Minggu, 03 April 2022

Rekomendasi Ngabuburit di Pedesaan

Rekomendasi ngabuburit di pedesaan siapa tahu kamu tertarik...

Bukan mall, bukan kafe, bukan pula restoran atau sentral wisata kuliner. Tempat ngabuburit favorit saya adalah kebun, pinggir sungai yang ada air terjun (meski tidak tinggi) sehingga terdengar suara air, hamparan sawah dan irigasinya hingga daerah perkampungan yang meski berada di satu kecamatan tapi belum pernah saya lewati. Saking luasnya darah di Cianjur Selatan ini. Buat kamu yang merasa apa serunya ngabuburit ke lokasi yang saya sebutkan itu, baiklah akan saya jelaskan.

Kebun

Jangan bayangkan perkebunan teh, kopi atau palawija lainnya yang luasnya sampai hektaran. Kebun yang saya maksud adalah kebun mini yang alhamdulillah sudah lunas pembayarannya dan sekarang resmi kami miliki. Percaya atau tidak, saya nabung seribu dua ribu dari hasil ngeblog dan ngeinfluencer selama beberapa tahun ini.

Sekarang kebun kami itu ditanami kapol. Jadi seperti tidak terurus karena emang belum terlihat mana tumbuhan dominan di sana.

Yang bikin senang ke sana adalah lokasinya yang berada di ketinggian, sementara di bawahnya menghampar desa Pagelaran tempat saya tinggal. Dari kebun ini saya bisa melihat pasar Pagelaran, masjid besar kecamatan Pagelaran, beberapa kampung dan pesawahan yang menghampar sebelum mentok di perbukitan yang menjulang di kejauhan sana. Katanya itu masuk ke wilayah Kecamatan Pasirkuda dan selanjutnya daerah Kabupaten Bandung.

[caption id="attachment_12152" align="aligncenter" width="300"] Manjat pohon di kebun[/caption]

Ibarat berdiri di puncak, sejauh mata memandang hanya penghijauan yang saya lihat jika cuaca sedang bagus.

Suami pernah bilang, kalau ada rezeki di kebun ini ingin bikin saung (semacam dangau) untuk istirahat dan simpan barang-barang jika tengah main ke kebun.

Saya dan anak memang suka main ke kebun sampai kadang lupa waktu saking betahnya. Nah jadi cocok kan ke kebun untuk ngabuburit yang mana justru ingin waktu cepat berputar sampai mendekati waktu maghrib?

Sungai

Sungai yang melewati desa Pagelaran adalah sungai Cijampang. Beberapa Minggu lalu sempat viral secara di Cijampang ini ada pemancing yang hanyut dan jenazahnya baru ditemukan di Kecamatan Agrabinta (hampir ke muara laut selatan Jawa) setelah team SAR melakukan pencarian beberapa hari lamanya.

Sungai Cijampang cukup lebar dengan aliran air yang tenang. Banyak bebatuan alami sehingga enak untuk duduk atau sekedar bermain air sambil selonjoran.

Sebagian masyarakat menjadikan sungai Cijampang sebagai sumber usaha dengan mengambil pasir dan bebatuannya untuk diolah lagi jadi bahan bangunan.

Sebagian aliran sungai Cijampang memiliki kedalaman tertentu dan jadi tempat ikan menetap. Makanya selalu banyak yang mancing.

Di pasir yang memanjang itu saya suka mengajak anak untuk bermain-main. Semilir angin dan gemercik air jadi perpaduan suara alam yang sangat indah didengar. Suasana udara pedesaan yang masih bersih bikin paru-paru kembali bersih.

Jika ada air yang sedikit menukik (anak saya menganggapnya sebagai air terjun) biasanya kami duduk berlama-lama. Memperhatikan riak air, mendengarkan bisingnya gelora air yang ditimbulkannya namun terasa nyaman kami dengar, adalah hiburan yang tidak pernah kami dapatkan di daerah manapun.

https://www.instagram.com/p/BcPNYhKHV6E/?utm_medium=copy_link

 

Sawah

Meski tergantung kepada musim tanam padi, tapi melihat hamparan sawah dengan segala keindahan alaminya sungguh tidak bikin bosan. Fahmi sejak usia tiga tahun selalu mengajak saya main ke sawah yang ada batu besar di tengahnya. Masyarakat setempat bilang sih jangan main ke sana katanya ada penunggunya! Saya percaya Allah SWT sebagai Tuhan saya saja. Lah anak saya suka dan betah mau gimana?

Memang dari atas batu itu kami bisa melihat desa Pagelaran dan sekelilingnya. Waktu masih kecil untuk sampai di atas batu Fahmi seperti memanjat tebing saja, kesulitan. Sekarang sih udah besar bisa manjat dengan sendirinya.

Biasanya main ke sawah sore hari selepas ashar. Makanya cocok untuk ngabuburit. Soalnya kalau pagi dan siang, panas banget secara tidak ada pepohonan atau lainnya untuk menyaring sinar matahari.

Kalau musim panen, di batu ini banyak capung dan serangga lainnya. Seru deh menandakan kalau lingkungannya memang masih alami.

https://www.instagram.com/p/BapgDs4HDVM/?utm_medium=copy_link

 

Keliling kampung

Ini biasanya kami lakukan kalau pak suami lagi bisa diajak jalan. Soalnya kami harus naik sepeda motor dan banyak jalan yang masih berupa bebatuan. Meski ada dana desa untuk bikin cor, tapi banyak juga yang jalannya gak bertahan lama, akhirnya malah ancur-ancuran.

Yang bikin seru dan betah sepanjang perjalanan kita selalu bercanda dan bikin obrolan seru. Jadi perjalanan yang menyakitkan bagai naik roller coaster itu jadi tidak begitu terasa lama. Biasanya kami muter-muter aja. Menerabas masuk kampung satu, nanti keluar kampung mana. Kalau beneran ga tahu arah, baru tanya ke warga setempat.

Sampai bisa nyasar gitu di kampung? Iya, pernah. Haha... Tapi kami tidak takut, namanya di daerah sendiri. Jadi malah seru aja. Ketemu banyak orang baru dan banyak yang jadi saudara karena kenal seperti itu.

Ngabuburit keliling kampung seperti itu kami lakukan ya kalau cuaca sedang bagus. Kalau hujan bagaimana? Ya kami ngabuburit nya di rumah saja. Sambil ngasih makan ikan di kolam, ayam di kandang, atau memeng si anabul yang tidak pernah jauh dari kasur.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Meski kami tinggal di kampung tapi selalu bahagia dengan semua yang kami miliki. Alhamdulillah Yuk, ikut ngabuburit bersama kami sore ini...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar