Manfaat dan Keberkahan: Kemampuan yang saya jual kepada perusahaan
Bulan ini saya belum menerima gaji sebagai hak saya. Sedih, tapi saya berusaha tenang dan diam saja dulu. Saya tahu kondisi perusahaan sedang kerepotan menggelar hajat tahunan yang bisa dibilang sudah jadi acara rutin.Lah apa urusannya sama gaji karyawan? Bukankah sebuah perusahaan sudah ada bagian masing-masing untuk mengurus dan melancarkan segala urusan? Itulah kenapa saya diam. Karena saya tahu, tahu benar bagaimana perusahaan tempat saya bekerja. Mengetahui luar dalam bagaimana kondisi management perusahaan tempat saya bernaung ini. Bisa dibilang saya tahu betul sejak perusahaan ini lahir, merangkak, berjalan hingga berlari dan kini setelah memasuki satu dasawarsa saya menjadi karyawan tetapnya, saya bisa melihat bagaimana kondisi semuanya.
Saya tahu diri. Mungkin begitulah tepatnya. Saya merasa apalah dan siapalah saya, jika memang harus terlambat menerima gaji satu bulan saja kok masa iya harus berkoar-koar? Padahal sebelumnya saya sudah mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya saya dapat.
Sejak tahun 2008 saya mulai mengenal perusahaan dan personil di dalamnya. Entah kenapa saya sudah merasa cocok dan percaya saja dengan managemen sekaligus tawaran kerjasamanya. Saya yang bukan siapa-siapa hanya bisa mengikuti kata hati, atas doa-doa yang selama ini selalu saya panjatkan. Itulah landasan saya sekuat-kuatnya.
Management dan personil perusahaan mulai sering berubah datang dan pergi silih berganti. Sementara saya tetap di tempat. Bukan saya tidak ingin lebih, tapi saya sudah merasa cukup. Itu saja.
Beberapa kali saya merasa hak saya tidak tepat waktu diterima. Tapi balasannya, lebih dari apa yang saya perkirakan apa yang tidak mungkin saya terima ternyata saya mendapatkan nya malah selalu lebih. Karena itu saya merasa diam lebih baik.
Selama bekerja dan mengabdi jujur saja tidak banyak yang saya lakukan apalagi korbankan. Jikalau pun ada, mungkin hanya komitmen serta kesetiaan saya kepada pekerjaan dan perusahaan. Kenapa bisa bilang begitu? Ya karena karyawan lain datang dan pergi silih berganti mereka seolah membuat pekerjanya dan perusahaan ini sebagai batu loncatan saja. Menjadi tumpuan sesaat sebelum mendapatkan tempat dan posisi yang diinginkan. Sementara saya? Entah karena saya sudah merasa cukup itu tadi, maka saya diam saja. Melakukan apa yang seharusnya saya kerjakan, tanpa melihat ke sisi, depan ataupun belakang.
Saya hanya fokus kepada pekerjaan. Saya sudah merasa lebih dari sekadar dibantu atas pekerjaan ini, dimana karenanya saya bisa terus melangsungkan kehidupan di kampung halaman. Bisa membiayai orang tua dan keluarga. Bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan itu bagi saya sudah lebih dari cukup. Saya sangat mensyukuri semua itu. Lalu apa lagi yang saya akan cari?
Ramadhan kemarin saya sudah ikhlas ketika beberapa hari lagi menuju lebaran saya tidak juga kunjung menerima uang THR. Saat itu saya diam. Ikhlas, sambil tetap setia, dalam arti tetap bekerja, menjalankan tugas. Ada atau tidak ada THR kewajiban saya harus saya lakukan.
Balasannya adalah permintaan maaf dari perusahaan, yang memang sedang keteteran karena bagian HRD di ibukota mengundurkan diri. Saya memahami itu. Alhamdulillah, gaji menerima, THR tidak kufang suatu apa, malah justru mendapat dua kali lipat sebagai santunan untuk anak mengaji, lansia serta anak yatim yang kami santuni atas nama perusahaan. Coba, nikmat man lagi yang akan saya dustakan?
Karena bukan semata demi penghasilan saya melakukan kewajiban tetapi lebih kepada manfaat dan keberkahan. Mungkin itu saja yang bisa saya jadikan trik dalam menjual kemampuan kepada perusahaan tempat saya bekerja. Wallahualam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar