Drama Puasa Hari Pertama di Singapura, Hong Kong dan Taiwan
Waktu pertama kali menjalankan ibadah puasa di luar negeri, rasanya nano-nano. Biasa berkumpul dengan ibu dan adik, tiba-tiba harus terpisah dan gak bisa komunikasi karena saat itu tahun 2000-an belum ada ponsel apalagi internet.Tapi untungnya di Singapura, tempat saya saat itu bekerja bukan negara non muslim. Meski majikan orang Chinese, tapi mereka tahu banget akan ibadah puasa dan amalan Muslim lainnya.
Sejak jauh hari orang tua majikan sudah mewanti-wanti kapan puasa dimulai. Meski ia non muslim tapi pergaulannya luas termasuk dengan orang Melayu yang hampir semuanya menjalankan ibadah puasa.
Tapi untuk urusan makan mereka saya tetap yang mengurusinya. Jadi jangan dikira kita puasa terus bisa santai gak masak gak apa. Malah merasa lebih berat secara kita menjalankan puasa, tapi aktivitas tidak beda dengan hari pada umumnya. Memasak, belanja dan pekerjaan lain tetap saya lakukan. Kurang-kurangnya iman dan keyakinan, bisa tergoda dan membatalkan puasa yang sedang dijalankan.
Masih mending bisa mendengarkan radio berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang disiarkan dari Batam. Jadi suasana sahur, bedug magrib dan momen lainnya masih terasa kentalnya.
Drama puasa pertama di Singapura yang masih teringat adalah ketika anak yang saja jaga, Jonathan namanya, mengumpulkan jajanannya, katanya untuk saya nanti malam.
"Kasihan Cece Lili gak makan seharian, kalau aku, bisa mati..." Ah meleleh rasanya, anak usia empat tahun saat itu sudah memiliki rasa toleransi yang tinggi.
Drama puasa pertama yang tidak akan lupa selanjutnya ketika bekerja di Hongkong. Di sini lingkungan tempat tinggal majikan jauh banget dibandingkan Indonesia atau Singapura. Jelas orang Hongkong kan negara non muslim.
Tapi banyaknya komunitas yang saya ketahui dari teman sesama pekerja migran bikin suasana tidak terlalu menyedihkan. Ya paling tidak ada teman untuk bertanya terkait waktu buka, subuh, dan lainnya.
Saat bekerja di Hongkong memang sudah ada ponsel, tapi beberapa bulan pertama kerja saya belum memilikinya. Jadi komunikasi masih agak susah. Solusinya ya saya banyak bertanya ke pekerja migran sebelah rumah.
Majikan tidak tahu menahu soal bagaimana ibadah saya. Dimatanya yang penting pekerjaan saya beres. Tapi dia tahu kalau saya tidak makan non halal. Jadi selama tidak mengganggu pekerjaan, asal di kamar sendiri saya bisa solat dan baca kitab suci.
Sahur pertama di Hongkong masih saya ingat, teman sebelah rumah dari kemarin sore mewanti-wanti kalau ia memukul pintu pagar, segera buka. Lah saya lupa. Yang buka malah majikan laki yang memang mau kerja berangkat pukul tiga waktu Hongkong (ia kerja sebagai petugas pemadam kebakaran).
Kan bingung ketika majikan laki ngasih rantang. Ternyata itu menu sahur dari teman sebelah untuk saya. Ya Allah... Meneteskan air mata saya memakannya. Sedih sekaligus bahagia. Andaikan saja saya sudah punya hp mungkin tidak akan menyusahkan orang lain.
Selanjutnya drama puasa pertama di Taiwan justru tidak begitu menegangkan sebagaimana di Hongkong. Meski Majikan juga non muslim tapi profesi mereka sebagai pramugara dan pramugari sangat memahami tentang kewajiban Muslim. Apalagi saat kerja di Taiwan sudah ada handphone dan internet. Saya bisa komunikasi dengan ibu dan adik setiap jelang sahur pula. Alhamdulillah jadi tidak begitu tersiksa.
Yang bikin drama justru orang tua majikan pria. Ama kan masih kolot. Ia marah waktu saya tidak sarapan dan tidak makan siang. Ketika saya jelaskan pun tetap tidak mau mengerti. Malah marah dan bilang "Kamu itu kerja di sini. Kalau tidak makan tidak minum bagaimana kalau kamu mati? Merepotkan saja!"
Saya hanya tersenyum. Dengan penuh kesabaran saya jelaskan jika saya tetap makan dan minum tapi waktunya dialihkan. Nanti jam enam baru saya bisa makan dan minum.
Ama baru diam padahal sambil tetap nyodorin camilan ke saya setelah anaknya yang baru pulang terbang menjelaskan. Sehari dua hari Ama masih maksa saya untuk makan. Tapi melihat saya tetap sehat dan bugar dengan tetap mengerjakan semua pekerjaan akhirnya Ama diam dengan sendirinya.
Sekarang lima belas tahun kemudian hanya keluarga majikan di Taiwan yang masih berkomunikasi dengan saya.
Hari pertama puasa kali ini, saya teringat semua itu. Teringat Ama yang kini sudah tiada. Desember kemarin majikan telepon dan chat via sosial media mengabarkan Ama baik dari pihak majikan perempuan maupun majikan laki-laki meninggal dunia beda waktu sekitar semingguan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar