Jumat, 10 Januari 2020

Rahasia Bahagia Melihat Keberhasilan Pesaing

 Rahasia Bahagia Melihat Keberhasilan Pesaing

 

Bersyukur jadi Orang Sunda. Setiap ada musibah yang menimpa, selalu saja dikatakan (masih) beruntung.

Rumah saya kebobolan maling, sedih dan kecewa berat dong. Orang-orang masih dengan ucapan bela sungkawa tapi diiringi kalimat: beruntung hanya ((hanya)) kebobolan maling, tuh Bu Dewi mah rumahnya kebakaran. Semua hangus jadi abu. Semuanya tidak tersisa...

Suami kecelakaan dan tangan kirinya mengalami patah tulang. Kami berobat ke sana ke mari selama berbulan-bulan demi suami bisa sembuh seperti sedia kala secepatnya. Secara sebagai pekerja tentunya ia harus bisa mengendarai sepeda motor (lagi) supaya bisa berangkat pulang pergi ke sekolah dimana ia mengabdi untuk mengajar.

Saat berobat terapi ke ahli tulang di Sukabumi, duh ngeri melihat mereka yang sudah dirawat lebih dahulu di sana. Ada yang karena kecelakaan, karena sakit dan sebatas pengobatan umum. Eh, masih ada yang bilang "Beruntung suami ibu mah hanya ((hanya)) patah tangan. Ini suami saya sudah tulang hidung dan geraham retak, tangan patah, eh ditambah kaki kiri terkilir dan lepas dari engselnya. Boro-boro jalan, makan saja pakai selang." Kata seorang istri yang sama seperti saya mengantar suaminya berobat.

Seminggu kemudian seisi rumah habis diambil pencuri. Mulai dari kompor sama gasnya, termasuk ketel buat masak airnya juga. Pakaian, alas kaki, rice cooker, kipas angin, setrika uap, mainan Fahmi, blender, termos, sampai jemuran dan payung raib dibawanya juga. Rumah beneran dijarah. Alhamdulillah, ibu saya bilang kami masih beruntung ((masih)) hanya benda yang tiada. Itu sekadar titipan. Coba keluarga tetangga, suami dan anaknya meninggalkan untuk selama-lamanya karena kecelakaan.

Begitulah urang Sunda, sepedih apapun duka, sesakit apapun celaka, tetap saja ada celah untuk mengambil keuntungan. Hingga semacam peribahasa muncul “Bakat urang Sunda mah sagala untung...” (Orang Sunda apa-apa masih dibilang beruntung) meski saya yakin sebenarnya kondisi itu bukan hanya “dimiliki” oleh orang Sunda saja, melainkan siapapun bisa mengalami dan mengkondisikan nya.

Ternyata membandingkan kelebihan atau keunggulan kondisi kita dengan orang lain yang tidak seberuntung kita, dapat menghasilkan kesyukuran secara diam-diam.

Beda lagi dengan jika kita membandingkan kondisi sebaliknya, kekurangan kita dengan kelebihan orang lain, mungkin bukan kesyukuran yang kita dapatkan, melainkan rasa iri atau menyesalkan kenapa kita begini sementara mereka begitu...

Rasa syukur yang muncul secara ikhlas dari dalam hati akan dibalas Tuhan dengan kenikmatan yang berlebih. Itu sudah dijanjikan Nya. Sebagai ciptaan Nya tentu saja saya tidak meragukannya lagi.

Kembali kepada semacam pepatah di daerah saya di atas tadi, bagi orang Sunda apa saja kondisinya tetap masih dibilang untung, secara tidak langsung hal itu adalah bentuk sebuah ajaran para orang tua kepada anak-anaknya untuk tetap terus bisa menjaga diri, mensyukuri atas apa yang digariskan Tuhan kepada semua makhluk.

Sebesar apapun nikmat yang kita peroleh kalau disikapi dengan ketidaksyukuran maka akan terasa kecil saja. Apalagi kalau dibandingkan dengan pencapaian pesaing atau tetangga. Lalu dibarengi rasa iri yang timbul, wah bukan hanya kebakaran jenggot, sudah kiamat saja itu mah jadinya.

Namun sebaliknya sekecil apapun nikmat yang kita terima meski melihat pesaing atau tetangga gemah ripah loh jinawi, subur makmur, laris manis tanjung kimpul, jika tertanam rasa syukur dalam diri yang ada jiwa adem ayem tentram. Malah justru mendukung dengan harapan keberhasilan atau kenikmatan orang lain itu bisa membawa berkah bagi orang lain di sekelilingnya.

Tidak ada benteng yang kokoh untuk menjaga diri dari silaunya dunia ini, kecuali hanya dengan rasa syukur. Itulah tips sejatinya tips. Rahasianya syukur nikmat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar