Rabu, 19 Mei 2021

HIMPAUDI Edukasi Peruntukkan Kental Manis : Begini Cara Cegah Stunting

Selama ini kita dikasih pemahaman kalau stunting (kekerdilan) sangat membahayakan tidak hanya bagi masa depan seseorang, tapi juga sekaligus masa depan bangsa dan negara. Tapi kita tidak diyakinkan, apakah stunting bisa dicegah atau disembuhkan?

Begini cara cegah stunting:

Selain orang tua, guru adalah pejuang yang harus memasukan nilai-nila gizi dan harus paham tentang konsep gizi. Karena tujuan pendidikan itu sendiri untuk mewujudkan anak sehat. Menurut Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, MSi. selaku ketua umum PP HIMPAUDI (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia) sosok tenaga pendidik alias guru bisa berperan dalam mencegah stunting dengan cara:
  1. Cek berat badan anak sehingga tumbuh kembangnya terkontrol. Cek berat badan anak minimal sebulan sekali. Stunting tidak terjadi dalam satu bulan. Jadi jika setiap bulan rutin dilakukan menimbang berat badan anak, maka akan segera diketahui mana anak yang mengalami kenaikan berat badan, mana yang berat badannya diam ditempat bahkan yang berat badannya menurun, semua bisa diketahui dengan cepat.
  2. Lakukan cek berat badan dengan benar. Selalu dibiasakan anak ditimbang menggunakan sepatu, pakaian, bahkan ikat pinggang. Seratus sampai lima ratus gram itu sangat mempengaruhi penilaian tumbuh kembang anak.
  3. Jelaskan kenapa anak harus cek berat badan. Pendidikan gizi bukan hanya kepentingan orang tua atau para guru, tapi juga kepentingan anak dan masa depannya. Anak harus tahu kenapa ia harus ditimbang badan. Jelaskan supaya pertumbuhannya bisa dipantau sehingga jika ditemukan masalah bisa segera diambil tindakan.
  4. Ajak anak me-list makanannya. Sudah terpenuhi kah gizi dan nutrisi anak? Contoh sarapan pagi anak, bubur dengan kerupuk dan goreng kentang. Itu terdiri dari karbohidrat dan karbohidrat. Mana asupan nutrisi protein dan vitaminnya? Jelaskan kepada anak bahwasanya ia kekurangan gizi nutrisi sumber protein dan vitamin pada sarapannya. Diharapkan anak bisa mengetahui menu lengkap minimal yang harus dikonsumsinya saat makan. Bagaimana cara menjelaskan terhadap anak, disini orang tua dan guru harus kreatif, jangan kalah oleh media yang instan “mendidik” anak tapi bisa melekat kuat dan diikuti anak dengan senang hati.
[caption id="attachment_10859" align="aligncenter" width="300"] Pembawa acara, moderator dan narasumber[/caption]

Begitulah, tidak ada kata cukup untuk belajar. Ya, sebagai orang tua dan tenaga pendidik memang seharusnya terus belajar demi bisa mengimbangi tumbuh kembang anak dan perkembangan jaman serta teknologi.

Belajar lagi, orang tua dan guru tidak hanya mengetahui kalau seribu hari pertama untuk anak itu waktu yang sangat penting bagi tumbuh kembang nya, tapi juga pengetahuan kalau kental manis itu bukan susu. Jadi jangan dibuat pengganti ASI untuk anak masa pertumbuhan 0-2 tahun.

Sebagaimana dikatakan Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja, SpA(K) dari IDAI, UKK Nutrisi Pediatri dan Penyakit Metabolik bahwasanya sekarang ini maraknya medsos membuat masyarakat bingung. Oleh karena itu perlu pengetahuan literasi bagi orang tua dan para guru.

Literasi bukan hanya melek baca. Tapi juga merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah tahu kental manis bukan susu, jangan sampai memberikannya kepada anak sebagai pengganti ASI. Gencar mensosialisasikannya terhadap masyarakat termasuk bagian dari literasi juga.

Waspada dengan Stunting!

Stunting tidak hanya bicara soal tumbuh tinggi anak yang terhambat, tapi juga terkait pertumbuhan sel sel otak yang terhambat dan itu sangat fatal dampaknya. Terjadi perbedaan beberapa point dalam tes IQ-nya antara anak stunting dengan yang tidak. Orang dengan riwayat kurang gizi dengan yang memiliki gizi normal saat dewasanya memiliki dampak yang sangat jauh perbedaannya.

Meski orangtuanya pendek, anak tetap bisa tumbuh tinggi. Supaya anak bisa optimal saat anak usia 0-2 tahun optimalkan nutrisi dan gizinya. Cara mengukur indikator stunting bisa dilihat dan diplot lewat kurva pertumbuhan pada buku KSM di setiap posyandu.

Stunting bukan faktor genetik. Masyarakat harus menghilangkan persepsi seperti itu. Tinggi seseorang bisa dioptimalkan dengan cara memenuhi kecukupan gizi dan nutrisi anak sebelum anak usia 2 tahun. Untuk melengkapi nutrisi anak jangan dengan kental manis. Kental manis tidak dianggap susu karena lebih banyak gulanya.

Karena itu permasalahan kecukupan gizi jangan sampai disepelekan. Terutama pada usia janin masih dalam rahim sampai anak usia 2 tahun.

Jangan dikira masyarakat ibukota dan sekitarnya yang dianggap berpendidikan lebih dibandingkan di daerah, lalu lebih aware terhadap peruntukan kental manis. Karena pada kenyataannya, hasil penelitian Tim Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) justru di perkampungan di daerah DKI, jajanan anak yang banyak disukai dan dikonsumsi adalah minuman berpemanis dengan pewarna yang bisa dikonsumsi 5-10 kali per hari.

Susu (formula) yang menyamai ASI dibuat harus memiliki kandungan seperti yang disampaikan badan dunia KODEK yaitu mengandung kalori, protein, gula nol sukrosa dan kebutuhan zat lain yang menunjang pertumbuhan anak.

Saat menemui anak masih konsumsi kental manis sebagai pengganti susu, bisa dibuktikan dengan cara kental manis itu dipanaskan/direbus saja nanti kental manis akan berubah jadi karamel. Jadi jelas itu bukan susu melainkan gula.

Susahnya, dalam benak masyarakat masih sangat terpatri jika kental manis itu menyehatkan. Karena itu ketika anak sudah mulai bisa jajan sendiri, kecanduan terhadap kental manis yang dianggap susu itu tertanam dari kebiasaan keluarga dan bahkan pihak sekolah.

Literasi gizi di negara kita untuk anak usia dini memang masih sangat kurang. Peran media dan iklan jaman dulu sudah lebih dahulu tertanam kuat dalam pola pikir mereka sehingga tidak mudah untuk mengurainya. Tugas kita sekarang untuk terus mensosialisasikan melalui berbagai media termasuk media sosial bahwasanya kental manis itu bukan susu untuk balita.

Sering minum kental manis mungkin kebutuhan gula dan air terpenuhi, tapi kebutuhan protein dan vitaminnya tidak. Kelebihan kandungan gula yang ada pada kenyal manis justru bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti diabetes, obesitas, dan lainnya.

Minum kental manis mungkin bisa gemuk. Tapi sehat itu bukan hanya berat badan yang baik. Tapi juga disertai jiwa yang bahagia. Karena sehat yang sesungguhnya adalah terdiri dari sehat fisik, sehat mental dan sehat spiritual.

Pada kondisi seperti inilah orang tua dan guru harus mengetahui dan memahami bagaimana membedakan kondisi anak yang sehat dan yang tidak.

Usia dini merupakan masa emas (golden period) yang perlu diperhatikan mengingat pada masa ini anak tengah mengalami pertumbuhan otak yang sangat pesat. Faktor penunjang pertumbuhan anak seperti asupan nutrisi dan pendidikan adalah hal yang sangat harus kita diperhatikan. Karena itu, dalam pendidikan anak usia dini, peran guru dan orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan masa depan anak. [caption id="attachment_10860" align="aligncenter" width="300"] HIMPAUDI Edukasi Peruntukkan Kental Manis : Begini Cara Cegah Stunting[/caption] Pemberian kental manis terlalu sering sangatlah tidak baik bagi kesehatan. Lalu bagaimana jika anak menyukai susu UHT? Untuk anak usia 2-5 tahun susu itu hanya asupan tambahan. Jumlahnya sekitar 30% saja. Jadi selama tumbuh kembang anak baik, susu UHT boleh-boleh saja diminum. Karena susu formula dan susu UHT yang membedakan adalah kandungan jat besinya.

Stunting fenomena keluarga kurang mampu?

Kondisi perekonomian yang kurang memang bisa menyebabkan tidak tercukupinya sumber nutrisi lengkap seperti karbohidrat, protein hewani dan nabati, vitamin dan zat lainnya. Tapi itu tidak bisa dijadikan patokan. Karena kecukupan nutrisi dan gizi anak pada usia 0-2 tahun bisa disupport oleh ASI yang dimiliki oleh setiap ibu sebagai anugerah dari Tuhan YME kepada seluruh ibu menyusui.

Bahkan penelitian Prof Dr Ir Netti menemukan ada keluarga menengah ke bawah yang didapati sehat, sementara keluarga menengah ke atas didapati sakit. Setelah diselidiki ternyata keluarga sederhana ini menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Sementara orang yang berkecukupan gaya hidupnya tidak sehat.

Nutrisi gizi dan nutrisi hati harus seimbang. Karena banyak orang kaya yg melimpah makanan namun tetap tidak sehat karena kekurangan nutrisi hati.

Nutrisi anak berkaitan erat dengan penerapan pola makan dan hidup bersih sehat sejak dini, untuk mencegah berbagai tantangan kesehatan bagi anak di masa depan. Disamping para orang tua, sekolah PAUD dan tenaga pendidiknya merupakan lingkungan terdekat anak untuk mengerti dan membiasakan menerapkan pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan bergizi dan perilaku hidup bersih sehat.

Karena itu, pemahaman guru mengenai asupan nutrisi yang baik untuk anak perlu terus ditingkatkan, salah satunya adalah melalui literasi gizi.

Literasi gizi memang jadi agenda prioritas nasional pemerintah untuk melakukan penurunan kasus stunting. Apabila masalah rendahnya literasi gizi (nutrition illiterate) masyarakat tidak ditempatkan sebagai prioritas, pencegahan stunting akan sulit terealisasi.

Diperlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam meningkatkan literasi di Indonesia. Tidak hanya tugas para orang tua, guru atau petugas kesehatan.

HIMPAUDI yang menaungi ribuan guru PAUD di seluruh Indonesia organisasi yang potensial untuk ambil bagian dalam peningkatan budaya literasi demi menciptakan masa depan generasi emas 2045 bangsa dan negara kita yang gemilang bebas dari stunting.

[caption id="attachment_10858" align="aligncenter" width="300"] HIMPAUDI Edukasi Peruntukkan Kental Manis. Rangkaian kegiatan yang masih berlangsung[/caption]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar