Senin, 20 Juli 2020

New Normal Versi Pendaki

 

New Normal Versi Pendaki

https://www.instagram.com/p/BhwLVFOho06/?igshid=1h93mjhw8cp4x

Udah pada piknik? Udah bebas kelayapan? Rang-orang udah pada bikin macet jalanan lagi. Kamu berkontribusi kah?

Ketika ramai membicarakan versi kenormalan baru, saya sendiri merasa tidak ada pengaruh dalam aktivitas di rumah. Secara saat masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saja, kami merasakan tidak banyak perubahan, kecuali anak dan suami tidak ke sekolah.

Kami tinggal di Cianjur Selatan. Alhamdulillah, wilayah zona hijau. Ke pasar, ibadah ke masjid, tadarusan saat bulan puasa, pengajian anak-anak, ngabuburit dll masih bisa berjalan seperti biasa. Meski tentu saja saya menerapkan aturan ketat kepada keluarga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Menjaga lebih baik daripada mengobati.

Jadi saat masa new normal diberlakukan merasa tidak banyak berubah lagi. Ke pasar tetap seminggu dua kali, karena pasarnya di kampung kami ini memang ada hanya pada hari Selasa dan Jumat saja. Mudik ke orang tua juga masih bisa setiap saat, wong lokasi cuma beda kecamatan, mirip kaya mau ke pasar. Alhamdulillah.

Apalagi hampir bersamaan dengan pandemi, saya kena sakit dan tidak bisa banyak aktivitas. Protokol kesehatan di rumah dan keluarga pun semaksimal mungkin kami lakukan dengan disiplin.

Yang bikin beda ketika semua jadwal pendakian yang sudah dibuat sejak tahun lalu, untuk tahun 2020 ini, hampir semua dibatalkan. Yang terlihat sangat kecewa, Fahmi putra kami. Namanya juga anak-anak. Merajuk pastinya. Dengan penjelasan yang dimengerti secara terus-menerus, akhirnya anak juga paham. Pandemi di ini bukan hal sepele.

https://www.instagram.com/p/B2wL4KSgWlU/?igshid=fbs5sdv4dexh

Bikin greget eh geram kali ya, ketika mendapat informasi dari group KPGI (Komunitas Pecinta Gunung Indonesia) kalau dalam masa PSBB ternyata masih saja ada orang yang nekat mendaki. Padahal jelas ada larangannya.

Bulan lalu, lima orang pendaki ilegal, yang nekat mendaki Gunung Gede Pangrango saat PSBB karena pandemi Corona berhasil diamankan. Secara pendakian Gunung Gede Pangrango kan sudah ditutup sejak April 2020, bersamaan dengan ditutupnya destinasi wisata akibat pandemi oleh pemerintah. Biasanya kan pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup setiap 31 Desember hingga 31 Maret, dengan tujuan untuk mengembalikan ekosistem setelah selama beberapa bulan dipadati pengunjung.

Penutupan kali ini jelas karena pandemi Corona. Tidak disebutkan sih sampai kapan penutupan dilakukan, pastinya melihat kondisi dan situasi terkini perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Kita yakin kalau kondisi membaik pasti akan segera dibuka. Tinggal sabar saja.

https://www.instagram.com/p/B1-nhfWgdN_/?igshid=12tbhh3xqvwb3

Tapi masa new normal diterapkan, beberapa gunung jalur pendakiannya mulai ada yang dibuka, banyak orang yang menyalahgunakan pengertian new normal ini. Pemerintah membebaskan dengan syarat protokol kesehatan, namun bagi mereka, diartikan bebas dengan kebebasan sebebas-bebasnya. Yang terjadi, kekhawatiran tingkat tinggi buat saya mah. Sementara mereka, sedikit pun tidak mengindahkan bagaimana jika covid-19 itu singgah dalam dirinya.

Saya dan suami sepakat dengan beberapa komunitas gabungan, yang memilih menahan diri untuk tidak mendaki, sampai kondisi benar-benar kondusif. Dikejar ataupun tidak, gunung tidak akan lari. Tapi kalau kita sudah kena sakit, bagaimana mau bisa mendaki?

Kalaupun ada kepentingan dan diharuskan melakukan pendakian, protokol new normal wajib dijalankan. Standar Operasional Prosedural (SOP) atau protokol pendakian dan aktivitas wisata alam dalam menghadapi masa new normal jangan diremehkan.

Setidaknya, siapkan bekal diri untuk protokol kesehatan standar seperti penanganan kesehatan, penyediaan disinfektan, penggunaan masker, hand sanitizer, dan protokol standar lainnya.

Satu lagi yang jangan sampai ditinggalkan adalah pastikan diri kita sudah terintegrasi dengan asuransi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di gunung, tapi kita harus menjamin bukan hanya kenyamanan tapi juga keamanan. Kalau terjadi apa-apa setidaknya kalau ada asuransi itu bisa sedikit meng-cover.

Pun jika pengelola gunung dan taman nasional meminta syarat setiap pendaki wajib menunjukan hasil tes PCR atau tes swab mau tidak mau ya penuhi. Bukankah semua itu untuk keamanan kita juga? Meski kalau dilihat dari segi biaya, memang cukup mahal buat kelas menengah ke bawah seperti kami.

Lepas dari semua itu, karena sekarang setiap mendaki saya selalu membawa anak, naluri saya sebagai seorang ibu, tetap tidak menginginkan dulu melakukan pendakian. Kami yakin semua ini membawa hikmah. Apa yang kita kira baik, mungkin justru buruk menurut Sang Pencipta. Tapi sebaliknya, meski menurut kita buruk, tapi Tuhan Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Dengan penjelasan yang dimengerti secara terus-menerus, akhirnya Fahmi pun paham. Pandemi di ini bukan hal sepele. Sabar saja, sampai semuanya baik maksimal. Kita dukung program pemerintah, supaya penyebaran semakin minimal, hingga Indonesia bebas covid-19 dan pendakian ataupun aktivitas lainnya bisa dilakukan secara beneran normal.

Bantu doa juga ya, Sob...

Aamiin

.

https://www.instagram.com/p/BmpcPSmneK-/?igshid=zqczai407nuh

https://www.instagram.com/p/B_NHBWTAkgG/?igshid=2vs9130p0zsz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar