Happy new year!
Apa cuma saya saja yang apapun perayaannya, tanggal merah atau bukan, tetap memilih diam di rumah? Termasuk saat libur panjang natal dan akhir tahun ini?
Jujur saya dan suami sih belum vaksin bukan karena anti, ya. Tapi emang kondisi kesehatan yang kata dokter di puskesmas belum memungkinkan. Pun saya memang tidak berkepentingan jalan ke kota, jadinya kartu sakti itu memang tidak banget-banget diperlukan.
Masih ingat saja saat orang pada ramai vaksin, saya dan suami malah kena gejala covid-19. Otomatis selama isoman (lagi) boro-boro bisa ngejar lokasi vaksinasi keluar rumah saja tidak. Boro-boro mikirin vaksin, ini masih bisa berumur panjang pun antara sadar dan tidak, saking merasa tertekannya...
Beberapa bulan kemudian ada informasi vaksin dosis pertama di desa tempat saya tinggal. Suami sih masih masa pemulihan dari penyakit bawaannya jadi masih ada alasan kuat, lah saya yang sekarang merasa fit, eh pas mau antri ambil pendaftaran malah mareuhmeuh (gejala flu batuk) dan meriang. Batal lagi dong itu mau vaksinnya. Emang sih meski berusaha menjalankan pola hidup sehat, makan sayur dan buah dan olahraga semampunya, tapi namanya penyakit kan gak pandang bulu ya. Mulai penyakit kelas rendah semacam budug (gatal-gatal) sampai penyakit rada gaya (penyakit mematikan tidak menular) ternyata bersarang juga di tubuh saya. Bagian penyakit ini saya cerita di blogpost terpisah ya. Soalnya rada kompleks juga gitu penyakitnya, mulai dari ujung kaki seperti rorombeheun sampai ujung kepala karena ketombe. Wkwkwkwkkk... kambuh nih ngasal... [caption id="attachment_11604" align="aligncenter" width="689"]
Sampai sekarang antrian untuk vaksin di desa masih terus berantai, saya masih belum juga kebagian. Maklum kuota sekali vaksin tidak lebih dari dua ratus lima puluh orang, jadi bagi mereka yang berkepentingan pastinya ingin saling didahulukan. Saya, kembali mundur teratur.
Anehnya meski tidak direncanakan, bahkan saya mempersiapkan karena sebelumnya pihak sekolah menginformasikan, waktu anak di sekolah siap divaksin malah pulang karena ternyata Fahmi ada gejala flu dan batuk juga. (Lupa sih ga ditanya sama guru atau petugas puskesmas apakah Fahmi juga demam?) Saya tahunya Fahmi pulang dan cerita kalau ia berkesempatan vaksin nanti kalau sudah sembuh.
Iseng saya tanya, jangan-jangan Fahmi bohong, mungkin kabur karena takut disuntik? Ia menggeleng pasti. Dan saya percaya meski Fahmi tipe anak pemalu, tapi kalau untuk pemeriksaan medis ia memang bukan tipe penakut.
Saat balita, setiap ada imunisasi di posyandu ia sendiri yang tidak pernah menangis saat disuntik. Kalau perlu surat sehat untuk keperluan mendaki gunung pun, ia tidak pernah bikin masalah. Dokter dan perawat yang menangani malah angkat jempol. Sering mendapat pujian kecil-kecil udah menaklukkan gunung api tertinggi di Indonesia. Pak dokter sendiri malah belum pernah, katanya.
Kalau mendapat obat resep dokter, selalu habis tepat waktu. Jadi saya percaya, Fahmi belum vaksin di sekolahnya karena ada pertimbangan dari petugasnya, bukan anak saya yang ngada-ngada. Apalagi memang wali kelasnya juga menginformasikan di group orang tua. Meski kabar anak SD meninggal setelah divaksin saya baca di detikNews dan baru saja saya baca juga di Kompas, tapi kami tidak menganggap vaksin penyebab kematian anak tersebut. Sebagai muslim kami percaya, kematian itu sudah takdir Allah.Jadi asli nih kami sekeluarga di tahun 2022 ini belum vaksin. Tapi sekali lagi kami katakan bukan karena kami anti vaksin lho ya...
Ada yang belum vaksin seperti keluarga kami juga? Yuk share di kolom komentar apa sebab dan gimana ceritanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar