Jumat, 31 Desember 2021

Persatean Kehujanan, Selera Kembali Mie Instan

 

Dari sore kemarin, Fahmi putra saya minta jalan jalan ke Cianjur kota atau main ke rumah sepupunya, Amanda dan Lutfi.

“Di sana kita bisa ikutan barbeque, pasti seru, Bu ...” katanya.

“Ayah masih repot ngurus pekerjaan. Lagian ini musim hujan, tuh setiap abis duhur langsung hujan turun kan? Kita bisa bikin barbeque juga kok di rumah. Lagian gak harus pas malam tahun baru saja...” Jawab saya.

“Jadi kapan bisa bikin sate sosis gitu? Enak tuh Bu. Ami suka...” Fahmi masih merengek.

“Nanti ya ibu beli dulu bahan-bahannya. Sosis, bakso, jagung, nanti dari pasar.” Sengaja bilang demikian, karena di tempat saya tinggal pasar hanya ada dua kali dalam seminggu yaitu Selasa dan Jumat. Tadi pagi juga emang sudah ke pasar, tapi tidak membeli semua itu. Hanya membeli bumbu dan sayuran hijau. Setidaknya kalau nunggu hari pasar Selasa, perayaan tahun baru sudah lewat empat hari.

Sebenarnya bukan saat malam tahun baru pun, saya sering ajak anak bikin barbeque ala-ala di belakang rumah atau di dak loteng yang belum selesai kami bangun.

Meski belum selesai karena kendala biaya, tapi ternyata dak loteng itu justru jadi area khusus untuk menikmati langit malam, menikmati indahnya bulan dan bintang. Sering buka tenda di atas dan masak-masak ala di gunung, sekadar mengobati perjalanan pendakian yang sudah selama pandemi kami tidak lagi melakukannya.

Dak loteng yang kalau siang buat jemuran pakaian, sore buat bermain badminton, dan malam jadi tempat nongkrong dadakan, hehehe ...

Menyadari itu Fahmi tidak rewel lagi minta ikut barbeque-an. Tapi malamnya setelah bubar pengajian, kebetulan tidak hujan, merengek lagi minta jalan-jalan. Mungkin mendengar deru sepeda motor yang memang sangat bising, jadi penasaran dan ingin keluar.

Ayahnya udah siap mengeluarkan motor. Rencana mau beli jajanan ke minimarket saja. Eh tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Motor pun kembali dimasukkan dan meski kecewa Fahmi setuju untuk batal keluar.

Saya lihat di kulkas masih ada sosis kecil yang biasa dibuat campuran nasi goreng, masih ada bakso kecil yang biasa dibuat campuran tumisan sayuran, dan ayam fillet yang tinggal setengahnya. Buru buru saya keluarkan. Saya iris dan ditusuk dengan tusuk sate yang memang masih ada stok banyak.

Lagi sibuk di dapur terdengar bunyi petasan terdengar dari luar, padahal masih jam 9 kurang.

"Eh ada petasan. Ami mau keluar ya, mau lihat petasan." Spontan Fahmi ingin membuka pintu.

"Jangan Mi, ngapain sih ikut-ikutan." Ayahnya melarang.

"Kenapa sih, semuanya ga boleh?” protes lah si anak.

Saya menarik nafas, lalu mencoba memanggil Fahmi dan mengatakan kalau ibu mau buat persatean. Gak bisa bagaimana, begitulah anak-anak, perlu nasehat berkali-kali supaya paham. Meski sering saya dan suami mengajarkan kepadanya, juga kepada santri mengaji bahwa kita tidak harus mengikuti kebiasaan orang lain, kita harus punya prinsip, jangan suka ikut-ikutan orang, dan masih banyak lainnya, tapi anak-anak tetaplah ingin dan penasaran. Apalagi keseruan perayaan malam tahun baru bisa kita bebas saksikan di televisi, media online, maupun media sosial.

"Kan cuma lihat Bu, emang salah?" Fahmi masih belum paham.

"Suatu hal itu belum tentu benar walaupun banyak orang yang melakukan. Kita harus pegang teguh prinsip "jangan jadi orang kebanyakan", Biar aja temen-temen bilang ga gaul, jangan terpengaruh." Saya menjelaskan panjang lebar pada anak yang berumur 9 tahun kurang tiga bulan ini.

Alhamdulillah seperti nya Fahmi mulai paham. Fahmi asyik bantu saya menyiapkan persatean dan dia tidak lagi tergiur untuk keluar rumah padahal bunyi petasan semakin riuh.

Tak lama setelah itu, ayahnya sudah membakar kayu di belakang rumah. Lumayan ada arang untuk sekali bakar persatean yang sebenarnya sudah matang karena sudah saya rebus lebih dahulu. Untung juga bikinnya sedikit jadi sekali bakar selesai habis semuanya. Saat mau mengangkat bakaran terakhir eh hujan lagi turun dengan derasnya. Ya ampun karena kami bikin bakaran di kebun belakang rumah tanpa atap jadinya ya basah... segera deh semuanya diangkut ke dalam. Beruntung semua telah tinggal makan.

Lirik jam, ya ternyata baru jam sepuluh lewat! Fahmi makan sambil nonton tv. Ayahnya saya tawari makan, bingung katanya mau makan apa. Padahal nasi dan lauknya masih ada.

“Bikin mie aja ya?” tawar saya.

“Ami juga mau mie goreng, Bu.” Tiba-tiba teriaknya.

Hahaha! Ini sih judulnya malam tahun baru kembali ke selera asal, mie instan, hahaha.... Abisnya lagi mengipasi ngageber ngahihidan persatean, ga tahunya tiba-tiba turun hujan. Jadinya pada kabur masuk rumah. Makan camilan sambil nonton TV, gak berasa kenyangnya, masih terasa lapar, akhirnya kembali ke selera asal, bikin mie instan.

Apapun, disyukuri aja. Alhamdulillah, malam tahun baru tetap nikmat tanpa tiup terompet, tanpa petasan, tanpa keramaian, apalagi dangdutan.

Bagaimana ceritanya malam tahun baru kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar