan sehingga tidak mampu lagi menjalani fungsinya dengan baik atau disebut juga gagal ginjal. Hal ini tentunya berdampak pada kondisi tubuh secara keseluruhan.

Nah, salah satu cara untuk menangani gagal ginjal adalah dengan cuci darah. Cuci darah untuk gagal ginjal bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal yang mengalami kerusakan.

Maka penderita diharuskan untuk melakukan cuci darah agar terhindar dari beragam komplikasi yang membahayakan nyawa.

Setelah sekian lama berobat baik medis maupun alternatif, akhirnya Tuhan lebih memilih Yudi untuk kembali kepada Nya.

Mengenai penyakit ginjalnya, saya jadi ingat dengan putrinya guru kelas Fahmi, putra saya saat kelas 1 SD. Shanti, putrinya Ibu Titim, juga tahun lalu telah meninggal dunia setelah berjuang sekian lama dengan gagal ginjalnya. Shanti yang tinggal terpisah ngekost di Cianjur kota (sementara Ibu Titim di Pagelaran) demi bisa melakukan cuci darah secara rutin di kota.

Prosedur cuci darah untuk gagal ginjal dilakukan untuk menyaring racun dan zat sisa metabolisme dari dalam tubuh. Prosedur ini dikenal juga dengan sebutan dialisis dan dilakukan dengan bantuan mesin khusus.

Dalam melakukan proses cuci darah, ada dua metode yang bisa dapat dipilih, hemodialisis dan atau dialisis peritoneal.

Hemodialisis adalah prosedur cuci darah untuk gagal ginjal yang menggunakan mesin khusus untuk menyaring darah dan menggantikan ginjal yang rusak.

Pada proses cuci darah ini, petugas medis akan memasukkan jarum ke pembuluh darah untuk menghubungkan aliran darah dari tubuh ke mesin pencuci darah. Setelah itu, darah kotor akan disaring oleh mesin pencuci darah. Setelah tersaring, darah yang bersih akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Prosedur hemodialisis biasanya menghabiskan waktu sekitar 4 jam per sesi dan dilakukan setidaknya 3 sesi dalam seminggu. Prosedur ini hanya bisa dilakukan di klinik cuci darah atau rumah sakit. Karena itu Shanti memilih tinggal sendiri di kota Cianjur meski orang tuanya sangat mengkhawatirkan. Hingga akhirnya Shanti meninggalkan kami juga.

Ginjal teman yang gagal

Entah kebetulan atau bagaimana, tiba-tiba saja Ramadan kali ini tetangga saya, orang tua dari Putri, salah satu murid mengaji di rumah, sekaligus teman satu profesi suami, Pak Haji Arif namanya, juga didiagnosa gagal ginjal.

Saya baru tahu ketika Putri, sudah beberapa hari tidak masuk mengaji. Padahal biasanya ia paling rajin. Setelah tanya sana-sini ternyata Pak Arif dan keluarga sedang ke Jakarta. Saya pikir nengok anak pertamanya yang kuliah di Jakarta, ternyata informasi dari teman mengajar suami di sekolah bersama Pak Arif, mengatakan kalau Pak Arif sedang berobat di Jakarta karena sakit dan hasil diagnosa penyakit ginjal.

Hingga tulisan ini dibuat, Putri belum masuk mengaji juga. Karena setelah selesai urusan dari Jakarta, Pak Arif melanjutkan perawatan di RSUD Cianjur. Orang tua Pak Arif memang tinggal di Cianjur, sehingga meski Pak Arif dirawat di rumah sakit, mungkin Putri tinggal bersama keluarga neneknya di sana. Kabar terakhir saya dengar setelah dari di RSUD Cianjur, Pak Arif akan melanjutkan pengobatan ke Bandung.

Dan tidak terduga pula, salah satu teman saya yang bertugas di Perpustakaan Daerah Cianjur, Teh Riana namanya, ternyata beliau pejuang cuci darah juga!

Saya malah baru tahu bulan April ini ketika Teh Riana menguploadnya di Instagram terkait perjuangannya untuk mencuci darah secara rutin. Padahal saya mengenal beliau sudah sejak tahun lalu, saat dihubunginya untuk menjadi juri dalam lomba yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Daerah Cianjur.

https://www.instagram.com/p/CcqIMhwpTge

Ya Allah, rasanya bagaimana gitu setelah saya menyadari ternyata saya dikelilingi orang hebat dan pantang menyerah dengan segala ujian dari Nya. Dan secara berurut-turut dengan masalah yang sama, pada organ dalam ginjal.

Meski ada efek samping yang dapat timbul ketika cuci darah berlangsung, juga cukup memakan waktu, tetapi prosedur cuci darah tidak mengganggu aktivitas penderita gangguan ginjal. Banyak penderita yang melakukan cuci darah tetap memiliki kualitas hidup yang baik. Mereka masih bisa bekerja atau melanjutkan sekolah.

Saya dan keluarga jadi merenung, betapa pentingnya fungsi ginjal bagi kehidupan. Kita harus memeliharanya dengan menjalani pola hidup sehat dan rutin melakukan pemeriksaan fungsi ginjal untuk memantau kondisinya.

Tidak berlebihan rasanya jika doa dan keinginan saya di tahun ini berharap semoga teman dan sahabat yang telah tiada mendapatkan tempat yang bahagia di sisi Nya, serta yang sakit semoga bisa melewatinya dengan tetap penuh syukur, dimudahkan dalam segala urusannya, lekas sembuh dan menjalankan kegiatannya lebih maksimal. Doa yang sama semoga yang terbaik menurut Allah SWT pun semoga kembali kepada kita. Aamiin.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar