Selasa, 16 Juli 2019

Rekam Jejak Pekerjaan: Meloncat untuk Menetap

Rekam Jejak Pekerjaan: Meloncat untuk Menetap

Jadi ibu rumah tangga itu memang ngeri-ngeri sedap. Ngeri dengan segala konsekwensinya, baik itu dari segi pendapatan, segi pengalaman, maupun segi kepribadian.

Sedapnya jika kembali kepada keyakinan bahwa sebagai istri sekaligus ibu yang baik dalam arti taat kepada kepala rumah tangga itu niscaya surga menjadi jaminan, dari pintu mana pun ia bisa leluasa masuk.

Pilihan sebagai ibu bekerja ataupun ibu rumah tangga saja, tidak ada yang salah. Semua kondisi dan keadaan setiap orang jelas berbeda. Tidak mungkin pula biaya hidup seseorang bakal ditanggung oleh orang lain. Semua kembali kepada pilihan serta konsekwensinya masing-masing.

Kondisi krisis moneter di negara kita tahun 1998-1999 membuat saya tidak punya pilihan untuk melanjutkan sekolah. Untuk bekerja pun sangat susah. Bagaimana anak lulusan kemarin sore mau bisa dapat kerja sementara para pekerja yang sudah mapan saja banyak yang di-PHK.

Kondisi negara semakin kacau karena isu sara serta penjarahan terjadi dimana-mana. Sementara kebutuhan hidup dan biaya makan tidak bisa ditangguhkan. Berhutang saja ada batasnya. Tidak punya celah untuk hidup lebih sejahtera, rasanya.

Bekerja ke luar negeri jadi TKI menjadi pilihan saya. Keberhasilan meyakinkan orang tua dan diri sendiri kalau saya yakin mampu akan kembali dengan keberhasilan aalah sebuah kemenangan di awal yang secara tersendiri sangat saya apresiasi. Akhirnya saya bisa mengalahkan ketakutan dan rasa ragu.

Bekerja di Singapura, di Hong Kong dan Taiwan jadi pilihan saya. Pasti ada suka duka. Tapi semua itu justru jadi bumbu kehidupan yang semakin menempa dan mendewasakan saya. Waktu jadi sesuatu yang sangat berharga. Didikan majikan yang sangat disiplin serta loyal secara tidak langsung membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting. Menghadapi masalah demi masalah, hingga nyawa taruhannya sendiri, keluarga di tanah air tidak ada yang tahu.

Kesempatan yang ada di depan mata tidak saya sia-siakan. Saya tahu di luar sana masih banyak yang bernasib jauh di depan saya. Saya harus berani berkompetisi dengan mereka. Termasuk orang lokal.

Tawaran kerja freelance saya ambil daripada liburan dipakai gogoleran di taman, atau pacaran yang faktanya menghabiskan duit tabungan. Saya harus bisa memiliki kelebihan jika kelak kembali ke kampung halaman. Itu niat saya. Seenak-enaknya bekerja di luar negeri tetap semua itu hanya batu loncatan. Tidak mungkin selamanya saya akan jadi TKI. Suatu saat saya akan menua dan pulang.

Perusahaan tempat saya magang menawarkan pekerjaan tetap, bersamaan dengan waktu saya harus kembali ke tanah air. Hasil negoisasi disepakati jika saya tetap diangkat jadi karyawan hanya untuk biro Indonesia, dengan gaji UMR setempat, pastinya. Deal.

Berbekal kemampuan selama magang dan kepercayaan serta komitmen bersama Alhamdulillah hingga saat ini saya tetap menjadi karyawan meski stay di rumah. Menjadi ibu rumah tangga bekerja meski nyatanya anak suami dan segala tetek bengeknya tetap bisa saya urus dan saya pantau setiap saatnya.

Tidak mudah bagi saya untuk konsisten di pekerjaan ini. Saya harus menguatkan hati tidak menerima tawaran kerja sama dari perusahaan lain sejenis atas rekomendasi majikan dulu saat bekerja di luar negeri.

Dengan syukur dan ikhlas saya memantapkan hati tidak akan berpindah profesi, karena menurut saya apapun dan berapa pun penghasilan nya jika tidak disertai syukur tetap akan selalu merasa kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar