Kamis, 16 Juli 2020

Pengalaman Singgah dalam Kisaran Kematian

Pengalaman Singgah dalam Kisaran Kematian

Enam jam lalu, masih terasa bagaimana sakit dan sesaknya nafas ini. Semua beban berada di tenggorokan. Saya menjerit tapi tak bisa. Saya meronta-ronta, sampai suami terkejut, lalu berusaha membantu saya yang kalau dilihat orang pasti tampak sedang blingsatan, sambil menepuk tengkuk sendiri.

“Kenapa bisa begini?” Suami tak kalah sibuk membantu saya memegangi dan memijit tengkuk. Sementara saya hanya bisa melotot, meronta dan merasakan sesak tiada tara. Tangan sebelah tetap memukul tengkuk dan sebelah lagi berusaha mengorek tenggorokan.

“Inikah saatnya kematian?” Terlintas pikiran dan pertanyaan demikian disela-sela kepanikan.

Saya tuh sedang makan pagi. Nasi putih dengan balado kikil (kulit sapi) yang memang tebal dan sebagian alot. Perasaan saya sudah mengigit lebih kecil dan mengunyahnya seperti makan biasanya. Tapi entah kenapa, entah melamun atau bagaimana, saya tiba-tiba seperti tersedak.

Saya susah bernafas. Susah bicara dan nyeri tidak terkira di tenggorokan dan dada.

Akhirnya, kikil yang saya makan dan tersangkut di tenggorokan berhasil dikeluarkan. Saya mengap-mengap kehabisan nafas. Suami segera mendudukkan saya, lalu memberikan air minum.

Ya Tuhan, sekejap yang sudah memberikan jutaan pelajaran berat dalam hidup saya. Pikir saya sambil menyeka air mata yang terus meleleh membasahi pipi. Seperti itukah sakitnya, paniknya orang yang akan diambil nyawa? Pasti lebih dari itu sakit dan paniknya. Beruntung saya masih “selamat”.

Sekian lama kami hanya saling diam. Fahmi putra kami yang tak banyak mengerti kembali bermain. Ia hanya tahu kalau ibunya tersedak. Dan setelah penyebabnya berhasil dikeluarkan, auto sembuh, mungkin begitu pikirnya. Seperti sebuah drama saja.

Tapi bagi saya, kejadian tersebut seolah tamparan keras. Peringatan dini, untuk mempersiapkan menghadapi kematian (yang sesungguhnya) dan pastinya lebih menyakitkan, lebih menakutkan.

Kejadian seperti itu, seolah saya berada dalam ujung kehidupan, untuk sampai di titik nafas terakhir, sudah tiga kali saya rasakan. Pertama sekitar akhir tahun 2019.

Pengalamannya saya ceritakan disini

Ketika saya sakit gatal, lalu minum obat dan entah makan apa saya lupa. Tapi saya ingat dada saya sangat sakit. Sesak, dan saya hanya bisa merebahkan badan dengan pasrah. Saat itu anak dan suami sedang berada di sekolah. Saya sendirian di rumah. Merasakan sakit di dada, nafas yang sangat susah, penglihatan kabur. Saya hanya bisa diam sendirian menahan kesakitan. Bergidik, hanya itu yang bisa saya ingat. Andai kematian saya itu datang saat itu juga, entah bagaimana jadinya keluarga kami...

Kejadian kedua, belum ada sebulan lalu. Malam hari, setelah isya saya merasakan nyeri di dada. Nyeri yang lama-lama tidak biasa. Segera saya memberitahukan suami. Sambil menahan nyeri saya terus dzikir.

Semakin lama, nyeri terasa sangat sekali. Seolah isi dada ini diambil paksa. Saya hanya bisa menangis merasakannya. Suami terus membantu saya meski belakangan ia bilang entah harus bagaimana selain bantu doa.

Tapi memang hanya doa yang kami bisa. Sampai jam tiga dini hari, Alhamdulillah nyeri sudah mereda. Meninggalkan ketakutan yang kembali saya rasakan.

“Yah, kalau tahu bagaimana sakitnya orang yang dicabut nyawanya, mungkin seperti itu bahkan lebih rasanya. Gak kebayang ya kalau tadi itu Okti meninggal dunia...”

“Hust! Jangan ngomong sembarangan!” Suami langsung memotong pembicaraan saya. Saya pun langsung terdiam. Ya, saya sendiri maupun suami pastinya memang belum siap. Jauuh. Meksi kami percaya, kematian itu bisa kapan dan dimana saja mendatangi kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar